Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
131. Sahabat Terbaik


__ADS_3

Hari berlalu dengan cepat, Iis bersyukur hari ini ia hanya memiliki jadwal dua jam pelajaran saja, dan semuanya ada sebelum jam istirahat ke dua.


Karena mengingat untuk mencari hadiah akan makan waktu cukup lama, Iis pun akhirnya meminta ijin pulang lebih awal, namun tentu saja setelah Iis menyelesaikan seluruh tugasnya.


"Saya juga mau ijin pulang ini Bu,"


Ujar Pak Hasan yang tampak sibuk memasukkan laptop ke tas nya sendiri juga, saat Iis sudah akan pergi meninggalkan mejanya.


"Oh Pak Hasan ada acara juga?"


Tanya Iis.


"Iya, saya diminta jadi pembicara keluarga untuk melamarkan putra satu-satunya. Itu lho, keluarga Bu Sundari, pemilik usaha perhiasan emas dan perak."


Kata Pak Hasan membanggakan diri.


Namun, mendengar nama Bu Sundari disebut, tentu saja Iis cukup terkejut. Ia tak menyangka jika Pak Hasan adalah keluarga dari calon suami Anisa,


Ya...


Bu Sundari, dia adalah orangtua Wisnu, calon suami Anisa, dan memang namanya juga cukup dikenal karena Bu Sundari dan suami memang bisa dibilang salah satu orang paling dermawan di kota tersebut.


"Jadi Pak Hasan keluarga Mas Wisnu?"


Iis pada Pak Hasan, yang nyaris bersamaan dengan itu, Ridwan yang baru selesai mengajar di kelas tiga tampak masuk ke dalam ruang Guru.


"Assalamualaikum..."


Ucap Ridwan.


"Waalaikumsalam..."


Iis yang menjawab salam Ridwan.


Sekilas keduanya saling berpandangan, namun cepat keduanya menunduk, lalu mengalihkan pada yang lain, terutama Iis yang langsung kembali memandang ke arah Pak Hasan.


"Bu Iis kenal mas Wisnu to?"


Tanya Pak Hasan yang gantian kaget.


"Ya, kan Anisa teman saya,"


Jawab Iis, yang padahal kenal Wisnu adalah saat ikut Ridwan ke rumah Wisnu.


Tapi, tentu saja Iis tak akan membuka itu, ia menjaga perasaan Ridwan, yang pasti akan tidak nyaman jika sampai Pak Hasan tahu masa lalu Ridwan dan Anisa, calon isteri saudaranya.


"Ooh, Mbak Anisa teman Bu Iis, jadi ini kita ijin pulang untuk acara yang sama?"


Pak Hasan merasa senang, karena ternyata mereka akan hadir di acara yang sama.


Ridwan di tempatnya, yang tentu saja mendengar, lebih memilih menyibukkan diri menyiapkan materi untuk jam pelajaran selanjutnya.


Iis yang sekilas lalu mencuri pandang ke arah Ridwan merasa iba, namun apa yang bisa Iis lakukan, selain pura-pura saja tidak tahu karena tak mau dianggap ikut campur.


"Ya sudah Pak Hasan, saya pamit lebih dulu."


Kata Iis akhirnya,


"Oh nggih Bu, monggo... monggo..."

__ADS_1


Pak Hasan tiba-tiba jadi sangat baik pada Iis karena Iis ternyata kenal dengan calon isteri saudaranya.


"Pak Ridwan, monggo, saya duluan..."


Kata Iis pada Ridwan,


"Oh nggih Bu, hati-hati,"


Kata Ridwan, Iis mengangguk sambil tersenyum sepintas lalu.


Setelah itu cepat ia keluar dari ruang Guru dan berjalan menuju tempat parkir.


"Bu Guru... Bu Guru Iis..."


Panggil Mas Trisno,


"Oh Mas Trisno, pripun Mas?"


Iis menghentikan langkahnya di jarak tiga meter lagi sampai di dekat motornya.


"Bu, itu yang katanya Bu Guru lagi cari motor second, saya ada saudara mau jual motor Bu, barangkali Bu Guru minat."


Kata Mas Trisno.


"Oh boleh Mas, kasih nomor saya saja, nanti tolong kirim ke saya foto motornya ya."


Kata Iis.


Mas Trisno mengangguk semangat,


Iis lantas meneruskan langkahnya mendekati motornya di area parkir.


**-------------**


Suara gending jawa yang khas mengalun di seantero rumah Pak Haji Syamsul.


Pajangan janur yang dibentuk sedemikian rupa tampak terlihat menghias bersanding bunga dan juga buah-buahan.


Meja saji mulai dipenuhi beragam menu makanan yang istimewa.


Dari aneka olahan daging sapi, ayam, telur, udang, hingga aneka minuman, yang dari es teh biasa, dawet, sampai jus dan bahkan es krim ada di sana.


Acara lamaran yang sudah macam acara resepsi pernikahan itu tentu saja hanya Pak Haji Syamsul di kampung Waru yang bisa melakukannya.


Bukan hanya karena ia kaya, tapi juga kesenangannya menunjukkan sesuatu yang lebih di antara yang lain, Pak Haji Syamsul memang terkenal gemar melakukannya.


Selepas maghrib, Anisa sudah mulai dirias oleh seorang perias yang namanya juga cukup dikenal di kota tersebut.


Bukan hanya karena riasannya yang katanya bisa selalu "Manglingi" namun juga karena biaya untuk mengundang perias itu mengharuskan orang merogoh kantong lumayan dalam.


Anisa yang memakai kebaya warna pastel dengan kain batik pesisir terlihat begitu ayu dan anggun malam ini.


Jilbabnya yang tetap membingkai wajahnya yang cantik, menambah pula kecantikan yang terpancar dari wajahnya.


Tamu berdatangan satu persatu menjelang Isya, dan setelah jam sholat isya berlalu, tamu undangan hampir semua sudah memenuhi kursi undangan.


Suara gending jawa juga sayup kembali terdengar, meski tak sesemarak sebelumnya karena mengingat hari telah malam.


Tepat jam delapan kurang sepuluh menit, ketika akhirnya Anisa selesai dirias, lalu Iis menemuinya di kamar, Anisa sampai nyaris melompat untuk memeluk Iis.

__ADS_1


"Hey, duduk saja yang anggun."


Kata Iis tertawa melihat Anisa yang sudah macam anak kecil saja.


Anisa tertawa juga, meski matanya tetap terlihat berkaca-kaca.


Ya...


Sampai di titik ini, tentu saja siapa yang menyangka?


Anisa yang semula menentang keras perjodohannya, yang bahkan sampai harus lari dari rumah, pada akhirnya ternyata Allah memang tetap menyiapkan keduanya untuk berjodoh.


"Aku pasti tampak seperti orang bodoh yah Is?"


Anisa pada Iis yang langsung cepat menggeleng, lalu memberikan satu bungkusan kado berukuran cukup besar berwarna biru dengan pita perak yang cantik.


"Tak ada orang yang akan menikah terlihat bodoh Nisa, ini adalah ibadah,"


Kata Iis.


Anisa menatap Iis, lalu tersenyum.


"Terimakasih Is,"


Kata Anisa.


"Selamat, semoga semuanya lancar hingga hari akad nanti, dan setelah itu kamu akan bahagia selamanya."


Doa Iis.


Anisa memeluk Iis,


"Kamu sahabat dan saudara terbaik yang aku punya, terimakasih Is."


Bisik Anisa.


Iis mengangguk,


"Ibu datang, beliau di ruang depan menemani Mbak Faizah."


Kata Iis.


Anisa mengangguk.


Tak lama kemudian, terdengar di luar sana sepertinya rombongan keluarga Wisnu telah tiba, Iis membantu Anisa berdiri dan bersiap keluar dari kamar.


"Mas Wisnu laki-laki yang baik, aku bisa melihat dia sangat tulus mencintai dan menyayangimu Nis, aku yakin, dia akan membahagiakanmu,"


Kata Iis sembari mengiringi langkah Anisa keluar dari kamar.


Anisa mengangguk mengiyakan,


"Ya, dia sangat baik, bahkan sebetulnya terlalu baik,"


Kata Anisa.


"Kamu juga baik, wanita yang baik bukankah untuk laki-laki yang baik?"


Iis tersenyum, membuat Anisa jadi ikut tersenyum sambil sedikit tersipu malu.

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2