Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
84. Tak Akan Mengijinkannya


__ADS_3

"Allahu Akbar Allahu Akbar..."


Terdengar Adzan maghrib berkumandang, mengiring langit yang berwarna lembayung nan cantik.


Kilau matahari pun meredup sudah, turun bersembunyi di balik bukit di kejauhan, memberikan ruang untuk rembulan agar bisa menggantikan.


Mbak Wening mengayuh sepedanya dengan lebih cepat, begitu sampai jalan kampung, ia berpapasan dengan anak-anak remaja laki-laki yang kos di sekitar sana rapi memakai sarung dan baju koko menuju masjid.


Bapak-bapak juga ada pula yang juga berpapasan dengan Mbak Wening, yang di mana mereka juga akan menuju masjid.


Sawah membentang di sepanjang jalan tersinari sisa-sisa sinar matahari yang sebentar lagi akan benar-benar menghilang, padi-padinya yang telah selesai dipanen kini menyisakan tanah sawah yang akan menunggu digarap lagi oleh para petani.


Ah yeah, petani, mereka orang-orang yang kerap dilupakan, betapa mereka bekerja seharian di sawah sebagai bagian dari orang-orang yang membuat kebutuhan pangan di negeri ini tercukupi.


Para buruh tani itu sekarang telah tua, tak banyak generasi muda yang mau turun ke sawah dan meneruskan mereka.


Gaya hidup yang kini menuntut banyak orang bersikap macam artis dengan konten tak berfaedahnya, membuat dorongan mendapatkan rupiah dalam jumlah yang banyak mengalahkan keinginan untuk mempertahankan profesi yang sejak nenek moyang telah digeluti.


Negeri gemah ripah loh jinawi seakan menuju kekurangan pangan suatu saat, di mana nanti buruh tani tak lagi ada, dan para pemilik tanah menyerah mempertahankan tanah-tanah sawah mereka.


Tanah sawah dijual, didaratkan, dijadikan kaplingan, perumahan, lalu sadar-sadar kita tak bisa menemukan beras semudah sekarang.


Mbak Wening mengayuh sepedanya mendekati halaman rumahnya yang kini lampu terasnya telah dinyalakan, terbayang langsung bagaimana nanti Ajeng protes karena Mbak Wening telat pulang, dan tak jadi mengajaknya jalan-jalan.


Untunglah, Mbak Wening sempat beli martabak, kalau tidak sudah jelas Ajeng akan ngambek semalaman.


Mbak Wening turun dari sepedanya begitu akhirnya ia sampai di depan rumah. Adzan Maghrib kini telah digantikan suara orang di masjid bersholawat,


Mbak Wening menuntun sepedanya naik ke teras, lantas membuka pelan handle pintu dan memasukkan sepedanya begitu pintu utama rumahnya itu telah terbuka sempurna.


"Assalamualaikum..."


Ucap Mbak Wening, bersamaan dengan ia masuk dan Ajeng berlari dari dalam karena lebih dulu mendengar suara derit pintu rumah yang terbuka.


"Hmm Ibu to suka ingkar janji."


Langsung saja Ajeng mengomel.


"Jawab salam dulu, baru mengomel."


Kata Mbak Wening.


Ajeng mengerucutkan bibirnya, meskipun akhirnya tetap menurut menjawab salam.


"Ibu tadi lama ngobrol dengan Bu Bejo, jadi kesorean, tapi Ibu beli martabak ini buat Ajeng."


Kata Mbak Wening seraya mengulurkan pada Ajeng kresek berisi kotak martabak yang ia sengaja belikan.


"Asiiik..."


Ajeng langsung jingkrak-jingkrak,


"Sore sekali Ning,"

__ADS_1


Ibu juga muncul dari ruang dalam, melongok dari balik korden yang dipasang untuk pintu pembatas ruangan depan dan ruangan tengah yang di mana ada ruang TV, ruang makan, dan tiga kamar milik Ibu, Ridwan dan juga Mbak Wening.


Mbak Wening mengambil kresek berisi tempe yang ia beli dari Bu Bejo, lalu berjalan menghampiri Ibunya untuk bersalaman.


"Ngobrol dengan Bu Bejo, Bu."


Kata Mbak Wening.


"Bu Bejo masih mengurus sendiri usaha tempenya?"


Tanya Ibu, kini mereka masuk ke ruang tengah, sementara Ajeng tampak pergi ke dapur tanpa disuruh untuk mengambil piring kosong.


"Masih Bu, sejak Pak Bejo meninggal, Bu Bejo malah yang handle semua lapaknya di tiga pasar."


"Ooh, luar biasa ya."


Ibu mantuk-mantuk,


"Ini kalau tempe produksi Pak Bejo dan Bu Bejo, tempenya bagus untuk dibuat keripik, tadi ketemu Ibu-ibu pada tanya keripik tempe, jadi besok Wening akan coba buat beberapa bungkus."


Tutur Mbak Wening.


"Iya, keripik tempe sepertinya akan lebih laris Ning."


"Enggih Bu, kayaknya begitu."


Mbak Wening tampak sangat sumringah.


Kata Ibu memberi nasehat, Mbak Wening mengangguk,


"Nggih Bu, inshaAllah kok Wening selalu mensyukuri setiap rejeki dari Allah."


Kata Mbak Wening pula.


"Nanti kalau sudah benar-benar bisa untuk pemasukan utama, pisang yang Wening ambil selama masih ada di dalam kebun Ibu akan Ibu ganti saja Bu,"


Ujar Mbak Wening,


"Wis tidak usah, wong apapun yang dimiliki orangtua yo itu milik anak juga, tidak usah dihitung-hitung begitu Ning."


Ibu menolak halus,


"Yo kan ini tetap bisnis to Bu."


Ibu menghela nafas,


"Sudah tidak usah dibahas Ning, itu semua yang tumbuh di kebon kamu kelola saja, Ibu melihat semuanya bisa jadi uang saja Ibu sudah bersyukur dan ikut senang."


Kata Ibu yang selalu tulus, membuat Mbak Wening jadi terharu.


Ah sungguh beruntung memang anak-anak yang tumbuh hingga dewasa dalam penjagaan dan pengayoman Ibunya, saat sang Ibu masih hidup, sehat dan masih dengan tulus mengurus, itu tentu adalah keberkahan.


"Wis Ning, ambil wudhu lalu sholat, tadi sore Ridwan sudah telfon lagi."

__ADS_1


Kata Ibu memberitahu Mbak Wening.


Tadi Mbak Wening memang sengaja hp nya ditinggalkan di rumah, selain memang karena hp nya ngedrop.


Ya hp Mbak Wening memang cepat ngedrop karena baterainya sudah soak. Ingin beli lagi tapi uangnya masih terpakai terus untuk kebutuhan sekolah Ajeng dan juga untuk bantu kebutuhan rumah sehari-hari.


"Oh Alhamdulillah kalau Ridwan sudah telfon lagi Bu."


"Malah tadi telfonnya yang ada vidionya, yang kayak lihat TV."


Ujar Ibu.


"Oalah Vidio call?"


"Yo tidak tahu, Ibu kan tidak paham begituan, anakmu itu lho yang bisa ganti jadi ada Ridwannya kayak TV."


"Paman kamarnya besaaaar sekali Bu, ada TV nya, ada kulkasnya, ada springbednya, trus juga ada jendela kaca besar yang begitu Paman buka bisa lihat Jakarta Bu."


Ajeng yang sedang sibuk memindahkan martabak ke atas piring ikut nimbrung.


"Kapan-kapan kita ke sana ya Bu..."


Rengek Ajeng kemudian.


Mbak Wening dan Ibu jadi berpandangan dan akhirnya hanya mampu geleng-geleng kepala,


Tidur di hotel begitu buat Mbak Wening ya lebih baik untuk beli gorengan bisa untuk satu bulan. Batin Mbak Wening.


"Wis ayo sholat dulu, sudah iqomat itu."


Kata Ibu kembali mengingatkan,


"Ajeng ngajinya sudah sampai surah An-nisa Mbah, nanti ngaji sama Mbah saja."


Ajeng turun dari kursi lalu berjalan ke arah si mbah.


"Iyo sana wudhu dulu, lalu sholat sama Mbah dan ngaji sama Mbah juga."


Ajeng mengangguk,


Mbak Wening yang mendengar Anisa malah jadi ingat sosok Anisa yang tadi sempat Mbak Wening lihat di mobil bersama laki-laki di lampu merah.


Ya, Mbak Wening yakin sekali jika itu adalah mbak Anisa.


Katanya tidak ada di rumah melarikan diri karena Ridwan, tapi hari ini malah Mbak Wening melihat dia bersama teman laki-laki yang wajahnya tak begitu asing untuk Mbak Wening.


Tak Mbak Wening sangka, ternyata Anisa juga sama saja dengan keluarganya, begitu meremehkan Ridwan, sama sekali tak menghargai keberadaan Ridwan.


Sungguh Mbak Wening akan memastikan dengan sungguh-sungguh agar Ridwan tidak lagi berharap pada Anisa.


Sekalipun Ridwan kelak sukses dan Pak Haji Syamsul langsung yang meminta Ridwan jadi menantunya, menjadi suami dari anak gadisnya, Mbak Wening rasanya tak akan mengijinkannya.


**----------------**

__ADS_1


__ADS_2