
Pagi hari yang cerah, setelah kemarin sore hujan hingga petang, pagi ini sinar matahari terlihat berkilauan.
Bu Guru Iis keluar dari halaman rumah dengan motornya, saat kemudian ia melihat Anisa seperti berjalan ke arah rumahnya.
"Nis."
Sapa Iis begitu Anisa semakin dekat.
Anisa menyunggingkan senyumannya.
"Sudah mau berangkat ya Is?"
Tanya Anisa manakala akhirnya ia berada di dekat Iis yang sudah siap di atas motornya.
"Iya Nis, hari ini ada jadwal mengajar pagi di kelas empat."
Kata Iis.
Anisa mengangguk mengerti.
Ah pasti senang sekali Iis bisa menjadi Guru, selain setiap hari bisa berbagi ilmu, Iis juga bisa selalu bertemu anak-anak murid dengan berbagai karakter yang berbeda.
"Mau ke toko?"
Tanya Iis.
Anisa mengangguk.
"Tidak pakai mobil?"
Tanya Iis.
"Malas Is, aku lebih suka pakai angkutan."
Jawab Anisa.
Ya tentu saja, Anisa malas jika pakai mobil dan akan bersama Abahnya yang semakin ke sini menurutnya semakin mengekang dan makin banyak aturan yang sulit diikuti.
"Kalau begitu, ayuk sekalian saja aku antar Nis, daripada jalan ke depan, nunggu angkutan segala."
Kata Iis.
__ADS_1
"Nanti kamu telat."
Anisa tak enak.
Iis menggeleng.
"Tidak, tenang saja, ayok Nis."
Iis menawarkan tumpangan sambil menepuk bagian belakang jok motornya agar Anisa cepat naik ke boncengan.
Anisa pun akhirnya mengangguk, lalu Anisa tampak naik ke atas boncengan motor,
"Sudah Nis?"
Tanya Iis.
"Sudah Is,"
Sahut Anisa.
Iis lantas bersiap menstarter motornya, saat kemudian sebuah motor melaju ke arah mereka dan melewati mereka,
Saat motor itu melewati Iis dan Anisa, si pengemudi motor terlihat sekilas melihat ke arah keduanya sambil menyunggingkan senyuman, membuat Anisa dan Iis sama-sana gugup.
Ah yah, tentu saja...
Pengemudi motor itu, siapa lagi jika bukan Ridwan.
Ridwan mengantar Mbak Wening berangkat bekerja, dan yang mengagetkan ia mengantar kakaknya dengan motor sekarang.
"Lho, kalian masih belum berangkat?"
Tiba-tiba terdengar suara Ibunya Iis dari dalam mengagetkan Iis dan Anisa.
Kedua gadis itu sama-sama terkesiap, lalu nyengir malu pada Ibu.
Ibunya Iis melongok keluar jadi kepo apa yang barusan mereka lihat sampai semuanya bengong.
Tapi...
Tidak ada yang terlihat mencurigakan dan juga menarik perhatian.
__ADS_1
Semuanya sama saja, jalanan juga terlihat lenggang saja.
"Ini mau berangkat Bu,"
Akhirnya Iis bersuara, karena melihat Ibunya mulai celingak-celinguk kepo.
"Ooh yah... hati-hati."
Kata Ibu berpesan.
Iis memakai helm nya, lalu ia pelahan melajukan motornya meninggalkan depan halaman rumah Iis.
"Besok pengajian kan Nis?"
Tanya Iis saat akhirnya mereka sudah dalam perjalanan menuju jalan raya utama dan setelah itu bisa langsung bersiap menuju toko.
Namun, tak ada jawaban dari Anisa.
"Nis... Nisa."
Iis sampai sedikit menambah tinggi volume suaranya karena Anisa tak mendengarkannya bicara.
Iis menghela nafas dan geleng-geleng kepala, saat Anisa tergagap.
"Oh eh yah Is, ada apa?"
Tanya Anisa membuat Iis jadi memilih tertawa saja.
"Nanti sore saja deh, aku ajak makan baso ya, sekalian aku mau cari buku,"
kata Iis.
Anisa mengangguk setuju.
"Ya, baiklah is."
Kata Anisa.
"Aku langsung jemput di toko deh, jadi kamu tidak usah bolak balik."
Ujar Iis.
__ADS_1
Anisa pun setuju.
**-------------**