Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
140. Sang Sekretaris


__ADS_3

Sepulang sekolah, sebagaimana pesan Pak Haji Imron, Ridwan langsung meluncur ke tempat proyek di mana pondok dan rumah Tahfiz sudah mulai masuk finishing.


Hujan turun cukup deras, karena takut terlambat dari waktu yang dijanjikan, Ridwan melajukan motornya sedikit ngebut.


"Kemungkinan minggu depan semua sudah bisa berjalan, kita akan mulai dari rumah tahfiz dulu."


Begitu Pak Haji Imron sempat menyinggung tadi, saat menelfon Ridwan di sekolahan.


Ridwan sebetulnya lumayan lega mendengar gedung yang akan dijadikan tempat mengajar dan juga untuk pondok anak-anak kurang mampu sudah hampir siap digunakan.


Tentu ini rasanya seperti Ridwan hampir bisa mencicil membayar hutang amanah yang dibebankan kepadanya.


Sekitar tiga puluh menit berkendara dari sekolahan, Ridwan akhirnya sampai di tempat proyek.


Beberapa tukang bangunan yang merupakan pekerja dari pihak pemborong tampak sedang duduk lesehan di teras gedung yang akan digunakan sebagai pondok.


Ridwan yang memarkirkan motornya di depan gedung itu mencoba ramah menyapa.


Para tukang itu pun tentu membalas sapa Ridwan dengan tak kalah ramah, bahkan menawari ngopi bersama mereka.


"Maturnuwun Bapak-bapak,"


Kata Ridwan pada para tukang bangunan yang menawari ngopi bersama mereka.


Ridwan lantas berjalan ke arah kantor yayasan yang letaknya bersebelahan dengan mushola di lingkungan pondok, di mana di sana Pak Haji Imron dan Pak Subagyo serta Pak Aji Santoso menunggu Ridwan.


Pak Subagyo dan Pak Aji Santoso adalah bagian dari dewan pengawas yayasan.


"Assalamualaikum..."


Ridwan mengucap salam begitu sampai di depan pintu ruangan yang akan digunakan sebagai kantor yayasan.


"Waalaikumsalam..."


Jawab Pak Subagyo yang tampak sedang duduk di satu set kursi kayu yang digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu.


Pak Subagyo tampak duduk seorang diri seraya sibuk menghadap laptop.


"Oh Pak Ustadz Ridwan, monggo ... monggo Pak Ustadz."


Kata Pak Subagyo.


Ridwan tampak sibuk melepas jas hujannya sebentar, untuk kemudian ia gantung di paku yang ada dekat meteran listrik di depan kantor yayasan.


Setelah itu, barulah Ridwan masuk ke dalam ruangan kantor yayasan, yang mana langsung disambut Pak Subagyo.


Laki-laki berusia empat puluh dua tahun itu berdiri dari duduknya, meninggalkan sejenak kesibukannya di depan laptop demi bersalaman dengan Ridwan.


"Pak Haji Imron dan Pak Aji, mereka kok tidak ada nggih Pak?"


Tanya Ridwan.


"Oh beliau sedang makan siang Pak Ustadz, di ruang dalam, monggo barangkali Pak Ustadz belum makan siang juga."


Kata Pak Subagyo mempersilahkan.

__ADS_1


"Maturnuwun Pak Subagyo, saya tadi kebetulan sudah makan di kantin sekolah."


Ujar Ridwan yang lantas memilih duduk saja di set kursi yang mana Pak Subagyo juga duduk di sana.


"Hujan deras sekali nggih?"


Pak Subagyo berbasa-basi sambil kembali duduk juga.


Ridwan mengangguk.


"Nggih Pak, sepertinya hujannya merata."


Kata Ridwan.


Pak Subagyo mantuk-mantuk,


"Leres, anakku di Jogja juga cerita setiap hari lagi hujan terus,"


Kata Pak Subagyo,


Ridwan mengangguk,


Tak lama Pak Haji Imron dan Pak Aji Santoso keluar dari ruang dalam, mereka langsung tersenyum melihat Ridwan telah tiba.


"Pak Ustadz, monggo makan siang dulu."


Kata Pak Aji Santoso,


"Oh matur nuwun Pak Aji, kebetulan tadi di sekolahan sudah makan bareng Pak Hasan."


Ujar Pak Haji Imron,


Ridwan pun tersenyum.


"Maturnuwun sanget Pak Haji, maturnuwun sanget."


Pak Haji Imron dan Pak Aji Santoso pun menyusul duduk di kursi set ruang tamu kantor yayasan, mereka lantas mengadakan rapat terbatas, untuk membicarakan beberapa persiapan kegiatan di awal pembukaan nanti dan juga perubahan susunan pengurus, di mana sekretaris sebelumnya mengundurkan diri karena kesulitan membagi waktu antara mengajar, kuliah dan juga mengurus yayasan.


Penambahan kegiatan juga dibahas pada rapat terbatas itu, kegiatan bimbingan jamaah ibadah haji, yang nantinya pihak pembina dan pengawas berharap Ridwan selaku ketua pengurus yayasan yang akan handel kegiatannya.


"Kalau saya, inshaAllah siap saja Pak Haji, Pak Bagyo dan Pak Aji."


Ridwan menyanggupi, yang tentu saja disambut lega ketiga orang yang duduk sebagai pembina dan pengawas yayasan tersebut.


"Untuk sekretaris, apa Pak Ridwan punya pandangan? Supaya kita tidak usah terlalu lama kosong."


Pak Aji ke arah Ridwan.


Sejenak Ridwan terdiam, dan entah kenapa, belum juga ia berpikir, tiba-tiba saja nama Iis yang terlintas di kepalanya.


"Bu Guru Iis."


Ridwan macam bergumam.


Pak Haji Imron yang duduk paling dekat dengan Ridwan dan bisa menangkap perkataan Ridwan lantas bertanya untuk menanggapi,

__ADS_1


"Bu Guru Iis? Yang buka les anak-anak nopo nak Ridwan?"


Tanya Pak Haji Imron memastikan,


Ridwan lantas mengangguk.


"Nggih Pak, beliau sangat profesional jika bekerja."


Kata Ridwan mengunggulkan Iis.


"Oh kalau Pak Ustadz sampai berkata begitu, berarti memang betul."


Kata Pak Subagyo.


Pak Haji Imron mengangguk-angguk,


"Kalau begitu bisa tidak besok diminta datang?".


Tanya Pak Aji pada Ridwan.


"Nggih Pak, nanti saya coba ke tempat beliau untuk menyampaikan hal ini, semoga beliau berkenan."


Kata Ridwan.


"Ya mungkin pihak yayasan belum bisa menjanjikan penghasilan banyak, tapi InshaAllah kita nantinya akan sama-sama berkah lah kalau benar-benar mengabdikan diri di jalan ini. Kita membantu keluarga Pak Sahudi melaksanakan wasiat, sekaligus juga kita ikut memberikan sumbangsih tenaga, pikiran dan ilmu."


Ujar Pak Aji Santoso,


Ridwan mengangguk setuju.


Lalu...


"Nggih ini nanti saya hubungi Bu Guru Iis nya dulu, misal nanti butuh penjelasan lebih saya akan datang ke tempat beliau langsung saja."


Kata Ridwan.


"Nggih Pak Ustadz, soalnya kita jelas butuh sekretaris untuk urusan surat menyurat, dan mempersiapkan banyak berkas untuk ke dinas dan lain-lain."


Pak Subagyo wanti-wanti.


"NPWP badan juga belum dikirim sepertinya dari pihak kantor pajak ya Pak?"


Tanya Pak Aji pada Pak Subagyo.


"Tidak apa-apa itu hanya kartu fisiknya saja, kemarin pihak Notaris sudah memberikan pdf nya, cetak saja nanti Pak."


Kata Pak Subagyo.


Semua kemudian melanjutkan rapat terbatas itu dan Pak Subagyo yang juga merupakan masih keluarga Pak Suhadi, serta bekerja sebagai Guru SMA di salah satu SMA di kota kecamatan, karena tak ada Sekretaris, akhirnya ia yang mengalah membuatkan berita acara rapat terbatas mereka, untuk kemudian nantinya bisa diteruskan pada pihak Notaris membuatkan akta perubahan susunan kepengurusan yayasan.


Rapat terbatas antara Pembina, dewan pengawas dan ketua pengurus yayasan akhirnya selesai sekitar hampir pukul empat sore.


Menyempatkan lebih dulu sholat jamaah asar di mushola komplek yayasan, Ridwan pun didapuk menjadi imam Sholat dengan makmumnya adalah Pak Haji Imron, Pak Subagyo, Pak Aji Santoso dan juga beberapa tukang bangunan dan mandornya yang mau berjamaah.


Alhamdulillah, Ridwan bersyukur, karena ia ditempatkan dalam lingkungan yang hidup secara seimbang untuk dunia dan akhirat.

__ADS_1


**----------**


__ADS_2