
"Sholat dulu Nis?"
Tanya Wisnu pada Anisa, keduanya ada di mall tengah belanja untuk kebutuhan pernikahan mereka nanti.
Wisnu tampak melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya tampak membawakan sejumlah tas yang berisi barang belanja Anisa, yang dari baju, sandal, jilbab, sampai kosmetik.
"Oh, kamu saja yang sholat, aku lagi ada tamu."
Kata Anisa yang lantas mengambil alih tas-tas barang belanjanya dari tangan Wisnu.
Wisnu mengangguk,
"Kita ke cafe dulu, biar kamu tunggu aku di sana saja, jadi aku tenang."
Ujar Wisnu.
Anisa menganggukkan kepalanya saja, lalu mengikuti langkah Wisnu menuju eskalator untuk menuju lantai tiga, di mana di sana banyak tempat makan yang cukup beragam pilihan.
Anisa memilih masuk ke tempat makan Indonesian food saja, ia memang tak begitu suka makanan selain dari negri sendiri.
Setelah kemudian memastikan Anisa duduk di tempat yang tak begitu jauh dari pintu masuk, Wisnu baru pamit pergi.
Di tempat makan Anisa memilih menu dan memesannya pada pelayan. Menu yang untuk cemilan dulu saja, karena hanya untuk sekedar menemaninya menunggu Wisnu sholat Maghrib.
"Hanya ini Ka?"
Tanya si pelayan, Anisa tampak mengangguk,
Pelayan itupun permisi lalu pergi meninggalkan Anisa di tempat duduknya sendirian.
Anisa mengambil hp nya dari dalam tas selempang kecilnya, ia tadi telah mencatat semua yang harus ia beli dengan Wisnu.
Satu persatu Anisa terlihat mengecek daftar belanjanya,
Ah sembilan puluh persen sudah terbeli, aku rasa sudah cukup dan setelah ini bisa pulang ke rumah. Aku lelah. Batin Anisa.
Anisa masih asik dengan hp nya, melihat postingan beberapa teman media sosialnya, saat tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.
Terkejut karena di tempat umum ada yang kenal, Anisa pun segera menoleh ke asal suara, yang tampak di sana Mbak Tiwi, tetangganya yang rumahnya ada persis di sebelah rumah Iis.
Mbak Tiwi yang kucingnya banyak, yang kucing liar di sekitar rumah juga selalu ikut makan di tempatnya itu tersenyum lebar ke arah Anisa.
"Kebetulan banget lho, aku juga lagi belanja sendiri."
Kata Mbak Tiwi yang memang orangnya ramah sekali.
Anisa mengenal Mbak Tiwi juga karena Anisa kadang ke rumah Iis dan sesekali bertemu Mbak Tiwi yang suka duduk di depan rumahnya untuk mengawasi kucing liar makan di rumah.
"Oh Mbak Tiwi,"
Anisa berusaha balas bersikap ramah, meskipun sejatinya Anisa bukanlah orang yang terlalu pandai basa-basi atau bersikap hangat dengan banyak orang seperti yang kerap dilakukan Iis.
"Boleh dong ikut duduk di sini? Kamu sendiri kan Nis?"
Tanya Mbak Tiwi yang meskipun minta ijin tapi tetap duduk.
Jadi apalah arti minta ijin sebetulnya? Wkwkwk...
Mbak Tiwi tampak membawa cukup banyak belanjaan juga, tapi yang paling menarik perhatian tentu saja satu kantong besar makanan kucingnya.
"Selalu beli makanan kucing ya Mbak?"
Tanya Anisa akhirnya, karena menurutnya hanya itu yang bisa ia jadikan bahan untuk bicara dengan Mbak Tiwi.
__ADS_1
"Ooh iya dong Nis, ini tuh tidak boleh ada kata habis di rumah, pokoknya tiap tinggal secuil, ya udah harus langsung gerak cepat."
Ujar Mbak Tiwi.
Anisa tersenyum,
"Luar biasa lho Mbak, kasih makan kucing sebegitunya, padahal banyak orang akan mencibir kasih makan kucing yang tidak bisa kasih manfaat apa-apa."
Ujar Anisa.
"Hmm jangan bicara begitu."
Tiba-tiba suara Mbak Tiwi agak ketus.
Ya tentu saja, memang hampir semua cat lovers akan begitu reaksinya saat dibilang berbuat baik pada kucing hanyalah kesia-siaan.
"Oh... Bukan maksudnya ngatain Mbak, ini aku justru lagi penasaran saja kenapa Kaka memilih kasih makan kucing liar segala,"
Kata Anisa.
Mbak Tiwi tersenyum,
"Ada banyak alasan Nisa, tapi yang jelas, yang aku rasakan adalah aku belajar berempati pada mahluk lain. Itu aja sih."
Kata Mbak Tiwi.
Anisa pun mantuk-mantuk.
Tak lama pesanan Anisa pun datang, Mbak Tiwi sekalian memesan.
Karena dilihat Anisa sudah pesan tahu krispi dan juga kentang goreng, akhirnya Mbak Tiwi pesan minuman saja, dan satu porsi gado-gado komplit.
"Mau sekalian Nis, pesan makannya? Mbak yang traktir."
Kata Mbak Tiwi.
"Maturnuwun Mbak, nanti Nisa nunggu Mas Wisnu saja."
Kata Anisa.
"Lho, jadi kamu tidak sendirian to Nis?"
Tanya Mbak Tiwi kaget, Anisa tersenyum seraya menggeleng.
"Oalah, kamu lho tidak bilang dari tadi kan akunya malu."
Ujar Mbak Tiwi.
Lah mau bilang bagaimana? Minta ijin ikut duduk juga sudah langsung duduk, ya kan Thor?
Mbuh yaaa...
Mbak Tiwi akhirnya berdiri,
"Yo wis Bisa, Mbak pindah saja itu di sana."
"Lho kok pindah Mbak? Wis di sini saja Mbak, tidak apa-apa..."
Ujar Anisa yang melihat Mbak Tiwi sibuk mengangkat belanjaannya.
"Tidak ah, nanti mengganggu, kayak kemarin ganggu Iis sama calonnya."
Kata Mbak Tiwi.
__ADS_1
"Lho, Iis?"
Anisa kaget.
Mbak Tiwi mengangguk sambil mengangkat wadah makanan kucing.
"Iya, memangnya Anisa tidak tahu?"
Tanya Mbak Tiwi yang malah jadi bigos.
Anisa tentu saja menggeleng.
Ada rasa aneh merasuk dalam dadanya, rasa di mana seakan sudah tak dianggap dekat oleh Iis sampai-sampai kabar Iis sudah ada calon saja tak cerita pada Anisa.
"Ganteng sekali calon Iis, kayaknya sama-sama Guru, sudah sering ke rumah malah, beberapa kali saya lihat, pokoknya cocok."
Kata Mbak Tiwi semangat.
"Sama-sama Guru dan sering ke rumah? Sering?"
Tanya Anisa dengan perasaan tak karuan.
Mbak Tiwi tampak mengangguk,
bersamaan dengan itu Wisnu terlihat muncul di pintu masuk tempat makan tersebut, karena Wisnu kemudian berjalan ke arah di mana Anisa duduk, maka Mbak Tiwi langsung paham jika laki-laki muda itulah yang datang bersama Anisa.
Mbak Tiwi pun segera pamit, dan langsung pindah tempat setelah memberi salam sebagai sopan santun.
"Siapa?"
Tanya Wisnu pada Anisa.
Tapi Anisa yang ditanya tampaknya sedang tidak fokus, hingga akhirnya Wisnu terpaksa mengulang pertanyaannya.
"Siapa Nis?"
Tanya Wisnu.
Kali ini, karena Wisnu sembari menyentuh tangan Anisa yang tengah memegangi gelas minumannya, akhirnya Anisa terperanjat.
"Oh iya, gimana?"
Anisa menatap Wisnu di depannya yang tampak tersenyum lembut dan sabar seperti biasa.
Ya Allah...
Anisa sejenak merasa ada yang salah pada dirinya.
Ia akan menikah dengan Wisnu, kenapa ia masih mengijinkan perasaannya terganggu dengan kabar Iis sudah memiliki calon dan kemungkinan besar yang dimaksud calon oleh Mbak Tiwi itu adalah...
Ridwan.
Ya Ridwan.
Sama-sama Guru dan...
Dia sudah sering ke rumah Iis ternyata?
Anisa rasanya kembali tak karuan karena memikirkannya, meskipun cepat-cepat ia coba tekan lagi.
Ya tentu, ia harus melakukannya.
Wisnu terlalu baik untuk dikecewakan. Sedangkan Ridwan sudah jelas jika ia memilih untuk mengakhiri semuanya.
__ADS_1
**-----------**