
"Assalamualaikum..."
Ridwan mengucap salam, saat masuk ke dalam rumahnya.
"Waalaikumsalam..."
Terdengar suara Mbak Wening menjawab salam Ridwan.
Dari arah pintu depan di mana Ridwan berdiri hendak menutup pintu utama lagi, Ridwan bisa jelas melihat Mbak Wening yang tengah duduk di ruang dalam sibuk mengepak bungkusan-bungkusan keripik sesuai pesanan.
Ridwan menutup pintu dan menguncinya, lalu terdengar suara Mbak Wening dari ruang dalam,
"Dimatikan sekalian saja Wan lampu ruang depannya."
"Nggih Mbak..."
Sahut Ridwan.
Ridwan lantas mematikan lampu ruang depan, lalu meneruskan langkahnya masuk ke dalam.
Ridwan baru akan masuk kamarnya, saat Ibu muncul dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Ridwan,
Ibu memanggil Ridwan agar ke kamar Ibu sebentar.
Mbak Wening tampak memandang Ridwan yang kemudian menurut masuk ke dalam kamar Ibu.
Tadi, Mbak Wening sudah bicara banyak dengan Ibu soal rencana untuk soan ke rumah Ibunya Iis sebelum nanti datang bersama Ridwan.
__ADS_1
"Kenapa Bu? Ada apa?"
Tanya Ridwan saat sudah di dalam kamar dan tampak Ibunya duduk di tepi ranjang besi tua yang catnya sudah terlihat mengelupas di mana-mana.
Ibu tampak menyingkap bantal tidurnya, aroma khas kamar orangtua yang bercampur daun sirih begitu kental tercium di dalam kamar Ibu.
"Duduk Wan."
Kata Ibu pula.
Ridwan mengambil kursi kayu yang ada di dekat ranjang besi, lalu ia pun menurut duduk menunggu Ibunya yang sepertinya akan mengatakan sesuatu yang penting.
Tampak kini Ibu meraih satu bungkusan dari balik bantal tidurnya itu.
Bungkusan dari kain itu dipangkunya, lalu dibuka dengan hati-hati.
Kata Ibu yang kini tampak telah membuka sepenuhnya bungkusan di atas pangkuannya.
Sungguh betapa terkejutnya Ridwan, manakala ia melihat satu kantong plastik berisi satu set perhiasan lengkap.
Ada kalung, ada giwang, ada cincin, bahkan sampai peniti dari emas.
Ibu mengulurkannya ke arah Ridwan agar putranya menerimanya.
Ridwan menatap Ibunya,
"Ini nantinya bisa kamu berikan pada calon isterimu, Bapak dan Ibu menyiapkannya agar kau tak perlu pusing saat akan menikah."
__ADS_1
"Ya Allah, Bu... Ini..."
Ridwan matanya terlihat langsung berkaca-kaca, hatinya begitu tersentuh, tak kuasa bahkan kini mulutnya untuk mengatakan sesuatu apapun.
Ibu tersenyum lembut, sebagaimana tatap matanya dan sentuhannya kepada anak-anaknya.
Ibu sosok yang penuh kasih sayang, mencintai kedua anaknya dengan segenap hatinya.
Ibu...
Ia sungguh seorang Ibu yang begitu ikhlas menjalankan perannya sebagai orangtua, yang rela hidup sulit dan selalu berusaha menahan diri untuk kesenangannya sendiri demi anaknya agar bisa merasakan hidup yang lebih baik.
"Ini sangat banyak Bu,"
Lirih Ridwan menatap plastik berisi emas di tangannya.
"Tidak Wan, jumlahnya persis sama dengan yang diterima Mbak mu, meskipun sebetulnya aturannya harus lebih banyak kamu, tapi Ibu sungguh meminta kamu ridho ya Wan, jika mungkin bagianmu jadi terbawa ke Mbak Wening."
Ridwan mengangguk,
"Saya ikhlas dan ridho Bu, sungguh Mbak Wening juga kan memang menjadi kewajibanku Bu, karena ia tak memiliki suami."
Kata Ridwan, tampak Ibu pun tersenyum dengan tatapan lega karena Ridwan tampaknya benar-benar mencoba belajar mempraktekkan apa yang telah ia pelajari dengan baik.
Dan...
Memang sudah seharusnya begitu, jika ilmu apapun yang telah dipelajari harus langsung dipraktekkan bukan hanya berhenti di teori saja.
__ADS_1
**------------------**