
Iis turun dari boncengan motor Ridwan ketika akhirnya motor Ridwan sampai mengantarkan Iis ke rumah.
Tampak Iis wajahnya masih basah oleh air mata, membuat Ridwan jadi merasa tak enak dan sekaligus merasa bersalah.
"Maafkan saya Bu Iis, karena akhirnya jadi tak sengaja melibatkan Bu Iis dalam masalah ini. Sungguh saya tidak..."
Iis tampak cepat menggelengkan kepalanya,
"Sudah Pak Ridwan, tidak apa-apa, dibandingkan Anisa, saya masih jauh lebih baik."
Kata Iis.
Ridwan terlihat mengangguk pelan, mungkin kenyataannya memang demikian, hati Anisa lah saat ini yang paling hancur dibandingkan siapapun, tapi Ridwan yakin, Anisa akan bisa melewati semuanya dengan baik.
"Baiklah, saya pamit langsung nggih Bu, sore saya harus mengajar mengaji, dan adalah pertemuan dengan para pengurus lain di yayasan Pak Sahudi."
Kata Ridwan akhirnya.
Iis tampak mengangguk mengiyakan, ia juga sudah ingin segera istirahat, bahkan hari ini sepertinya ia akan meliburkan jadwal les anak-anak.
Ridwan lantas melajukan motornya untuk meninggalkan pelataran rumah Iis.
Iis baru akan masuk rumah, manakala Mbak Tiwi tampak melintas dan kemudian masuk ke pekarangan rumahnya sendiri.
"Mbak Iis, sudah pulang to, itu tadi saya chat lho rumahnya belum dikunci, ini kuncinya di saya."
Kata Mbak Tiwi.
"Lho katanya Mbak Tiwi lagi tidak di rumah?"
Iis yang baru ingat tadi sempat kalang kabut lupa soal kunci pintu akhirnya turun dari teras lagi, dan menghampiri Mbak Tiwi di rumah samping.
"Lah begitu panjenengan chat itu, karena saya jadi ikut kepikiran akhirnya saya pulang, kebetulan ada saudara yang pulang jadi saya ikut."
Ujar Mbak Tiwi.
"Ya Allah, saya jadi tidak enak, jadi ganggu Mbak Tiwi to."
__ADS_1
"Ah tidak apa,"
Ujar Mbak Tiwi.
"Kebetulan kitten saya juga lagi ada yang sakit, khawatir kalau pergi terlalu lama."
Mbak Tiwi turun dari motornya, lalu sambil menenteng kresek kecil dengan tulisan nama pet shop langganannya mbak Tiwi mengajak Iis masuk ke rumahnya.
"Iis di sini saja Mbak,"
Kata Iis.
"Oalah, takut kucing to?"
Tanya Mbak Tiwi.
Iis menggeleng seraya tersenyum,
"Mboten Mbak, saya suka kok sama kucing, cuma sudah ingin cepat masuk rumah saja, capek sekali hari ini."
Kata Iis.
Ya, biasalah anak muda. Batin Mbak Tiwi.
"Baiklah, sebentar ya, Mbak Ambilkan."
Kata Mbak Tiwi.
Lalu ia masuk ke dalam rumah, terdengar langsung suara meang meong di dalam begitu ramai.
Mbak Tiwi ini tinggal sendirian, hanya ada satu pembantu yang kadang bantu dia bersih-bersih rumah, tapi tidak menginap.
Tak lama, Mbak Tiwi keluar dari dalam rumah lagi, sambil menggendong satu kitten lucu berwarna hitam penuh, dan juga kunci rumah milik Iis.
"Maturnuwun sanget nggih Mbak."
Kata Iis begitu menerima kunci rumahnya, tak lupa ia mengusap kepala kitten di gendongan Mbak Tiwi.
__ADS_1
"Lucu banget, siapa namanya Mbak?"
Tanya Iis.
"Namanya Tole-tole."
Jawab Mbak Tiwi membuat Iis tertawa kecil.
Setelah itu, Iis pun pamit pulang, ia ingin mandi dengan air hangat, lalu menyeduh teh dan membuat mie rebus yang pedas.
Ia butuh keluar keringat dan pusing di kepalanya bisa mereda.
"Oh Mbak Iis."
Panggil Mbak Tiwi sebelum Iis naik ke teras rumahnya sendiri, Mbak Tiwi berdiri di balik pagar bambu sebelah rumah Iis.
"Nggih Mbak."
Sahut Iis.
Mbak Tiwi tersenyum,
"Calon suaminya tampan sekali, semoga cepat ya, nanti Mbak Tiwi bantu mengiris kentang."
Seloroh Mbak Tiwi, yang jelas saja membuat Iis langsung kelabakan.
"Aduh sopo Mbak calon suami, Iis belum punya og."
Iis sibuk menyanggah.
Mbak Tiwi tertawa,
"Wis pokoke tadi Mbak lihat kok, cocoklah pokoknya, malah kayaknya beberapa kali pernah lihat juga sebelumnya. Alhamdulillah Mbak Iis sudah ada calon, pokoknya mbak doakan ya... bismillah semoga semuanya lancar."
Ujar Mbak Tiwi tulus.
Iis akhirnya jadi bingung harus menjawab apa lagi.
__ADS_1
**--------------**