
Ibunya Ridwan tampak duduk di depan TV seperti biasa sambil menikmati sirih sambil tangannya mengelus kepala Ajeng yang berbaring di pangkuan Mbah nya.
Ajeng yang merasa bosan di kamar terus memang minta pindah berbaring di ruang TV, agar bisa berbaring sambil menonton TV ditemani si Mbah.
Mbak Wening sendiri di ruangan yang sama tampak sudah menggelar tikar dan sibuk membuat adonan untuk keripik tempe.
Sambil membuat adonan, Mbak Wening terdengar bersenandung kecil.
Sepanjang jalan kenangan, kita slalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan kenangan. Kau peluk diriku mesra. Hujan yang rintik-rintik...
"Hujan rintik-rintik ada kuntilanak dan pocong..."
Tiba-tiba Ajeng menyela di tengah senandung kecil Ibunya, membuat Mbak Wening langsung melirik kesal pada Ajeng yang mengintip dari sela-sela kursi kayu panjang depan TV.
Mbak Wening baru akan mengomel, saat tiba-tiba terdengar suara motor memasuki halaman dan berhenti di depan rumah.
"Tamu opo yo Ning?"
Ibu menoleh ke arah Mbak Wening yang sudah bersiap berdiri, yang di mana benar memang tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu diiringi suara seseorang mengucap salam.
"Assalamualaikum... assalamualaikum..."
Suara perempuan paruh baya yang sepertinya tidak asing untuk Mbak Wening itu membuat Mbak Wening segera beranjak dari tempatnya dan langsung menuju ke ruang depan.
"Waalaikumsalam..."
__ADS_1
Mbak Wening menjawab salam seraya menarik pintu ruang depan dan langsung terlihat Mbok Yem. berdiri di sana.
"Mbak."
Sapa Mbok Yem,
Mbak Wening tersenyum lebar, dan semakin lebar karena dilihatnya sosok yang mengantar Mbok Yem adalah Mas Amin.
"Ini kebetulan saya mau ke sini, Mas Amin lewat depan jalan yang mau ke rumah,"
Tutur Mbok Yem
"Sekalian saya mau pesan keripik tempe."
"Monggo Mas, silahkan masuk."
Mbak Wening mempersilahkan,
Mas Amin mengangguk sambil tersenyum manis,
Mbak Wening pun kemudian juga mempersilahkan Mbok Yem masuk.
Mbok Yem dan Mas Amin pun lantas masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Mbak Wening.
"Adonannya lagi tek bikin Mbok, tapi untuk pisang sih tinggal digoreng."
__ADS_1
Kata Mbak Wening pada Mbok Yem begitu Mbok Yem dan Mas Amin masuk ke dalam rumah.
"Oh nggih Mbak."
Mbok Yem mengangguk, lalu Mbak Wening sekalian saja mengajak Mbok Yem masuk ke dalam rumah untuk bertemu Ibunya dulu, baru kemudian akan ia langsung tunjukan ke dapur di mana Mbok Yem akan membantu Mbak Wening menggoreng pesanan-pesanan keripik para pelanggannya.
"Bu, ini Mbok Yem."
Kata Mbak Wening pada Ibunya yang langsung menyambut dengan hangat Mbok Yem yang datang bersama Mas Amin.
Ajeng ikut mengintip dari sela-sela kursi kayu panjang di mana ia berbaring.
Ajeng melihat sosok Mas Amin yang berdiri di dekat Mbok Yem, Ajeng ingat wajah laki-laki itu yang sering sekali menghubungi Ibunya beberapa hari ini.
"Pacar Ibu."
Lirih Ajeng saat Mbah nya berdiri dari duduknya untuk menghampiri Mbok Yem dan Mas Amin
Mendengar kata Ajeng soal mas Amin membuat Ibu langsung melihat gerak-gerik Mbak Wening yang kini bicara dengan Mbok Yem soal adonan.
Ibu pun mendekat, untuk kemudian bersalaman dengan Mbok Yem serta Mas Amin.
Ya Mas Amin, yang entah kenapa Ajeng menyebut jika laki-laki itu adalah pacar Ibunya.
**--------**
__ADS_1