Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
96. Belajar Mengajar


__ADS_3

"Pak Ridwan hari ini mengajar kelas berapa?"


Tanya Pak Guru Didin, wali kelas enam begitu kegiatan upacara bendera telah selesai.


"Oh saya mengajar kelas lima Pak Din."


Jawab Ridwan,


"Ooh, nggih... nggih."


Pak guru Didin mantuk-mantuk.


"Kenapa Pak?"


Ridwan balik tanya,


"Oh itu, nanti saja saya akan coba diskusi dengan Pak Ridwan sepulang sekolah. Bisa apa tidak nggih?"


Tanya Pak Didin.


Ridwan sejenak mengingat apakah ia ada janji temu selepas mengajar, saat kemudian...


"Tidak apa-apa kalau misal kita ke rumah Pak Ridwan, jadi barangkali Pak Ridwan ada yang mau dikerjakan, Bapak tetap bisa melakukannya."


Ujar Pak Guru Didin.


Ridwan yang mendengar akhirnya langsung mengangguk setuju.


"Nggih Pak, monggo kerso, kalau mau datang ke gubuk kami."


Kata Ridwan,


Pak Guru Didin menepuk punggung Ridwan sambil tersenyum,


"Pak Guru ini,"


Keduanya lantas menuju ruang Guru dan ke meja mereka masing-masing untuk menyiapkan materi yang akan mereka ajarkan pada anak-anak.


"Ngisi kelas empat ya Bu?"


Tanya Pak Guru Didin saat melewati Iis yang tengah menumpuk buku sejarah untuk kelas empat di atas beberapa buku lain yang akan ia bawa ke kelas.


"Oh enggih Pak Din."


Jawab Iis.


Ridwan ke arah mejanya, lalu duduk sejenak untuk menyiapkan materi juga.


Iis berdiri dari duduknya, dan bersiap untuk mengajar di kelas empat,


"Sejak Bu Guru Iis mengajar, anak-anak jadi suka pelajaran sejarah, padahal tadinya pada suka ngantuk."

__ADS_1


Kata Pak Guru Hasan dari tempat duduknya.


"Iyalah jelas, orang dia cantik."


Seloroh Bu Guru Windi wali kelas empat.


"Aduh... Maaf... maaf saya permisi dulu."


Iis gugup setengah mati, karena selorohan Pak Guru Hasan dan Bu Guru Windi membuat seisi ruangan Guru menatap ke arahnya, yang termasuk juga Ridwan.


"Sama itu dengan Pak Ridwan, anak kelas enam pada bilang sama saya, kalau Pak Guru Agama yang baru mengajarnya jelas dan enak didengar kalau baca Alquran, memang beda kalau lulusan pesantren."


Ujar Pak Guru Didin.


"Yo mestine, apalagi lulusan terbaik."


Timpal Bu Guru Windi lagi.


"Ah yo tidak mesti, tergantung pesantrennya."


Pak Guru Hasan terlihat masam.


"Aaah sirik saja ini Pak Guru Hasan, hahaha..."


Bu Guru Windi yang memang orangnya suka tidak basa-basi membuat seisi ruangan Guru jadi tertawa, dan Pak Guru Hasan jadi tambah pasang wajah masam.


Di luar ruangan Guru, tampak Iis berjalan menuju kelas empat yang hari ini merupakan jadwalnya mengajar di sana.


Aceh, negeri elok, subur dan sangat kaya. Bukan hanya kaya sumber daya alam, namun juga kaya akan banyak orang alim di sana.


Tok tok tok...


Iis mengetuk pintu ruangan kelas empat di mana anak-anak sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.


Ritual anak-anak yang selalu demikian manakala menunggu Guru datang mengisi pelajaran di kelas.


Ada yang berlarian, ada yang mengobrol ke meja temannya, ada yang ribut mainan, pokoknya heboh dan kacau.


"Assalamualaikum..."


Iis mengucap salam,


"Waalaikumsalam..."


Anak-anak di ruangan kelas empat itupun begitu melihat Bu Guru kesayangan mereka langsung berhamburan ke bangku masing-masing sambil kompak menjawab salam.


Iis tersenyum manis, lalu ia pun masuk ke dalam ruangan kelas.


Anak-anak mengikuti Iis dengan mata mereka hingga Iis sampai di meja Guru di depan kelas, meletakkan buku pelajaran di sana, lalu tersenyum menatap semua muridnya.


"Anak-anak, sudah berdoa belum tadi?"

__ADS_1


Tanya Iis.


Tentu saja, Iis harus menanyakan hal itu karena ia mengisi pelajaran di jam pertama.


"Sudah Ibuuu Guruuuuuuu..."


Jawab mereka sama-sama.


"Alhamdulillah... Pinter."


Iis mengacungkan dua ibu jarinya pada anak-anak.


Saat anak-anak melakukan sesuatu yang baik, kita orang dewasa memang wajib memberikan pujian yang akan membuat mereka lebih termotivasi untuk terus melakukannya.


Asalkan, pujian itu tak perlu berlebihan, hanya sekedar untuk penyemangat saja. Pujian berlebihan akan membuat sifat sombong mudah tumbuh, dan di usia anak-anak setiap sifat akan mudah mengakar, itu tentu tak dianjurkan dan Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.


"Kata Pak Guru Ridwan, saat sebelum berangkat sekolah dan saat akan belajar di kelas maupun di rumah, kita harus baca doa, karena nanti selama belajar akan ditemani Malaikat-malaikatnya Allah."


Ujar Safiq, ketua kelas yang juga bintang kelasnya kelas empat.


Mendengar itu, Iis pun mengangguk.


"Pak Guru Ridwan benar sekali, dan kalian anak-anak yang pintar dan baik karena telah menurut apa yang diajarkan Guru. Ketahuilah, bahwa salah satu kunci ilmu bermanfaat adalah karena hormat dan patuh pada Guru."


Ujar Iis.


"Enggih Bu Guruuuuuuu..."


Jawab mereka kompak.


Iis tersenyum,


"Baiklah, hari ini sesuai materi kita akan belajar tentang kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Ibu hari ini akan mulai dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang merupakan kerajaan islam terbesar ke lima di dunia pada saat itu. Kita juga akan membahas bagaimana luar biasanya sultannya yang bernama Sultan Iskandar Muda."


Kata Iis membuka materi pelajarannya.


Gaya mengajar Iis yang tidak kaku dan seolah memperlakukan anak-anak didiknya seperti anaknya sendiri membuat anak-anak selalu suka.


"Mau dengar kisahnya?"


Tanya Iis.


"Mauuuuuuu..."


Jawab anak-anak kompak.


"Alhamdulillah, kita sebagai umat Islam harus bangga dengan kerajaan ini, kerajaan yang berdiri di bumi Nusantara, kerajaan islam yang luar biasa, yang tidak kalah hebat dengan kerajaan saudara kita sebangsa setanah air, kerajaan Majapahit yang dulu mayoritas pemeluknya adalah umat Hindu dan Budha, serta kerajaan Sriwijaya yang mayoritas pemeluknya adalah umat Budha."


Tutur Iis,


Iis berjalan dekat papan tulis, jika dulu papan tulis berwarna hitam dan untuk menulisnya menggunakan kapur, maka saat ini papan tulis berwarna putih dan alat tulisnya menggunakan spidol. Ini pastinya sudah jauh lebih aman.

__ADS_1


**----------------**


__ADS_2