
"Nah anak-anak, mau dengar hebatnya Sultan Iskandar muda di saat masih remaja?"
'"Maauuuuu..."
Jawab anak-anak.
"Dulu saat Sultan Aceh ini masih muda, saat usianya masih enam belas tahun, beliau mampu mengusir portugis dari tanah Aceh. Tiga ratus serdadu portugis mati konyol dari hasil serangan Sultan Iskandar muda kala masih remaja yang bernama Darmawangsa. Benteng yang telah diduduki Portugis juga berhasil direbut oleh beliau melalui serangan tentara gajah."
"Waaaah kereeen..."
Anak-anak begitu kagum.
"Usia enam belas tahun itu berarti kalau saat ini adalah kakak-kakak yang duduk di kelas X, ada yang punya kakak di rumah kelas X?"
Tanya Iis pada anak-anak di kelas.
Beberapa anam tampak mengacungkan jari telunjuk dengan semangat,
"Nah, jadi anak-anak bisa membayangkan, saat itu sultan Iskandar Muda yang usianya masih seperti kakak-kakak yang duduk di kelas X itu sudah mampu mengusir Portugis dan merebut kembali benteng Kuta Lubok."
"Waaa..."
Mereka tampak langsung terbayang betapa hebatnya Sultan tersebut.
"Sultan Iskandar Muda lantas menjadi Raja menggantikan Sultan Ali Ri'ayat Syah III yang wafat, pada waktu itu beliau berusia tujuh belas tahun. Jadi beliau masih sangat muda ya jadi Raja?"
__ADS_1
Iis tersenyum ketika bertanya hal itu,
Ya cara Iis mengajar memang tidak seperti kebanyakan Guru lain yang seperti membaca buku dengan kalimat-kalimat baku yang membuat anak-anak jadi sulit mengerti.
Iis yang memiliki cara sendiri dalam mengajar memang berusaha membuat anak-anak bukan hanya mengerti materi pelajaran yang mereka pelajari, namun mereka merasa bangga dengan sejarah negaranya.
Mereka bangga dengan tokoh-tokoh besar di negaranya. Mereka bangga dengan nama-nama besar di bumi nusantara, yang mana adalah nenek moyang kita.
Sejarah adalah sama halnya kita jadi melihat ke dalam diri dan akhirnya jadi mengenali diri dengan lebih baik.
Iis ingin setiap ia membawakan satu materi, ia akan memunculkan tokoh-tokoh besar di sana, yang kelak akan membuat anak-anak tumbuh rasa kekaguman, rasa cinta, rasa bangga, karena hidup di tanah air yang sama.
"Berarti kesultanan Aceh sangat keren ya Bu guru?"
Iis cepat mengangguk,
"Tentu saja, semua kerajaan di Nusantara memang luar biasa. Dan Kesultanan Aceh adalah salah satunya, yang lebih membanggakannya untuk kita sebagai umat muslim, adalah mereka orang-orang Islam yang kuat, tangguh, cakap, cerdas, dan kuat."
Anak-anak tampak berseri-seri wajahnya, membayangkan jika Sultan yang sangat hebat itu adalah sultan yang ada di bumi Nusantara yang sekarang bernama Indonesia membuat mereka merasa sangat bangga.
"Kesultanan Aceh juga adalah kesultanan yang memiliki laksamana laut perempuan yang tangguh, masih ingat namanya? Ibu Guru pernah menceritakan sosok-sosok perempuan Nusantara yang luar biasa saat hari Kartini tempo hari bukan?"
"Masih Bu."
Tampak seorang anak perempuan yang duduk dekat jendela mengacungkan telunjuk ke atas, ia memang cukup pintar di pelajaran sejarah.
__ADS_1
Nilainya selalu bagus setiap kali ada tes pelajaran sejarah yang Iis berikan.
Iis tampak tersenyum,
"Siapa namanya Kayla?"
Tanya Iis.
"Laksamana Keumalahayati Bu Guru..."
Jawab anak perempuan cantik bernama Kayla itu.
Iis mengangguk sambil tersenyum.
"Pinter."
Iis pun memberikan pujian.
"Laksamana Keumalahayati, seorang perempuan tangguh yang dimiliki Aceh selain Cut Nyak Dien. Beliau menjadi pemimpin dua ribu pasukan dan berhasil menewaskan pemimpin Belanda yang menyerang Aceh dengan duel satu lawan satu di geladak Kapal. Laksamana Keumalahayati, di laut memimpin seratus armada kapal laut. Jika di bayangkan saat ini, beliau adalah jendral perempuan untuk Angkatan Laut ya anak-anak. Bagaimana? Bangga sekali bukan? Di saat di negara-negara Eropa yang sekarang tampak lebih maju, jaman dulu di tahun 1599 kita sudah punya laksamana perempuan, yaitu Laksamana Keumalahayati."
Iis pandai sekali membuat anak-anak menikmati pelajaran sejarah.
Membuat mereka bahkan enggan jam pelajaran sejarah berakhir.
**-------------**
__ADS_1