
Kukuruyuuuuuuuk... Betok betok betok...
Ramai suara ayam peliharaan Mbak Wening di halaman belakang, baik yang bertengger di atas dahan pohon Mangga dan kadang juga pindah ke pohon rambutan, maupun juga para ayang bebeb si ayam jago macho dan maskulin yang pada di kandang di bawah.
Suara pengajian di radio yang diputar Emak juga terdengar memenuhi ruangan rumah, mengiringi aktifitas para penghuni rumah yang tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Mbak Wening yang sibuk menghitung bungkusan keripik yang akan diantar, Ibu yang sibuk memasak sarapan di dapur, Ajeng yang sibuk menyapu lantai rumah, dan Ridwan yang menyapu halaman sekaligus kemudian mencuci motornya.
Mbak Wening sudah tiga hari ini memang mulai jarang ambil tugas memasak untuk makan di rumah, karena ia sibuk dengan urusan bisnisnya, maka walhasil Ibu yang kembali jungkir balik di dapur memasak untuk keluarga mereka.
"Nanti kalau pesanan Wening semakin banyak, Wening akan bayar asisten rumah tangga Bu, biar Ibu tidak usah capek."
Pongah Mbak Wening sambil melongok ke dapur lalu melihat Ibu yang sedang mengangkat tempe goreng.
"Lagumu itu lho, sombong ora genah."
Ujar Ibu.
"Lah Ibu ini, diaminkan ngopo?"
Protes Mbak Wening merasa malah tidak didukung karirnya.
"Bukan tidak mengaminkan, tapi mengingatkan kamu itu lho supaya jangan suka ngomong tinggi dulu. Wis dijalani dulu, Bismillah, semoga lancar, tidak ada yang namanya hambatan atau rintangan."
"Aamiin."
"Berkah, manfaat."
Kata Ibu.
"Nggih Bu, enggiiih..."
Sahut Mbak Wening.
Ibu lantas menggoreng tempe lagi, menggoreng tempe jilid dua.
Mbak Wening kemudian ke ruang depan di mana Ajeng tengah menyapu sambil mengelap kaca.
__ADS_1
Mbak Wening tersenyum, memang harus disyukuri jika Ajeng anak yang penurut sebetulnya. Jika kadang ia cerewet, suka mengajak debat Mbak Wening, dan kadang bahkan meledek Mbak Wening yang padahal jelas-jelas adalah Ibunya, tapi tetap saja Ajeng tidak pernah menolak jika diberikan tugas.
Di usianya yang terbilang masih kecil, Ajeng sudah pandai bebenah rumah, ia sudah bisa menyapu rumah dengan bersih, bisa mengelap kaca, bisa merapihkan sprei di kamar tidur, bisa mencuci piring, bahkan Ajeng juga mencuci sepatu dan kaos kakinya sendiri sejak masih kelas satu SD.
"Habis nyapu, pergi mandi Ajeng, nanti berangkat sekolah sama Ibu, sekalian mau antar keripik buat Bu Gurunya Ajeng pesen kan kemarin."
Kata Mbak Wening,
"Ooh iya Bu, sip."
Ajeng mengacungkan ibu jarinya.
Sebelum berbalik masuk ke dalam rumah lagi, Mbak Wening tampak menyempatkan diri melihat ke arah Ridwan yang sudah mulai sibuk mengelap motor.
Mbak Wening menghela nafas melihat adiknya itu wajahnya sejak semalam seperti murung entah karena apa.
"Ibu lihatin Paman bae, kayak belum pernah lihat orang cuci motor."
Komen Ajeng julid,
Merasa tak enak, Mbak Wening jadi cengar-cengir ke arah Ridwan sambil langsung balik arah dan jitak kepala Ajeng sambil ngeloyor masuk rumah.
Sementara Ajeng yang kena jitak langsung mengejar Ibunya masuk sambil merengek dan mengusap-usap kepalanya,
"Aduuh... Ajeng jadi bloon nih Bu..."
Mbak Wening cekikikan seraya masuk rumah, yang begitu sampai ruang makan, terlihat Ibunya baru saja meletakkan tumisan pare dengan tempe goreng dan telor dadar dengan banyak daun bawang yang dipotong dibagi empat.
Aroma dadar telor khas buatan Ibu pun seketika langsung mengajak perut konser keroncong.
"Ajeng maem dulu aah, ada dadar telor buatan Mbaaah..."
Ajeng ganti haluan, lupa tadi lagi kesal dengan Ibunya karena habis dijitak kepalanya.
**-------------**
"Ibu pergi dulu ya Is, jaga rumah baik-baik, Ibu paling cuma tiga hari kok."
__ADS_1
Kata Ibu saat pamit sudah dijemput travel.
"Wis Bu, tidak usah khawatir, kan di sini juga banyak tetangga pada baik-baik, Iis kan juga bukan anak kecil lagi yang kalau ditinggal ketakutan."
Kata Iis.
Ibu jadi tertawa.
Supir travel yang membantu memasukkan barang-barang bawaan Ibu ke bagasi tampak berdiri di samping mobilnya menunggu Ibunya Iis selesai pamitan dengan anaknya.
"Itu supirnya nungguin, Ibu hati-hati ya Bu, kalau sudah sampai nanti kabari."
Iis kembali menyalami Ibunya, lalu memeluk Ibunya sambil cipika cipiki.
"Iya kamu jangan telat makan Is."
Pesan Ibu,
"Nggih Bu, wisan Ibu nanti ditinggal travel lho."
Ibu akhirnya mengangguk, ia pun bergegas menuju mobil travel yang telah sabar menunggu.
Iis mengantar hingga Ibu masuk ke dalam mobil, dan sampai mobil itu pun melaju.
Di dalam mobil travel, Ibu menatap sang putri yang semakin jauh tertinggal dari kaca spion mobil travel yang ia tumpangi.
Karena kebetulan Ibu duduk di samping supir di bagian depan, maka Ibu bisa melihat spion dengan jelas.
Mata Ibu berkaca-kaca melihat bayangan anaknya yang kini harus ia tinggal sendiri meski hanya untuk beberapa hari ke depan.
Sungguh Ibu sangat berharap jika tahun ini semoga Iis bisa mendapatkan jodoh, dan jika saja Ibu boleh memilihkan sendiri jodoh untuk Iis, sudah jelas Ibu inginnya adalah Ridwan.
Ya pemuda itu, yang telah mencuri perhatian Ibu sejak dari pertama melihat, rasanya Ibu sungguh-sungguh berharap jika nantinya Ridwanlah jodoh putrinya.
Ya, iis, anak perempuannya yang selama ini begitu penurut dan tidak pernah satu kalipun membuat hatinya sebagai Ibu terluka.
**---------------**
__ADS_1