Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
123. Undangan


__ADS_3

Hari berlalu musim berganti, Ridwan mulai melupakan masa kelam atas cintanya yang kandas dan menerima dengan ikhlas semuanya akhirnya hanya sebatas mimpi.


Ridwan telah mulai sibuk dengan pembangunan rumah Tahfiz dan juga pondok untuk anak-anak yatim dan duafa.


Ridwan juga mulai menyeleksi ustadz dan ustadzah muda yang akan menjadi tenaga pengajar di bawah naungan yayasan milik Pak Sahudi.


Yayasan yang akhirnya diganti nama menjadi Al Mubarak itu pun kini telah mendapatkan pengesahan dari kementerian, segala hal yang terkait dengan perijinan dan segala macamnya pun telah diuruskan oleh wakil ketua yang sengaja diambil dari salah satu jamaah di masjid Uswatun Hasanah yang masih menjadi mahasiswa aktif.


Tentu, sesuai keinginan pak Haji Imron yang memang salah satunya adalah ingin menjadikan yayasan juga sebagai wadah anak muda terjun aktif mengabdi pada umat, agar ada regenerasi di tengah masyarakat mereka.


Sementara itu, di rumah Mbak Wening juga usaha keripiknya mulai semakin maju, pesanan mulai datang dari berbagai penjuru, bukan hanya perorangan, tapi juga permintaan dari warung dan toko juga semakin banyak.


Ridwan bahkan memesankan banner untuk usaha keripik kakak perempuannya tersebut, dengan nama AW KERIPIK, banner berwarna kuning ngejreng itu dipasang di depan rumah.


Bukan hanya banner, tapi Ridwan juga membuatkan plastik dengan cap bertuliskan nama usaha Mbak Wening, dan juga mesin untuk merekatkan plastik pembungkus keripik supaya Ibunya tak usah terlalu lelah membantu Mbak Wening merekatkan plastik dengan api lilin.


Pelahan tapi pasti, ekonomi keluarga Ridwan memang semakin membaik dan bertambah berkah sejak Mbak Wening memutuskan membuka usaha sendiri dan Ridwan juga mulai mengurus yayasan.


Hubungan Ridwan dengan Iis juga bisa dibilang pelahan menjadi dekat, meski belum dalam taraf saling mengakui perasaan masing-masing, namun jelas sekali di antara keduanya saling mengagumi satu sama lain.


Iis juga bisa dibilang sangat berperan membantu perkembangan bisnis rumahan Mbak Wening, karena banyak pelanggan Mbak Wening adalah dari teman-teman Guru Iis di sekolah maupun juga yang mengajar di sekolah yang berbeda namun sering bertemu di banyak acara.


Iis sering datang berkunjung ke rumah Ridwan juga kadang hanya untuk mengambil pesanan, atau kadang juga mengantar teman yang ingin langsung membeli langsung ke tempat Mbak Wening.


Atas hubungan baik itu pula, Iis semakin diterima di tengah keluarga Ridwan.


Iis bukan hanya dekat dengan Mbak Wening yang banyak dibantu akan usaha keripiknya, tapi Iis pun menjadi dekat dengan Ibunya Ridwan.


"Ada banyak yang mulai tanya-tanya apa sedia keripik kentang dan bayam, mungkin ada baiknya nanti bisa ditambah lagi Mama Ajeng."


Kata Iis pada Mbak Wening,


Hari ini sejak pulang mengajar Iis memang datang ke rumah Ridwan untuk bertemu Mbak Wening mengantarkan uang temannya yang kurang bayar pesanan beberapa hari lalu.


Ridwan sendiri dari sekolahan langsung menuju lokasi pembangunan rumah tahfiz dan pondok anak yatim yang sudah mulai dikerjakan mendekati lima puluh persen.


"Sudah pernah dicoba keripik kentang tapi rasanya belum pas, malah diejek Ajeng terus Bu Guru."


Kata Mbak Wening membuat Iis tertawa.


Iis yang jika datang sudah tidak lagi hanya duduk di ruang tamu kini tampak ikut duduk selonjoran di ruang TV sambil membantu Mbak Wening menimbang keripik-keripiknya.

__ADS_1


"Nanti lagi cari orang yang bisa bantu goreng keripik dulu Bu Guru, soalnya sudah kewalahan sekali rasanya saya ini."


Ujar Mbak Wening, tampak Iis mengangguk,


"Ya seharusnya memang begitu Mama Ajeng, supaya ada waktu istirahat juga."


Ujar Iis.


Mbak Wening mengangguk,


"Enggih Bu."


Iis kembali membantu Mbak Wening menimbang beberapa bungkusan keripik yang baru diisi Mbak Wening sebelum nantinya ia rekatkan.


Hingga tiba-tiba hp Iis berdering, agak terkejut Iis karena suara hp nya.


Iis lantas segera meraih hp nya itu.


Tampak nama Anisa di layar hp miliknya, Iis pun meminta ijin pada Mbak Wening untuk menerima panggilan Anisa lebih dulu.


"Ya halo Nis,"


"Is, besok malam ada acara tidak?"


Tanya Anisa dari seberang sana.


"Aku, tidak ada Nis, pengajian di pondok kan lusa, jadi besok malam aku kosong tak ada acara, hanya ada les anak-anak itu kan sore."


Ujar Iis.


"Hmm kalau begitu, bisa ya datang ke rumah?"


Tanya Anisa lagi,


"Ke rumah kamu?"


Iis balik tanya.


"Ya Is, ke rumahku, besok, habis Isya, sama Ibu ya."


Kata Anisa.

__ADS_1


"Ada acara kah?"


Tanya Iis,


"Iya Is, inshaAllah besok aku akan..."


Betok... betok... betok...


Ayam Mbak Wening tiba-tiba terdengar betak betok, hingga suara Anisa tak terdengar saat menjawab pertanyaan Iis,


"Aduh apa tadi Nis, ada acara apa?"


Tanya Iis minta diulang,


Anisa tertawa jadinya karena mendengar suara ayam ribut di sekitar tempat Iis menjawab telfon.


"Sori Nis, ini banyak ayam."


Kata Iis yang jadi tertawa juga,


"Kamu lagi di mana sih, kenapa angkat telfon di kandang ayam?"


Anisa terus tertawa,


"Aduh sudah deh, jangan bahas, kamu tadi apa? Ada apa? Acara apa Nis?"


Iis akhirnya mengembalikan topik pembicaraan,


"Iya Iis, iya, baiklah..."


Anisa berusaha meredakan tawanya. Bayangan Iis duduk di sebelah kandang ayam sambil serius pegang hp membuat Anisa benar-benar merasa geli dan jadi ingin terus tertawa.


Iis yang mendengar Anisa tertawa melulu jadi senyum sendiri, rasanya belakangan Anisa memang sudah mulai sering tertawa, tapi hari ini ia sungguh-sungguh seperti sedang bahagia.


Entah apa yang membuat Anisa begitu bahagia, tapi sebagai sahabat apapun itu Iis tentu saja ingin ikut serta merasakan kebahagiaan Anisa agar bisa menemaninya tertawa.


"Ya Is, inshaAllah aku akan ada acara lamaran Is dengan Mas Wisnu, jadi mohon datang ya Is sama Ibu."


Pinta Anisa.


**------------**

__ADS_1


__ADS_2