
Anisa tampak menghela nafas, begitu mobil Wisnu akhirnya sampai di depan pagar rumahnya yang menjulang tinggi.
Dari ukuran pagar saja, terlihat jelas betapa angkuhnya sang pemilik rumah. Di mana rumahnya yang berdiri di tengah perkampungan, baik bangunan rumah dan juga pagarnya sangat tidak seimbang dengan rumah lainnya.
Seorang laki-laki tergopoh-gopoh mendekati pagar untuk membuka pintunya, mempersilahkan mobil Wisnu yang cukup berkelas jika dibandingkan mobil-mobil orang kaya di kampung dan kota kecil mereka tinggal.
Wisnu melajukan mobilnya pelahan, sekilas ia membuka kaca untuk tersenyum dan mengangguk santun pada seorang pegawai rumah pak Haji Syamsul yang baru saja membukakan pintu pagar.
"Sepertinya pegawai baru Nisa."
Kata Wisnu.
Anisa kembali menghela nafas, sebelum akhirnya mengangguk.
Tentu saja akan selalu ada pegawai baru di rumahnya,.karena memang kebanyakan orang hanya sanggup bekerja di rumah Anisa dalam waktu hitungan bulan, bahkan ada yang hanya hitungan hari.
Satu-satunya yang bertahan cukup lama adalah Mbok Rat, itupun bisa jadi karena Mbok Rat bertahan karena berat meninggalkan Anisa sendirian.
Tentu saja untuk Mbok Rat yang telah membantu sang majikan mengasuh Anisa sejak kecil, merasa telah ada ikatan batin dengan gadis itu.
Ia sungguh menyayangi Anisa selayaknya anaknya sendiri, sedih senangnya Anisa, Mbok Rat pun serasa ikut merasakannya pula.
Anisa melepaskan sabuk pengamannya, lalu bersiap turun dari mobil.
__ADS_1
Langit sudah berwarna lembayung, matahari telah redup dan burung-burung telah banyak yang melintas untuk kembali ke sarang.
Anisa turun dari mobil Wisnu, matanya menelisik ke seluruh bagian rumahnya yang begitu besar tapi tidak menyenangkan.
Wisnu menyusul turun, lantas mengajak Anisa melanjutkan langkahnya karena dilihatnya Anisa diam saja seolah kembali ragu untuk pulang.
"Teruskan atau jangan?"
Tanya Wisnu lirih, Anisa tampak menoleh ke arah Wisnu, ia lalu tersenyum tipis,
"Kita sudah di sini, mana bisa pergi lagi."
Ujar Anisa sedikit tergugu.
Keduanya lantas berjalan beriringan menuju pintu utama, yang belum lagi Wisnu menekan bel pintu, tampak pintu itu terbuka, dan Mbak Faizah berdiri di sana menatap kedatangan Anisa dan Wisnu.
Anisa terkesiap, sungguh ia tak menyangka jika ia akan langsung bersitatap dengan sang kakak.
Tapi...
"Akhirnya kamu pulang Nis."
Kata Mbak Faizah dengan nada suaranya yang...
__ADS_1
Ah benarkah ini Mbak Faizah? Batin Anisa manakala mendapati kakaknya bersuara lembut.
Bukan hanya itu, Mbak Faizah juga meraih Anisa dalam pelukannya, hal ini jelas tak pernah dilakukan Mbak Faizah sama sekali sebelumnya.
Bahkan saat Umi mereka meninggal, saat Anisa hari itu juga terkapar di Rumah Sakit, mbak Faizah pun sama sekali tak pernah meraihnya ke dalam pelukan.
Mbak Faizah justeru terus membahas andaikan yang bawa motor adalah dirinya, bukan Anisa, pasti Umi bisa selamat.
Anisa dalam pelukan Mbak Faizah terasa begitu asing dan kaku.
Alih-alih merasa terharu, Anisa malah tidak nyaman dengan sikap Mbak Faizah yang ketara sekali dibuat-buat karena saat ini Anisa sedang bersama Wisnu.
"Masuklah Anisa, kami sangat merindukanmu, Abah bahkan makan hanya sedikit."
Kata Mbak Faizah merangkul Anisa masuk ke dalam rumah.
"Oh ya Dik Wisnu, mari Dik masuk."
Mbak Faizah mempersilahkan.
Wisnu pun menganggukkan kepalanya, ia lantas mengikuti langkah Mbak Faizah dan Anisa masuk ke dalam rumah, yang kemudian langsung menuju ruang keluarga di mana di sana sang Tuan Besar sedang duduk.
**----------**
__ADS_1