
"Assalamualaikum... Assalamualaikum..."
Terdengar suara orang mengucap salam di depan rumah Ridwan, suaranya cukup keras hingga terdengar sampai ruang dalam.
"Waalaikumsalam..."
Jawab semua yang ada di dalam.
Dari Mbak Wening, Ibu, bahkan Iis yang tampak baru selesai menerima telfon dari Anisa.
Iis masuk ke dalam rumah lagi, di mana tampak Mbak Wening dan Ibu baru akan keluar rumah untuk memastikan ada tamu siapa.
Hingga kemudian terdengar suara motor Ridwan yang memasuki halaman rumah, lalu suara Ridwan yang berbicara di depan rumah yang sepertinya dengan orang yang mengucap salam.
"Rumah Bu Wening penjual keripik betul ini kan Mas?"
Tanya orang yang tadi mengucap salam, ia seperti seorang kurir.
Ridwan yang telah turun dari motornya kini terlihat berdiri berhadapan dengan pak kurir.
Pak kurir di bagian boncengan motornya tampak ada sepeda mini untuk anak-anak yang diikat,
"Enggih Pak, ini rumah Bu Wening, ada perlu apa nggih?"
Tanya Ridwan.
Pak Kurir lalu menyerahkan selembar kertas dari toko sepeda di komplek pertokoan di sekitar pasar.
Bersamaan dengan itu Mbak Wening tampak keluar dari rumah bersama Ibu, diikuti pula oleh Iis.
"Nopo Wan?"
Tanya Mbak Wening sambil menuruni teras dan menghampiri Ridwan.
"Ini dari toko sepeda, Mbak Wening beli sepeda to?"
Tanya Ridwan sambil menyerahkan kertas kuitansi pembayaran dari toko sepeda pada Mbak Wening,
"Ealah, iya,"
Mbak Wening lantas cekikikan sendiri,
"Ngopo to Mbak?"
Ridwan jadi keder melihat kakaknya malah cekikikan tidak jelas,
"Itu, uang lebih beli kulkas, Mbak belikan sepeda buat Ajeng, tapi uangnya masih kurang jadi tek bawa lagi, alhmdulillah satu minggu ini ramai pesanan jadi bisa buat tambah-tambah beli sepeda Ajeng, tadi pagi Mbak iseng bilang ke Bu Rahmi, kayaknya ini dibelikan dia."
Kata Mbak Wening.
"Oalah Mbak ini, yo wis telfon Bu Rahmi nya, betul apa tidak ini sepedanya?"
__ADS_1
Kata Ridwan akhirnya sambil geleng-geleng kepala.
Mbak Wening pun lantas cepat lari masuk rumah untuk mencari hp nya yang sudah gampang ngedrop dan sedikit-sedikit harus di chas.
"Wan, itu Bapaknya di suruh masuk dulu saja,"
Ujar Ibu,
"Nggih Bu."
Sahut Ridwan, lalu mempersilahkan Pak Kurir untuk masuk ke dalam rumah dulu saja sambil menunggu Mbak Wening memastikan memang sepeda yang dikirimkan adalah milik Ajeng yang ditalangi beli Bu Rahmi lebih dulu.
"Bu, biar Iis saja yang buat wedang untuk tamu Bu, tidak apa-apa."
Kata Iis, begitu melihat Ibunya Ridwan tampak langsung menuju dapur begitu Pak kurir duduk di ruang tamu dengan Ridwan.
"Lho yo merepotkan Bu Guru to,"
Ibunya Ridwan tak enak, namun tampak Iis cepat-cepat menggeleng,
"Mboten Bu, sama sekali tidak repot kok Bu, tidak apa-apa, biar Iis saja."
Kata Iis yang kemudian berjalan mendahului Ibunya Ridwan menuju dapur.
Terdengar dari dalam kamar Mbak Wening bicara dengan Bu Rahmi lewat sambungan telfon dari hp nya.
"Oalaah saya benar-benar jadi enak ini lho Bu Rahmi sampai ditalangi beli sepeda."
Kata Mbak Wening pada Bu Rahmi, yang merupakan kepala sekolah TK di mana Ajeng pernah sekolah.
Pokoknya asal tidak kredit uang lah, kata Bu Rahmi.
Sementara Mbak Wening masih sibuk ngobrol ngalor ngidul tidak peka jika pak kurir menunggu, Iis tampak sudah selesai menyeduh teh dan kemudian dibawanya ke ruang tamu.
Ibunya Ridwan di ruang tengah menyiapkan dua toples yang satu berisi keripik pisang buatan Mbak Wening, dan yang satu lagi berisi wafer merk ternama yang beli dari minimarket.
"Monggo disambi, Pak."
Kata Iis santun begitu selesai meletakkan dua cangkir wedang teh di atas meja ruang tamu,
"Oh nggih Bu Ustadzah,"
Sahut Pak kurir, yang tahunya Iis adalah istri Ridwan.
Pak Kurir langsung memanggil Ridwan dengan panggilan pak ustadz karena baru saja bertanya pada Ridwan baru pergi dari mana.
Ya biasalah, basa-basi standar orang yang baru kenal jika ingin ngobrol dan terlihat akrab.
Iis yang dipanggil Bu Ustadzah tanpa sadar jadi menoleh ke arah Ridwan yang tampak hanya mengulum senyuman.
Tak ada sanggahan yang dilakukan Ridwan, membuat Iis jadi bingung juga harus bereaksi apa.
__ADS_1
Ibunya Ridwan muncul dari ruang dalam membawa dia toples yang tadi sengaja ia siapkan untuk teman minum teh tamu mereka.
Iis yang melihatnya tentu saja langsung membantu membawakan dan meletakkannya di atas meja tamu juga.
Ridwan menyambut dua toples yang disajikan, dibuka nya tutup toplesnya, agar Pak kurir bisa mencicipi.
"Monggo Pak, maaf ini seadanya,"
Kata Ridwan pula,
"Aduh, ini juga sudah Alhamdulillah sekali Pak Ustadz, jarang-jarang sekarang ini ada yang memperhatikan orang yang bekerja macam saya. Ibaratnya, mengantar barang tidak dimarahi saja saya itu sudah lega, wong kadang ada saja yang jadi bahan untuk saya disalahkan."
Pak kurir jadi curhat.
"Lho kok bisa begitu to Pak? Mbok kalo tidak ada yang salah trus disalahkan yo jangan mau, yang tegas saja Bapak bilang, kok ada saja to orang macam begitu. Tidak benar itu orang macam begitu, ya kan Pak Ridwan?"
Iis pada Ridwan, yang membuat Ridwan jadu merasa lugu melihat Iis malah jadi emosi sendiri. Bahkan seperti lebih emosi daripada si bapak kurir yang mengalami.
"Sabar Bu, marah-marahnya jangan ke saya."
Ujar Ridwan yang membuat Iis jadi tertawa,
"Eh lah, siapa yang marah sama panjenengan."
Kata Iis di sela tawanya.
Dan tak selang berapa lama, Mbak Wening akhirnya muncul di ruang tamu dari ruang dalam.
Ia baru selesai bicara lewat telfon dengan Bu Rahmi terkait dana talangan yang diberikan Bu Rahmi atas sepeda Ajeng, yang mana pada akhirnya malah jadi diputuskan oleh Mbak Wening untuk akan ia bayar secara kredit saja.
"Maaf nggih Pak, karena jadi agak lama bahasnya. Tapi, Alhamdulillah setelah melalui pembahasan yang alot, akhirnya sudah ada keputusan bahwa memang itu sepeda untuk Ajeng anak saya."
Ujar Mbak Wening, setelah muter-muter dengan kalimatnya.
Ridwan tampak menghela nafas, kakak satu-satunya itu memang kadang suka muncul aneh-anehnya.
"Oh alhmdulillah, jadi ini berarti saya tidak salah alamat nggih Bu?"
Tanya pak Kurir memastikan lagi.
"Nggih pak, mboten."
Jawab Mbak Wening.
"Kalau begitu, monggo sepedanya di lihat Bu, barangkali ada komplenan, jadinya bisa saya langsung sampaikan."
Kata Pak Kurir lagi,
Mbak Wening pun melongok ke halaman di mana kini sepeda untuk Ajeng masih ada di atas boncengan motor Pak Kurir.
"Tek turunkan dulu Bu..."
__ADS_1
Pak Kurir pun bergegas beranjak dari duduknya dan menuju ke halaman rumah.
**------------**