Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
118. Ikhlas


__ADS_3

"Silahkan Pak Ustadz, saya sungguh ingin tahu sebetulnya ada apa ini semua? Kenapa ternyata anda mengenal Anisa?"


Tanya Wisnu begitu akhirnya ia dan Ridwan duduk di teras rumah.


Di luar sana, matahari masih bersinar dengan teriknya, panas seperti suasana di rumah lama Wisnu saat ini.


Ridwan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya pelahan. Baru setelah itu, dengan berusaha tetap tenang, Ridwan akhirnya mulai membuka suara,


"Mas Wisnu, maaf jika sejak semalam saya tidak jujur kepada Mas Wisnu, tapi saya sudah berusaha menolak untuk datang ke rumah mas Wisnu, salah satunya adalah karena hal ini."


Wisnu tampak terdiam, ia memilih tak berkomentar atau bertanya apapun lebih dulu, ia ingin mendengarkan semua penuturan Ridwan hingga selesai.


"Maaf Mas Wisnu, saya bukan tidak ingin mengatakan dengan jujur sejak awal bahwa saya mengenal Anisa, sungguh ini juga berat untuk saya memutuskan tetap datang karena telah terlanjur janji pada panjenengan."


Ridwan tampak mencoba mengatur nafasnya lagi, mencoba menenangkan diri lagi, hingga kemudian...


"Maaf Pak Ustadz, ijinkan saya menyela,"


Kata Wisnu tetap menjaga adabnya di depan Ridwan.


Meskipun usia mereka tentu tak terpaut terlalu jauh, tapi Wisnu menghormati Ridwan yang statusnya jelas telah menjadi seorang Ustadz. Seorang guru ngaji, seorang yang cukup berilmu.


Meskipun Wisnu sendiri juga merupakan seorang sarjana agama, namun tetap saja Wisnu sadar betul, bahwa ilmunya tak setinggi para lulusan pesantren yang di mana mereka dari pagi hingga petang berfokus belajar ilmu agama dari banyak kitab, belum lagi mereka juga mendapatkan semacam berkah dari para kyai yang ada di pesantren mereka menuntut ilmu.


"Nggih Mas Wisnu, monggo."


Ridwan mempersilahkan Wisnu bicara,


"Maaf pak Ustadz, apakah panjenengan ini yang dimaksud laki-laki yang dekat dengan Anisa? Maaf... Maaf sekali..."


Wisnu yang merasa sebetulnya pertanyaan itu tidak sopan dilontarkan jadi sangat tidak enak hati. Tapi, bagaimana lagi, Wisnu sungguh terlanjur penasaran dengan posisi Ridwan.

__ADS_1


Tapi...


Ridwan tampak menghela nafas, sebelum akhirnya menggeleng, Wisnu mengerutkan kening.


"Begini Mas Wisnu, biarkan saya jelaskan lebih dulu,"


Kata Ridwan akhirnya.


Ya, jelas Ridwan tahu apa yang kini tengah dirasakan Wisnu, dan pastinya banyak sekali pertanyaan yang ada dalam benak Wisnu yang butuh dijawab.


"Saya memang telah mengenal Anisa cukup lama Mas Wisnu, dan saya..."


Ridwan sejenak terdiam lagi, entah kenapa rasanya sulit baginya bicara tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Anisa di depan Wisnu.


Tapi, melihat Wisnu yang tampak sabar menunggu Ridwan bicara lagi, akhrnya Ridwan pun memantapkan hatinya untuk melanjutkan kalimatnya yang terhenti,


"Sayalah yang mengirimkan surat pada Anisa dulu saat masih baru lulus SMP Mas, namun surat itu tidak pernah dibalas Anisa, tak ada kedekatan di antara kami yang seperti anak muda lainnya, kami tak pernah berbalas surat apalagi pergi berdua, tidak pernah."


"Pak Ustadz tidak tahu Anisa sebetulnya juga mencintai anda?"


Tanya Wisnu tiba-tiba, membuat hati Ridwan tentu saja tergetar,


"Itulah kenapa, meski kalian terlihat tak ada hubungan apapun, tapi Pak Haji Syamsul sampai bersikap, karena ia tahu putrinya jatuh hati pada laki-laki yang mengirimkan surat padanya."


Tandas Wisnu pula.


Ridwan terdiam, sulit rasanya ia bereaksi, ini antara ia harus bahagia tapi juga sakit dalam waktu yang bersamaan.


"Saya akan sangat senang jika Pak Ustadz bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Anisa sekarang. Tentu saja, saya juga mencintai Anisa, saya juga ingin melakukan sesuatu untuk membuatnya tak lagi menderita supaya tak perlu ia pulang lagi ke rumahnya yang sudah tak membuatnya nyaman."


Kata Wisnu, tampak Ridwan terdiam di tempatnya duduk, hatinya kini seolah tertampar oleh Wisnu dengan tamparan yang sangat keras.

__ADS_1


"Itupun jika memang Pak Ustadz masih mencintai Anisa, tapi jika..."


Wisnu terdiam sejenak, dilihatnya Ridwan yang begitu gelisah di tempatnya,


"Tapi jika Pak Ustadz ternyata telah memiliki pilihan lain, tidak apa, biar saya yang akan melakukan semuanya untuk Anisa, hubungan kalian adalah masa lalu, jadi saya anggap semua telah selesai, dan saya tak akan mempermasalahkannya."


Ujar Wisnu dengan sikap yang begitu dewasa.


Ridwan menghela nafas, mendengarkan perkataan Wisnu yang begitu tegas dan lugas, menunjukkan ia memang laki-laki yang luar biasa percaya diri dan sekaligus juga sangat memegang teguh prinsipnya sendiri.


Wisnu jelas terdidik dengan baik. Ia tipe pemimpin yang jelas akan jadi imam yang baik untuk rumah tangganya kelak.


Kagum hati Ridwan atas pribadi Wisnu yang demikian.


"Panjenengan ikhlas dan ridho kan Pak Ustadz, apabila akhirnya saya yang menikahi Anisa?"


Tanya Wisnu akhirnya,


Ridwan menatap Wisnu sejenak, yang tentu saja tak ada alasan bagi Ridwan untuk menggeleng.


Ya, seberat apapun hati Ridwan, nyatanya Ridwan haruslah melepaskan Anisa untuk Wisnu.


Bukankah ini ujian ikhlas?


Ikhlas melepaskan rasa cinta dan mimpi yang telah ia miliki begitu lama dengan gadis pujaannya.


Menggantikan cinta dan mimpinya kini hanyalah pada Allah semata.


"inshaAllah, saya ikhlas Mas Wisnu, toh sudah jelas Pak Haji Syamsul tak merestui saya, meskipun mungkin saya bisa saja berusaha untuk meraih restu itu, namun hinaan dan cacian Pak Haji Syamsul juga telah melukai hati kakak perempuan saya, dan juga pastinya Ibu saya. Lagipula, saya yakin Mas Wisnu akan lebih mampu dan sanggup melakukan banyak hal untuk Anisa dibandingkan saya."


Wisnu yang mendengar penuturan Ridwan tampak menunduk, ia sebagai sesama laki-laki tahu betul pasti mengatakan semua itu adalah sangat berat bagi Ridwan, tapi tampaknya Ridwan memang sangat menyayangi keluarganya, apa yang dilakukan Pak Haji Syamsul yang menyakiti keluarganya itulah yang sepertinya memang membuat Ridwan lebih memilih untuk tidak lagi memperjuangkan cintanya.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2