
Mbak Wening dan Ibu saling berpandangan manakala mendengar suara motor seperti berhenti di depan rumah.
"Sopo jam segini datang yo Ning?"
Tanya Ibu pada Mbak Wening dengan suara seperti bisik-bisik.
Ibu yang tangannya masih sambil sibuk mengurut punggung Ajeng setelah mengeriknya dengan irisan bawang merah yang dicampur minyak kelapa itu seperti memberi isyarat pada Mbak Wening agar segera pergi melihat siapa gerangan yang datang berkunjung di hari telah cukup larut macam sekarang.
Mbak Wening mengangguk, ia lantas segera keluar dari kamar dan berjalan ke arah ruang depan.
Namun belum lagi Mbak Wening sampai pintu, tiba-tiba saja pintu itu berderit terbuka,
"Assalamualaikum..."
Ridwan ternyata yang masuk, membuat Mbak Wening kaget.
"Lho, kamu to Wan, kamu ngojek? Sepedanya kenapa?"
Tanya Mbak Wening meneruskan langkahnya menuju pintu di mana Ridwan membuka lebar pintu rumah mereka.
"Sepedanya ban nya bocor Mbak, sepertinya kena paku, jadi aku tinggal di rumah pak Haji Imron, kebetulan tadi ketahuannya pas depan masjid, pak Haji baru akan pulang dari masjid."
"Oalaah, lha itu motor siapa?"
Tanya mbak Wening menunjuk motor di halaman rumah mereka.
"Motor Pak Haji, katanya suruh dipakai aku saja, karena tidak ada yang mau pakai lagi motor model jadul, biar mesinnya tidak rusak."
Mbak Wening ternganga,
"Kamu dikasih motor maksudnya?"
Tanya Mbak Wening memastikan,
"Yo diminta dipakai, dirawat, pokoknya biar tidak rusak, biar manfaat."
Kata Ridwan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Pak Haji Imron memang sudah terkenal kebaikan dan kedermawaannya."
Ujar Mbak Wening.
Ridwan mengangguk.
"Besok aku ambil sepedanya mbak, aku bawa ke bengkel."
Kata Ridwan.
"Iyo, tidak apa-apa."
Mbak Wening mengangguk seraya tersenyum.
"Oh ini obat buat Ajeng, Mbak, ini biar aku masukkan motor dulu ke dalam."
Kata Ridwan.
"Oh iya... iya."
Mbak Wening menerima bungkusan obat dari Ridwan, ia lalu masuk ke ruang dalam dan langsung menuju kamar lagi.
Kata Mbak Wening saat masuk kamar dan Ibu memandangnya seperti pengganti tanya siapa sebetulnya yang datang.
Ajeng punggungnya tampak sudah selesai diurut.
"Buatkan teh panas ini anakmu, biar tidak lemas."
Kata Ibu.
Mbak Wening meletakkan obat untuk Ajeng yang dibelikan Ridwan di dekat Ibunya, lalu ia sendiri kembali keluar kamar untuk membuatkan teh panas seperti yang Ibu perintahkan.
Ridwan sendiri yang sudah selesai memasukkan motor ke dalam ruangan tampak mengunci pintu, baru kemudian menuju kamar Mbak Wening.
"Bu,"
Ridwan masuk ke dalam kamar,
__ADS_1
Ibu dan Ajeng sama melihat ke arah kedatangan Ridwan.
"Bagaimana Ajeng, sudah mendingan?"
Tanya Ridwan pada sang keponakan yang tampak mengangguk, Ridwan tersenyum lalu menyalami Ibunya.
"Ibu kok dengar suara motor."
Kata Ibu.
Ridwan duduk di sebelah Ibu, di samping tempat tidur di mana kini Ajeng duduk selonjoran dan bersandar pada tumpukan bantal yang memang sengaja disusun agar tidak mual dan muntah lagi.
"Tadi sepeda Mbak Wening bocor Bu, sepertinya kena paku, untungnya tadi pas masih ada di depan masjid, kebetulan ketemu Pak Haji Imron."
Tutur Ridwan bercerita.
"Ooh terus bagaimana akhirnya?"
Tanya Ibu,
"Ya niku Bu, Pak Haji malah ngajak ke rumah lalu aku diminta bawa salah satu motornya yang sudah tidak ada yang pakai."
Kata Ridwan.
"Maksudnya motor Pak Haji?"
"Enggih Bu, katanya karena itu motor penuh kenangan, jadi beliau enggan untuk menjualnya. Tapi anak-anak beliau juga sudah tidak ada yang mau pakai karena motor bebek model lama."
"Masya Allah,"
Ibu jadi terharu.
"Ya kamu dipercaya menggunakan motor Pak Haji begitu ya jangan disia-sia Wan, di rawat yang bener, di gunakan untuk hal yang bermanfaat saja, jangan untuk maksiat, jangan untuk dibawa pergi ke tempat yg tidak baik."
Kata Ibu menasehati.
"Nggih Bu, insha Allah."
__ADS_1
Jawab Ridwan.
**--------------**