Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
162. Kita Saudara


__ADS_3

Ridwan dan Iis akhirnya pergi meninggalkan sekolahan mereka mengajar dengan berboncengan lagi, tentu di tengah antara Iis dan Ridwan terdapat tas Iis sebagai pembatas.


Sebagaimana rencana, mereka pun langsung menuju masjid agung kota untuk melaksanakan sholat dzuhur lebih dulu, baru setelah itu mencari tempat makan sambil menunggu kabar Pak Haji Imron pulang.


Sesampainya mereka di masjid agung, keduanya pun masing-masing langsung menuju tempat wudhu yang disediakan, Ridwan di tempat wudhu khusus pria, sementara Iis ke tempat wudhu wanita.


Tempat wudhu wanita berada di sebelah kanan bangunan masjid, melewati sebuah mesin ATM beras yang diletakkan agak menjorok ke dalam dari area parkir.


Mesin ATM beras di masjid agung kota sudah mulai ada sejak satu tahun lalu sejak konon salah satu anggota dewan pengurus masjidnya dulu sempat tinggal di Yogyakarta.


Anggota ini melihat di masjid Joglokariyan yang memiliki ATM beras dan itu tentu sangat bermanfaat untuk umat yang kurang mampu.


"Bismillahirrahmanirrahim... Allahummaf tahlii abwaaba rohmatik."


(Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rohmat-Mu).


Setelah itu Ridwan masuk dengan kaki kanan terlebih dahulu ke masjid setelah mengambil air wudhu.


Ada beberapa orang yang juga tengah melaksanakan sholat Dzuhur, di antaranya adalah pedagang kaki lima yang baru sempat mampir ke masjid dan tertinggal waktu jamaah.


Ridwan lantas mengambil tempat di sisi sebelah kiri dekat jendela besar masjid. Kaligrafi indah terlihat menghiasi bangunan masjid agung, pun juga lampu-lampu kristal besar yang digantung di atas.


Indah tentu saja terlihat, tapi Ridwan tak begitu setuju dengan terlalu banyaknya masjid yang hanya fokus membangun fisik daripada membangun kualitas masjid itu sendiri.


Mesjid yang sebagaimana di jaman Rosulullah, yang biasa-biasa saja namun fungsinya luar biasa untuk ummat.


Di mana di sana selain untuk sholat, mengaji, menimba ilmu, juga digunakan untuk bersilaturahmi dengan saudara sesama muslim.


Bukan hanya saling mengenal, namun juga menumbuhkan hubungan sosial yang lebih erat, yang di mana ketika salah satu jamaah tidak terlihat hadir, maka yang lain akan kehilangan lalu akan mencari kabarnya, karena takut ia sakit, atau ada hal yang terjadi atas dirinya.


Dan apabila orang itu sakit maka dijenguklah, jika ia meninggal maka bertakziah, jika ia memiliki masalah maka bersama-sama membantu memberikan solusi.


Seperti sebuah riwayat yang ada salah satu jamaah masjid di jaman Rosulullah sampai beberapa hari tak ikut sholat berjamaah lalu Rosulullah kehilangan sosoknya. Maka bertanyalah Rosulullah selepas sholat pada para sahabat atas keadaan orang itu.


Singkat cerita, sosok itu ternyata setiap kali akan ke masjid, ia dihadang orang yahudi karena sosok itu memiliki hutang pada si orang Yahudi, dan ia belum juga mampu membayar, maka Rosulullah mendatanginya dan memberikan solusi.

__ADS_1


Inti dari kisah di atas tentu adalah salah satu fungsi masjid adalah seorang pemimpin yang juga menjadi imam di saat sholat berjamaah di masjid akhirnya juga bisa melihat kondisi dan situasi umatnya, warganya, masyarakatnya, yang ada di bawah penjagaannya.


Alhmdulillah lagi, jika bangunan masjid sudah sedemikian indah, fungsinya juga sama indahnya, hingga tercipta kondisi masyarakat yang solid, yang tak sampai ada dari mereka yang memiliki masalah dipikir sendirian, dihadapi sendirian, apalagi sampai tak punya solusi.


Ridwan masih masuk rokaat kedua, ketika di belakangnya seseorang menepuk satu kali dengan lembut tanda bahwa ia makmum di belakang Ridwan.


**----------------**


"Maka dulu Mbok Yem,"


Kata Mbak Wening pada Mbok Yem yang sedang menyelesaikan menggoreng keripik tempe.


"Iyo itu Mbok, makan lalu sholat dzuhur dulu."


Kata Ibu seraya ke dapur untuk mengambil piring.


Mbak Wening yang melihat Ibu mengambili piring tampak langsung sigap menggantikan.


"Wis Wening saja Bu."


Ibu yang sejatinya memang tangannya sedikit kebas karena sempat lelah memarut kelapa untuk membuat serundeng akhirnya membiarkan Mbak Wening mengambil alih.


"Ayuk Yem, makan sayur sop baso ini sama ayam srundeng."


Kata Ibu.


"Aduh moso aku harus pakai merepotkan makan juga."


Ujat Mbok Yem.


"Lho makan yo harus Yem, jo ngunu ngomonge lho. Di sini membantu Wening goreng keripik yo secara otomatis panjenengan sudah masuk keluargaku, yang aku wajib ngajak makan dan wajib juga mengingatkan sholat."


Kata Ibu sembari masuk ke ruang dalam.


"Nggih Mbak Yu, sebentar lagi ini selesai."

__ADS_1


Kata Mbok Yem.


Ya, Mbok Yem ini memang dulunya waktu masih kecil dan remajanya sempat berteman dengan Ibunya Ridwan meski tidak akrab.


Mbak Wening tampak mengikuti Ibunya masuk ke dalam dan langsung menuju ruang makan membawa piring-piring kosong yang akan digunakan untuk makan siang bersama.


"Jeng... maem dulu, maem."


Kata Mbak Wening sambil meletakkan piring-piring di atas meja makan yang di sana sudah terlihat sahur sop dan ayam goreng kering serta sambal, juga tahu goreng.


"Anakmu.ketiduran itu di depan TV."


Ujar Ibu.


Mbak Wening pun menoleh ke arah Ibunya, baru kemudian ke arah kursi kayu panjang di mana Ajeng sejak pagi memang meminta berbaring di sana.


Mbak Wening menghela nafas,


"Jangan dibangunkan, biar saja, nanti juga bangun sendiri."


Kata Ibu.


"Tapi harus dibangunkan to Bu, masa tiduran senyenyak itu di depan TV."


"Yo untuk kali ini dimaklumi saja to, wong dia namanya pasti jenuh tidak ketemu teman-temannya di sekolah, hanya di rumah saja sampai beberapa hari ke depan yo masa harus ditambah di marahi juga, kan yo Ibu sendiri tidak bisa menerima cucu Ibu dibentak-bentak."


Ujar Ibu pada Mbak Wening yang akhirnya memilih mantuk-mantuk saja supaya tidak kena omelan.


Mbok Yem tampak sudah menyelesaikan tugasnya menggoreng keripik tempe untuk pesanan orang kelurahan.


"Makan dulu ayuk bareng-bareng."


Ajak Ibu Semangat.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2