
Ridwan berbaring di atas kasur tempat tidurnya yang beralaskan sprei batik Pekalongan yang terasa adem di kulit.
Kipas angin kecil yang menempel di dinding ruangan terlihat berputar dengan suaranya yang khas mengisi keheningan malam.
Selepas menyempatkan diri untuk berdzikir sebentar dengan tasbihnya, Ridwan meraih hp untuk menyetel alarm.
Sebetulnya, untuk beberapa orang yang sudah terbiasa bangun malam untuk sholat, entah kenapa biasanya akan terbangun secara otomatis.
Namun, Ridwan selalu merasa bahwa sebagai manusia tetaplah ikhtiar adalah kewajiban.
Setelah menyetel alarm, biasanya Ridwan akan meletakkannya di atas bantal yang berada di sampingnya, tapi kali ini entah kenapa ia tertarik melihat aplikasi chat nya manakala tiba-tiba ia teringat sosok Anisa.
Ya Anisa...
Gadis itu, gadis pertama yang dijadikan oleh Allah mampu mengetuk pintu hatinya, yang namanya kemudian bersemayam di dalamnya, dan kemudian menjelma sebagai ujian bagi Ridwan untuk menjaga diri dari perasaan, pikiran dan imajinasi kotor yang pastinya tidak diridhoi oleh Allah.
Ridwan menghela nafas, teringat ia akan sosok Anisa yang menangis tersedu menceritakan kisahnya bersama Uminya.
Bagaimana ia menyesali kepergian Uminya yang ia kemudian merasa bertanggungjawab hingga selalu dihantui rasa bersalah.
Mendengarkan semua kisah Anisa tentang kepergian Uminya, sungguh membuat hati Ridwan sebagai laki-laki yang mencintainya tentu ingin sekali bisa menguatkan Anisa.
Ridwan merasa iba sekaligus miris dengan sosok Anisa yang sepertinya begitu lemah secara jiwa.
Sungguh kasihan manusia yang hidup dalam perasaan yang demikian, ia tentu butuh seseorang yang bisa membimbingnya melihat karunia Allah sesungguhnya sangat besar, mengajaknya berhenti fokus pada hal yang membuatnya sedih.
Ridwan ingin sekali bisa mengimani takdir baik dan takdir buruk, menerima takdir baik dan takdir buruk, hingga ia pelahan akan bisa ikhlas dan bisa benar-benar hidup sebagai manusia yang dicintai Allah.
Ya tentu saja, Ridwan juga merasa bahwa dirinya pun masih dalam tahap belajar, namun inshaAllah, ia merasa cukup mampu untuk menemani Anisa belajar meraih semuanya.
Ridwan juga tahu, bahwa perempuan memang rentan lemah, itulah sebab perempuan harusnya menjadi mahluk yang dijaga dengan baik oleh seorang laki-laki.
Ridwan menghela nafas, jarinya mulai iseng melihat status teman-temannya. Iseng mengisi waktu, Ridwan melihat semua status yang ada, tak terkecuali akhirnya milik Anisa.
Status Anisa mengunggah masak bersama seorang Ibu yang tak begitu asing bagi Ridwan tapi entah pernah Ridwan kenal atau lihat di mana.
Anisa mengunggah videonya memasak bersama seorang Ibu dengan senyuman yang sudah lebih cerah dibandingkan sebelumnya saat masih berbincang dengan Ridwan.
"Hari ini berkunjung ke tempat Ibu ku yang cantik, baik dan pandai memasak."
__ADS_1
Begitu kata Anisa.
Unggahan berikutnya adalah foto semua lauk yang tersaji di atas meja, dengan caption, Alhamdulillah sudah siap.
Ridwan tersenyum tanpa sadar, saat entah kenapa pikirannya malah jadi melompat membayangkan masa depan bersama Anisa yang akan masak untuk dirinya dan untuk anak-anak mereka.
Ridwan kemudian entah kenapa jarinya seperti bergerak sendiri memberikan komentar pada foto lauk di meja makan Anisa.
"Alhamdulillah."
Hanya itu, ya hanya itu...
**---------------**
"Alhamdulillah."
Anisa membaca tulisan Ridwan yang mengomentari statusnya siang tadi.
Status iseng saja, mengunggah foto masakan Ibunya Iis dan juga satu masakan buatannya.
Sungguh...
Anisa sejenak merasakan detak jantung nya menjadi lebih cepat dari biasanya.
Ia begitu tak menyangka jika Ridwan akan mengirimkan chat padanya.
Anisa lantas mengetik balasan, sambil matanya melihat pada keterangan di bawah nama Ridwan di mana tulisannya sedang mengetik.
Ridwan rupanya akan mengirimkan pesan baru lagi. Begitu pikir Anisa.
Anisa mengetik pesan untuk Ridwan, tapi selalu merasa tidak pantas, maka dia bolak balik menghapusnya.
"Belum tidur kah?"
Ah tidak, Anisa menghapusnya, lalu mengetik lagi,
"Hehe... Iya itu aku sedang belajar masak."
Ah apa ini, siapa yang tanya? Batin Anisa sambil menghapus pesannya lagi,
__ADS_1
Anisa mengetik lagi,
"Besok mengajar Suci ngaji lagi kan?"
Anisa menggelengkan kepalanya,
Aah kelihatan sekali ingin bertemu lagi, memalukan. Batin Anisa pula.
Anisa pun kembali menghapusnya.
Ia mengetik lagi dan berakhir dengan menghapusnya lagi.
Kelihatan sekali bahwa ini adalah kali pertama Anisa berkirim pesan dengan laki-laki yang ia sukai, ia begitu gugup dan bingung harus mengetik apa.
Namun, nyatanya tak berbeda dengan Anisa, di kamarnya Ridwan juga sama saja.
Sejak tadi ia terlihat sedang mengetik, juga karena bolak balik ngetik dan bolak balik dihapus.
"Anisa belum tidur?"
Ridwan menghapus pesan itu karena merasa tak sopan.
Mereka belum seberapa dekat, kenapa harus bertanya ia sudah tidur atau belum.
Ridwan kemudian mengetik lagi,
"Jangan lupa sholat sebelum tidur."
Ah apa ini?
Ridwan kembali menghapus pesan itu karena dianggap terlalu berlebihan belum apa-apa ia sudah mengingatkan Anisa untuk sholat dulu sebelum tidur.
Maka Ridwan menghapusnya dan mengganti dengan pesan lain,
"Anisa pandai memasak rupanya."
Ya Allah, apa pula ini? Benar-benar seperti perayu. Astaghfirullah. Ridwan menghapusnya.
Dan begitulah, kedua insan itu terus menerus mengetik dan menghapus, mereka seolah akan mengirim pesan sepanjang surat karena terus sedang mengetik, tapi pesannya tak sampai-sampai.
__ADS_1
**-----------------**