Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
179. Kesayangan Ibu


__ADS_3

Ridwan berjalan menyusuri jalanan kampung menuju masjid Uswatun Hasanah.


Jalanan kampung yang masih terlihat banyak lubang di beberapa sisi, yang belum juga dibenahi oleh desa.


Adzan Maghrib terdengar telah berkumandang, beriringan dengan bergesernya matahari sepenuhnya di ufuk barat.


Beberapa warga yang berpapasan dengan Ridwan yang juga hendak menuju masjid tampak ramah menyapa.


Belakangan jamaah masjid memang mulai semakin banyak bertambah, terutama dari para kaula muda yang merupakan pendatang di mana mereka memang banyak yang tinggal di kampung Ridwan sebagai anak kos.


Memang sejak setahun terakhir, orang-orang di kampung Ridwan banyak yang beralih usaha membuka tempat kos, karena lahan sawah yang mulai kurang diminati digarap, akhirnya banyak yang mengalihkan fungsinya dengan dibangun menjadi tempat kos, dan sebagiannya juga ada yang dipetak-petak diperjual belikan sebagai tanah kavling.


Kebanyakan yang kos di sekitar kampung Ridwan adalah anak mahasiswa dari kampus yang ada tak jauh dari sana, meski ada juga yang sudah bekerja di bank, koperasi, bahkan juga ada yang di mall.


Dan kedatangan mereka tentu memberikan angin segar untuk roda perekonomian di sekitar kampung.


Di mana banyak akhirnya yang bisa berjualan lauk pauk, ada yang buka toko, kios pulsa bahkan juga usaha londrian.


Mbak Wening juga adalah salah satu yang termasuk mendapatkan berkah atas banyaknya pendatang dari para kaum muda.


Kesukaan mereka mencari cemilan untuk teman ngobrol atau juga lembut belajar bagi mahasiswa, membuat keripik-keripik Mbak Wening pun laris manis tanjung kimpul.


"Assalamualaikum pak ustadz..."


Beberapa anak muda mengucap salam pada Ridwan, yang mana kemudian mereka bersalaman dengan Ridwan.


Tampak Ridwan sebetulnya masih sangat canggung jika bertemu dengan masyarakat yang seolah begitu meninggikan dirinya, sementara Ridwan sendiri merasa betapa ia masih banyak sekali kekurangannya.


Mereka lantas berjalan bersama Ridwan menuju masjid, di mana Masjid Uswatun Hasanah kini terlihat telah ramai jamaah.


Pak Haji Imron juga telah ada di masjid sedang bicara dengan marbot di dekat pintu samping masjid.


Beberapa kucing liar seperti biasa terlihat juga ada di sekitar pelataran masjid.


Mereka hanya berkeliling saja di area pelataran, kadang ada yang sembunyi di bawah mobil, ada juga yang naik ke jok motor untuk sekedar duduk, bahkan juga ada yang justeru ikut di sana dengan nyaman.

__ADS_1


Ridwan menghela nafas, ia lantas menuju tempat wudhu pria.


Ridwan sempat melewati Pak Haji Imron dan marboth masjid yang sedang berbincang sesuatu dengan serius.


Ketika Ridwan melewati mereka, Pak Haji Imron menyempatkan diri tersenyum ke arah Ridwan sebentar, lalu kembali berbincang dengan marbot masjidnya.


Ridwan meneruskan menuju ke tempat wudhu, di belakangnya beberapa remaja laki-laki juga terlihat menyusul.


**----------------**


"Is, sayur sop nya sudah matang, makan sekarang saja ya nak?"


Tanya Ibu dari arah pintu kamar, Iis yang terlihat akan turun dari tempat tidur melihat ke arah sang Ibu,


"Eh mau ke mana?"


Ibu berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Iis,


"Iis sholat dulu Bu, nanti makannya habis sholat."


"Duh kamu ini, tayamum lagi saja."


Kata Ibu,


Iis tampak menggeleng pelan, ia telah benar-benar turun dari tempat tidur dan berdiri sambil tangan masih berusaha berpegang pada sisi tempat tidurnya.


Ibu memegangi Iis agar tak sampai jatuh, tentu karena Ibu tahu Iis pasti belum sepenuhnya kuat untuk berdiri dan berjalan sebetulnya.


"Kalau tadi mungkin masih bisa dimaklum jika Iis tayamum, tapi kalau sekarang Iis sudah lebih baik, ya Iis harus jalan Bu ke kamar mandi ambil wudhu, lagipula Iis juga ingin ke belakang."


Kata Iis.


Ibu tampak menghela nafas,


Iis ini sebetulnya tidak pernah nyantri secara khusus.

__ADS_1


Tidak pernah mondok.


Tapi Iis bisa dikatakan sangat menjaga ibadahnya.


Iis selalu berpedoman, jika ilmu sedikit sekalipun yang ia dapatkan, jika ia lakukan, maka inshaAllah itu akan menjadi ridhonya Allah.


Sementara, apa yang dibutuhkan seorang manusia tentu adalah keridhoan Allah.


Bukan hanya masalah sebanyak apa kita beribadah, tapi yang terpenting adalah seberapa lillah kita berusaha melakukan setiap ibadah.


Dan yang paling penting pula adalah kita Istiqomah.


Ibadah kecil sekalipun, jika kita terus menerus melakukannya karena Allah saja lillahi ta'ala, inshaAllah itu jauh lebih dicintai oleh Allah.


Begitulah Iis pernah mendengar keterangan dari Abah yai di pesantren yang ia sering ikut pengajian di sana jika ada jadwal pengajian untuk umum juga.


Ibu akhirnya membantu Iis berjalan menuju kamar mandi, meski Iis terlihat sekali enggan merepotkan Ibunya dengan tangannya yang berusaha berpegangan pada dinding dan meja panjang yang ada di antara kamarnya dan kamar Ibu.


"Maaf nggih Bu, Iis malah sakit dan jadi merepotkan Ibu."


Kata Iis lembut,


Ibu menggelengkan kepalanya,


"Tidak apa-apa, wong Ibu juga sering sakit dan kamu selalu telaten mengurus Ibu."


Ujar Ibu.


"Itu sudah kewajiban Iis, Bu."


"Ya podo, Ibu mengurus anak juga kewajiban."


Ujar Ibu lagi, membuat Iis jadi tersenyum ke arah Ibunya.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2