
Karena kejadian melihat penampakan di hotel, akhirnya Pak Karto menolak tidur di kamar yang telah dipesankan.
Dengan mengabaikan rasa malu dan harga diri, Pak Karto meminta Ridwan mengijinkannya untuk tidur di kamar Ridwan saja.
Ridwan sendiri tentu saja tak merasa keberatan sama sekali, karena toh kamar untuk dirinya itu cukup luas, selain spring bed juga memang ada dua, di sana juga ada sofa panjang yang bisa untuk tidur juga.
Apalagi, Ridwan sendiri bukan termasuk orang yang tidur dalam waktu lama. Ia akan tidur setelah sholat Isya, lalu tengah malam ia biasanya akan bangun, sholat, mengaji lalu menghabiskan waktu dengan membaca sambil menunggu subuh.
Ya, tentu saja ini adalah salah satu kebiasaan yang Ridwan dapat dari pesantren, bahwa perkara tidur juga ada aturannya, ada jam-jam di mana manusia tidak boleh tidur, atau juga ada jam-jam untuk manusia yang sebaiknya digunakan untuk tidur sebagai bagian dari memberikan hak tubuh yaitu tidur atau juga istirahat.
"Tapi pangapunten ini Pak Karto, kalau lampunya mungkin akan saya biarkan menyala terus sampai pagi, soalnya saya mau baca dan mempelajari berkas yang diberikan asisten Pak Bagas tadi."
__ADS_1
"Ooh nggih Mas Ridwan, tidak apa-apa, malah saya senang kalau lampu menyala, rasanya kalau lampunya dimatikan, saya takut terbayang wajah ibu dan anak bukan manusia itu lagi, aduh amit-amit saya tidak mau melihat mereka lagi mas."
Pak Karto geleng-geleng kepala, rasanya ingin memorinya berjatuhan agar tak lagi bisa mengingat kejadian yang baru saja ia alami.
Sekitar pukul sembilan malam, setelah menghabiskan makan malam yang dikirim agak kemalaman, Pak Karto pun tidur sambil ngorok keras sekali.
Ridwan yang agak terganggu, akhirnya memilih tidur di sofa yang letaknya agak jauh dari spring bed dan ia juga mendengarkan audio orang membaca surah Al-Baqarah.
Barulah setelah mengaji itu, Ridwan mengambil berkas yang diserahkan Asisten Pak Bagas untuk ia pelajari dengan baik, agar mengerti sejauh apa ia nanti akan diberi kewenangan dan tanggungjawab.
Sebelum membaca, Ridwan menyempatkan diri menyeduh kopi terlebih dahulu, yang disediakan pihak hotel di dalam kamar, karena Pak Karto masih mengorok, Ridwan pun memutuskan membaca di balkon kamar saja.
__ADS_1
Duduk di kursi rotan di balkon, sambil menatap langit menjelang subuh yang bening.
Ridwan menyeruput kopi yang masih mengepul panas, sungguh sebetulnya Rosulullah bersabda bahwa makan dan minum adalah lebih baik setelah makanan dan minuman itu dingin, karena makanan dan minuman yang panas tak ada keberkahan di dalamnya.
Tapi, lagi-lagi, apa yang dilarang memang selalu terasa enak, Inilah memang ujian manusia.
Bahkan ketika nasi panas jika dimakan terbukti kadar gulanya sangat tinggi pun, manusia tetap ingin makan nasi dalam keadaan masih kebul-kebul, apalagi jika teman makannya adalah sambal lalap petai bakar dan ikan mas goreng. Hihihi...
Ridwan meletakkan gelas kopinya di atas meja, lalu mulai membuka halaman pertama draft perjanjian yang telah diketik rapi oleh pihak Noraris.
Ridwan mempelajarinya dengan sebaik mungkin, memastikan tak ada satupun kata dan kalimat yang terlewat atau tidak ia mengerti.
__ADS_1
**------------------**