
Sore hari Mbak Wening tampak pulang dengan sepeda ontelnya, tepat saat Ridwan baru pulang dari masjid untuk sholat Asar.
"Habis Jamaah Wan?"
Tanya Mbak Wening.
"Iya Mbak,"
Ridwan menyalami Kakaknya dan mencium tangan kakak perempuan satu-satunya itu.
Ridwan lantas mengambil alih untuk mengangkat sepeda ontel Mbak Wening naik ke teras dan memasukkannya ke dalam rumah.
"Hari ini Ajeng tidak les katanya."
Ujat Ridwan pada Mbak Wening yang mengambil satu bungkusan dari keranjang depan sepedanya.
"Iya, kan les tidak setiap hari Wan."
Kata Mbak Wening.
"Kebetulan Guru les Ajeng ternyata guru di sekolah aku mengajar Mbak."
Tutur Ridwan.
"Ooh iya, benar..."
Mbak Wening mantuk-mantuk sambil membuka jilbabnya.
"Bu Guru Iis memang mengajar di SDN dua Waru, Alhamdulillah berarti kalau begitu, setidaknya kamu sudah ada yang kenal."
Kata Mbak Wening.
"Siapa yang kenal?"
Tiba-tiba Ibu muncul dari kamarnya, ia baru menyelesaikan sholat asar di kamar.
Mbak Wening dan Ridwan bergantian menyalami Ibunya.
"Ini Ridwan ternyata mengajar di tempat yang sama dengan Bu Guru les nya Ajeng."
Kata Mbak Wening.
Ibu lantas melangkah ke arah meja TV dan menyetel TV yang menayangkan acara lomba memasak.
Ibu lalu duduk naik ke ranjang besi yang ada di depan TV, duduk selonjoran di sana, kasur kapuk yang berusia sudah cukup lama terasa keras saat diduduki.
Di sebelah ranjang besi, ada satu kursi kayu panjang model jaman dulu, Ridwan duduk di sana menemani Ibunya.
"Oh lupa, ini dari mbak Faizah, tadi mau buat oleh-oleh tamunya pak Haji tapi ternyata kebanyakan belinya Mbak Anisa, jadi ini disuruh Mbak Faizah dibawa pulang."
Mbak Wening meletakkan dus kue di kursi kayu panjang yang untuk duduk Ridwan.
Ridwan yang begitu mendengar nama Anisa disebut tampak tersenyum tanpa alasan.
Memang aneh manusia, jika saat jatuh hati, mendengar namanya saja rasa hati sudah tak karuan.
"Ibuuuu..."
Terdengar suara Ajeng dari luar yang masuk ke dalam kamar.
"Heeeii, dibilangin kalau masuk rumah ucap salam Ajeeeeng..."
Omel Mbak Wening.
"Eh iya..."
Ajeng cekikikan, lalu bocah itu yang sudah masuk sampai pintu ruang tengah tiba-tiba balik lagi keluar, dan mengulang gerakannya masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum..."
__ADS_1
Kata Ajeng.
Tentu saja hal itu jadi membuat Mbak Wening dan Nenek serta Ridwan tertawa.
"Waalaikumsalam... waalaikumsalam..."
Jawab ketiganya pula kompak.
"Ajeng revisi."
Kata Ajeng membuat Ridwan makin tertawa dengan tingkah keponakannya.
"Weh, kue, Paman beli kue?"
Ajeng mendekati Ridwan, lalu bergelayut manja pada sang Paman.
"Potong Paman... Potong..."
Kata Ajeng.
Mbak Wening menghela nafas,
"Mandi dulu Ajeng, kamu pasti habis main di sawah itu, baju kotor semua."
Marah mbak Wening.
"Ikut bantu Nurul Bu, tadi bawa jajanan buat orang-orang yang lagi pada sibuk panen."
Ujar Ajeng.
"Sudah mulai panen to?"
Tanya Ibu pada Mbak Wening.
"Enggih Bu, yang sebelah barat dulu kayaknya."
Kata Mbak Wening.
Kata Mbak Wening.
"Iya Ning, seadanya saja, makan itu tidak perlu berlebihan, yang ada saja di rumah diolah."
Kata Ibu.
"Ya tadi Wening cuma bisa belanja tempe mendoan saja soalnya, tidak bisa beli macam-macam karena kita tidak ada kulkas untuk simpan bahan makanan."
"Iya, beli kulkas dong Paman,"
Ajeng tiba-tiba menarik lengan Ridwan,.
Melihat itu, Mbak Wening segera mendekati Ajeng dan menariknya menjauh dari Ridwan.
"Kamu ini, jangan suka ganggu Pamanmu ah, belum juga kerja sudah dimintai kulkas."
Kata Mbak Wening, membuat Ajeng cekikikan.
Ridwan tersenyum ke arah Ajeng.
"InshaAllah ya Ajeng, semoga Paman segera bisa belikan kulkas."
"Aamiin, semoga Paman Ridwan bisa beli kulkas dan segenap isinya."
Doa Ajeng, membuat semua tertawa lagi.
**--------------**
Pukul lima sore, ketika Ridwan di belakang rumah sedang menimba air untuk memenuhi bak di kamar mandi, terdengar Ajeng memanggil-manggil dari ruang dalam dan kemudian muncul dari pintu belakang dapur.
"Paman... Paman Ridwan... Ada Pak haji Imran."
__ADS_1
Kata Ajeng seraya menghampiri Ridwan di sumur,
"Ada apa Ajeng?"
Tanya Ridwan.
Ajeng menggeleng.
"Tidak tahu paman, kan Ajeng tidak boleh tanya."
Kata Ajeng.
Ridwan tersenyum,
"Baiklah, Ajeng sampaikan pada Pak Haji dengan sopan agar Pak Haji menunggu sebentar."
Ujar Ridwan.
Ajeng pun mengangguk.
Ajeng lantas berlari lagi ke dalam, untuk kemudian ke ruang tamu di mana Haji Imron tengah ditemui Nenek.
"Iya Pak Haji, memang baru beberapa hari pulang, jadi saya juga belum sempat ingatkan Ridwan untuk melaporkan pada ketua RT."
Kata Ibu.
"Nggih Bu, tidak apa-apa, lagipula Ridwan kan asli putra daerah sini, nanti-nanti juga tidak ada masalah."
Ujar Pak haji Imron yang lantas terkekeh.
Sekitar lima menit berselang, ketika akhirnya Ridwan muncul dari ruang dalam.
Pemuda itu tampak dengan sopan bersalaman dengan Pak haji Imron, salah satu orang yang dituakan di daerah Ridwan tinggal.
Tentu saja, selain karena Pak Haji Imron orang yang cukup dianggap alim, beliau juga memang anak keturunan orang terpandang di kampung Waru.
"Maaf ini nak Ridwan, mungkin ganggu waktu istirahatnya."
Kata Pak Haji Imron.
Ibu begitu Ridwan tampak muncul menemui tamunya, maka Ibu permisi masuk ke ruang dalam, dan meninggalkan Pak Haji Imron berbincang dengan Ridwan.
"Begini Nak Ridwan, ini kan tadinya banyak anak-anak warga yang mengaji di tempat saya dan yang mengajar Ustadz Sholeh, karena beliau pindah mendadak, jadi saya kasihan ini melihat anak-anak kok yo malah berhenti ngajinya."
Kata Pak Haji Imron.
"Jadi, ini kalau misalnya Nak Ridwan bersedia, saya ingin Nak Ridwan kalau sore menggantikan Ustadz Sholeh mengajari anak-anak warga kampung kita baca Alquran nak, ya sekalian misal doa-doa sederhana saja untuk sehari-hari, namanya anak-anak itu kan harus diajari yang baik-baik supaya yang membekas dalam dirinya itu hal yang baik-baik juga."
Tambah Pak Haji Imron.
Ridwan mengangguk.
"Nggih Pak Haji, saya sependapat kalau anak-anak memang seharusnya diajarkan kebiasaan baik sedari dini, karena itu akan terus diingat dan akan terus jadi kebiasaan."
"Maka dari itu Nak Ridwan, mohon nak Ridwan bersedia untuk menggantikan ustadz Sholeh yang telah pindah ke kota lain."
Pak Haji Imron seolah sungguh-sungguh meminta tolong.
Ridwan tentu saja jadi merasa tidak enak.
Lagipula...
[Sesungguhnya, ketika manusia meninggal, akan terputuslah seluruh amalnya, kecuali adalah tiga perkara, yaitu : 1. Anak yang soleh. 2. Amal jariyah dan 3. Ilmu yang bermanfaat]
Ridwan ingat terus hadits tersebut, dan inginnya Ridwan tentu saja bisa memiliki ketiganya.
Ridwan menatap Pak Haji Imron, lalu...
"Sebetulnya secara ilmu saya belum sepadan dengan ustad Sholeh, pak haji. Namun, dengan ilmu saya yang sedikit ini, bismillahirrahmanirrahim... Saya niatkan karena Allah, inshaAllah saya akan mencobanya."
__ADS_1
Kata Ridwan akhirnya memutuskan.
**----------------**