Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
204. Hanya Sebuah Hadiah


__ADS_3

Esok pagi menjelang, sepulang jamaah subuh, ia diminta ke rumah Pak Haji Imron sebentar.


Pak Haji Imron mendapatkan amanah dari keluarga Pak Sahudi untuk bisa disampaikan kepada Ridwan.


"Duduk sebentar Nak, saya ganti baju dulu."


Kata Pak Haji Imron mempersilahkan Ridwan duduk di ruang tamu rumahnya.


Rumah yang kelihatan sekali jika Pak Haji Imron ini telah jadi orang kaya sangat lama, karena perabotan di rumahnya semua adalah perabotan mahal di tahun 80'an.


Ridwan duduk di ruang tamu, menurut menunggu Pak Haji Imron yang tengah salin, tentu karena memang sudah seharusnya baju untuk sholat dipisahkan dengan baju untuk sehari-hari.


Tak butuh waktu lama, Pak Haji Imron pun kembali ke ruang tamu, tampak Asisten Rumah Tangga Pak Haji Imron juga muncul membawakan satu nampan berisi suguhan dua cangkir wedang teh kebul-kebul dan satu piring gorengan serta satu piring lagi donat kentang dengan taburan gula halus.


"Monggo Pak Ustadz disambi."


Kata si asisten rumah tangga ramah, Ridwan mengangguk seraya tersenyum.


Pak Haji Imron duduk di kursi yang bersebrangan dengan Ridwan, dibatasi meja yang di mana di atasnya kini terdapat suguhan yang siap mengisi perut mereka yang kosong.


"Monggo Nak, diminum dulu."


Ujar Pak Haji Imron pada Ridwan, sementara ia sendiri terlihat memangku satu map plastik di mana di dalamnya seperti ada beberapa berkas penting dan juga satu bendel kunci.


Ridwan menganggukkan kepalanya santun, lantas meraih cangkir berisi wedang teh nya untuk kemudian ia nikmati.


"Begini Nak."


Pak Haji Imron memulai pembicaraan mereka yang tampaknya akan cukup panjang dan serius.


Ridwan mengangguk sambil meletakkan cangkir wedang teh nya, dan kemudian memilih fokus mendengarkan Pak Haji Imron.


"Saya ini juga kaget, karena suruhan orang keluarga Pak Sahudi tiba-tiba datang, katanya ingin saya saja yang menyampaikan amanah ini, selain pastinya karena ia mungkin pekewuh pada panjenengan sebagai orang muda yang dirasanya sudah alim, terus juga menganggap saya ini orang tua yang bisa mewakili mereka untuk menyampaikan amanah ini."


Tutur Pak Haji Imron.

__ADS_1


Ridwan mantuk-mantuk.


Lalu...


Tampak Pak Haji Imron membuka map di depannya, ia mengeluarkan dua fotokopi sertifikat tanah, dan juga beberapa lembar SPPT PBB yang semuanya sepertinya tahun terbaru.


Selain itu, ada satu BPKB, satu STNK dan juga satu bendel kunci.


"Ini semua katanya hadiah untuk panjenengan Nak, mohon diterima, termasuk ini...,"


Pak Haji Imron meletakkan satu kartu ATM ke atas meja di hadapan Ridwan.


Ridwan mengerutkan kening,


"Pripun Pak Haji? Saya kok takut salah faham."


Kata Ridwan.


Pak Haji Imron tersenyum,


Ridwan ternganga, menatap semua yang terhampar di atas meja di depannya itu tentu saja seperti sebuah keanehan di pagi hari.


"Mereka anak-anak Pak Sahudi juga ingin tahun depan mengajak Nak Ridwan dan saya umroh, mereka sudah merasa Nak Ridwan adalah bagian dari keluarga mereka."


Mendengar penuturan Pak Haji Imron, tentu saja Ridwan merasa seperti tengah bermimpi.


Ini apa sebetulnya ya Allah? Ridwan antara bahagia namun juga sekaligus takut. Ya, takut jika semua ini bukan nikmat, tapi justeru sebuah istidraj.


"Ini adalah sertifikat rumah, ada sebuah rumah peninggalan Pak Sahudi yang terbengkalai, dan sudah hampir satu tahun tidak ada yang menempati, mereka ingin menghadiahkan ini pada Nak Ridwan setelah nanti menikah bisa tinggal di sana. Hanya saja ini belum balik nama pastinya, jadi nanti untuk proses lainnya bisa kita bicarakan lagi."


Pak Haji Imron meletakkan satu fotokopi sertifikat di dekat kartu ATM.


Lalu...


"Yang ini adalah sertifikat untuk sawah yang diberikan untuk yayasan, ini diberikan pada Nak Ridwan karena semua pengelolaan akan diserahkan seutuhnya pada panjenengan."

__ADS_1


Pak Haji Imron kembali meletakkan satu sertifikat tanah pertanian di atas sertifikat rumah.


Lalu...


"Ini SPPT PBB tanah-tanah di beberapa titik, mereka juga menyerahkan pada panjenengan untuk dijaga apabila kelak yayasan bisa berkembang pesat, di tanah-tanah itu agar bisa dibangun pondok, masjid atau apapun yang sekiranya bisa bermanfaat untuk umat dan juga bisa menjadi ladang amal yang tak terputus untuk almarhum."


"MasyaAllah..."


Ridwan menggeleng-gelengkan kepalanya,


"Dan ini, adalah satu buah mobil model minibus yang masih sangat layak pakai, ini adalah mobil paling baru yang dipakai almarhum, anak-anak almarhum tidak ada yang memakainya, sementara menjual pun pastinya mereka tidak ada niat ke arah sana, jadi mohon Nak Ridwan menerimanya agar mobil itu bisa digunakan dengan baik, dirawat dengan baik."


Ridwan tampak kedua matanya berkaca-kaca, ia bingung harus bersyukur atau justeru beristighfar karena dunia menimpanya saat ini.


"Aduh saya bingung sekali ini Pak Haji,"


Ridwan menatap Pak Haji Imron yang tersenyum,


"Terimalah nak, anggap ini rezeki langsung dari Allah, mungkin memang berat karena di sana juga ada amanah, tapi bukankah sejatinya kekayaan mau dari manapun datangnya juga adalah amanah?"


Pak Haji Imron menatap Ridwan yang terlihat menitikkan air mata karena semua yang kini ada di hadapannya adalah dunia yang seolah direndahkan di depannya.


"Sertifikat asli nanti akan diserahkan jika Nak Ridwan sudah bertemu dengan notaris untuk menandatangani surat hibah, jadi semua sudah disiapkan, hari ini sepulang Nak Ridwan dari mengajar di sekolah, mohon waktunya untuk datang ke tempat notaris yang sudah ditunjuk keluarga Pak Sahudi."


Ridwan sejenak terdiam, mencoba menenangkan dirinya agar tidak sampai terlalu senang mendapatkan dunia.


Tidak ...


Jangan...


Lalu, setelah beberapa menit mencoba menenangkan diri, akhirnya Ridwan pun mengangguk.


"Bismillah... inshaAllah Pak Haji."


Putus Ridwan akhirnya menerima seluruh hadiah dari keluarga Pak Sahudi.

__ADS_1


**------------**


__ADS_2