
Ajeng dan teman-temannya belajar bersama Bu Guru Iis dengan tenang, cara mengajar Bu Guru Iis yang selalu telaten dengan anak-anak memang menjadi kelebihannya hingga mampu membuat anak-anak mau belajar.
Sementara anak-anak belajar, Mbak Wening memilih menunggu Ajeng selesai sambil duduk di ruang dalam bersama Ibunya bu Guru Iis.
Ibunya Bu Guru Iis kebetulan memang sudah dengar soal Anisa yang pergi dari rumah dan tidak tahu di mana saat ini, maka karena kebetulan momennya tepat, Ibunya Bu Guru Iis pun akhirnya membahas soal peristiwa yang sebenarnya dengan Mbak Wening.
"Saya juga tidak menyalahkan Mbak Anisa sih Bu, namanya Mbak Anisa juga sepertinya hidupnya selama ini dalam tekanan kakak dan abahnya, semua sudah tahu itu."
Kata Mbak Wening.
Ibunya Bu Guru Iis mengangguk.
"Saya itu sejak pindah di sini, lalu Iis dekat dengan Anisa, seringkali saya kasihan lihat Anisa Mbak, dia itu anak orang berkecukupan tapi tidak ceria, saya sengaja sering ajak dia makan bareng-bareng di sini sama Iis, karena saya tahu yang dia tidak punya itu justeru kebersamaan dan kehangatan dalam keluarga."
Kata Ibunya Bu Guru Iis.
Mbak Wening mengangguk.
"Nggih Bu, betul sekali itu."
Kata Mbak Wening.
"Sekarang entah di mana dia ya Mbak, Iis juga katanya nanti mau cari setelah mengajar les anak-anak. Dia kepikiran terus nasib Anisa."
Kata Ibunya Bu Guru Iis.
Mbak Wening mantuk-mantuk, sejujurnya ia juga kasihan, tapi mengingat apa yang dilakukan Pak Haji Syamsul dan Mbak Faizah rasanya ada senangnya, biar mereka hari ini panik sepanik-paniknya Anisa lari dari rumah.
Biar mereka juga bisa belajar lebih memikirkan perasaan orang lain, biar mereka bisa lebih manusiawi jadi orang. Batin Mbak Wening.
"Yo wis, yang sabar saja mbak Wening, nanti juga akan ada masanya Mbak Wening dapat pekerjaan yang lebih baik daripada di rumah pak Haji Syamsul."
Ibunya Bu Guru Iis menepuk-nepuk lengan Mbak Wening,
"Enggih Bu, inshaAllah saya juga optimis Bu."
Ujar Mbak Wening.
"Berarti untuk sementara ini mau jualan dulu atau bagaimana?"
Tanya Ibunya Bu Guru Iis lagi.
"Betul Bu, saya untuk sementara memang bikin keripik pisang dulu, saya titip-titipkan di warung yanga saya kenal, belum ada pandangan lain selain itu Bu untuk sementara ini, ya bismillah saja Bu, nanti mungkin ada kesempatan kerja lagi di tempat lain."
Ibunya Bu Guru Iis mengangguk.
Sekitar satu jam lebih belajar, akhirnya Bu Guru Iis mengakhiri les nya. Anak-anak tampak bersiap pulang, termasuk Ajeng.
Mbak Wening yang menyadari anaknya sudah selesai belajar akhirnya pamit pada Ibunya Bu Guru Iis.
__ADS_1
Ibunya Bu Guru Iis pun mengantar Mbak Wening keluar dari rumah untuk pulang bersama Ajeng.
"Sekali lagi sabar ya Mbak, saya ikut doakan yang terbaik."
Kata Ibunya Bu Guru Iis tulus.
Mbak Wening mengangguk seraya tersenyum.
Ajeng salim dengan Bu Gurunya.
Bu Guru Iis mengusap kepala Ajeng dengan lembut, lalu mengiringi Ajeng sampai dekat sepeda Mbak Wening untuk kemudian naik ke atas boncengan.
"Monggo Bu Guru, kami pamit nggih."
Pamit Mbak Wening.
Bu Guru Iis mengangguk,
"Hati-hati di jalan."
Kata Bu Guru Iis,
**---------------**
Di tempat Pak Haji Imron, Ridwan yang akhirnya telah memutuskan untuk menerima amanah keluarga Pak Sahudi juga akhirnya pamit pulang pada pak Haji.
Tentu saja Ridwan ingin segera pulang untuk nanti bicara pada Ibunya tentang keputusannya.
Ridwan sampai di depan rumahnya nyaris bersamaan dengan Mbak Wening dan Ajeng yang juga baru pulang.
Ajeng langsung tersenyum lebar manakala turun dari boncengan karena datang bersamaan dengan Pamannya.
"Baru pulang juga Wan?"
Tanya Mbak Wening begitu turun dari sepeda dan Ridwan menghampiri Mbak Wening untuk membantu kakaknya itu mengangkat sepedanya ke teras.
"Ngobrol dulu dengan Pak Haji Imron, Mbak."
Kata Ridwan yang lalu menuntun sepeda Mbak Wening naik ke atas teras lalu dibawanya masuk ke dalam rumah.
"Ajeng pengin makan sate ayam Paman..."
Ajeng tiba-tiba bisik-bisik pada Pamannya, Mbak Wening yang melihat gelagat Ajeng bisik-bisik pasti sedang minta sesuatu pada Pamannya langsung ehm ehm.
"Sate ayam Madura?"
Tanya Ridwan pada Ajeng sambil mengusap kepala Ajeng.
Ajeng tentu saja mengangguk semangat,
__ADS_1
"Jangan dituruti Wan, nanti kebiasaan makannya minta yang enak-enak."
Kata Mbak Wening begitu dengar Ridwan sebut sate ayam.
"Tidak apa Mbak, kan tidak setiap hari."
Ujar Ridwan.
Mbak Wening menghela nafas,
"Kamu ini, selalu saja begitu."
Kata Mbak Wening.
"Saya mau bicara penting sebentar Mbak, bisa ya."
Kata Ridwan.
"Soal apa?"
Tanya Mbak Wening.
"Ya kita duduk di ruang makan dulu."
Kata Ridwan.
Mbak Wening pun mengangguk, lalu ia pergi memanggil Ibunya di dapur yang terlihat baru mematikan kompor memasak nasi.
"Ridwan mau bicara penting Bu."
Kata Mbak Wening sambil menyalami Ibunya.
"Penting apa?"
Ibu juga bertanya tentang hal yang sama.
"Kata Ridwan kumpul dulu."
Sahut Mbak Wening, Ibu pun mengangguk.
Keduanya akhirnya berjalan menuju ruang makan, Ridwan sendiri di kamar sedang berganti kaos biasa, baru setelah itu menyusul Ibu dan Mbak Wening ke ruang makan.
"Ajeng nanti beli sate ayam sama Paman setelah Paman bicara sama Mbah dan Ibu ya."
Kata Ridwan pada Ajeng.
Ajeng mengacungkan dua ibu jarinya.
"Okay Paman."
__ADS_1
**---------------**