Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
64. Mendung Tapi Cerah


__ADS_3

Ridwan duduk bersama Ibu dan Mbak Wening di ruang makan, tampak raut wajah Ridwan lebih serius dari biasanya.


Ibu dan Mbak Wening yang duduk bersebelahan dan berhadapan dengan Ridwan tampak masing-masing dari mereka menatap Ridwan, menunggu apa sekiranya yang akan disampaikan Ridwan sore ini.


"Bu... Mbak..."


Ridwan akhirnya mulai membuka suara.


"Maaf sebelumnya karena Ridwan akhirnya membuat keputusan tanpa mengabari Ibu dan Mbak Wening lebih dulu soal yang pernah Ridwan bicarakan beberapa waktu lalu."


"Tentang wasiat Pak Suhadi bukan?"


Tanya Mbak Wening,


Ridwan mengangguk.


"Enggih Mbak, ini terkait dengan wasiat Almarhum yang ingin sekali membuat satu amal baik yang bisa membuat harta beliau bermanfaat di jalan Allah."


Kata Ridwan.


Ibu dan Mbak Wening mengangguk,


"Tadi, setelah mengajar anak-anak, Ridwan dan Pak Haji Imron sudah membicarakan semuanya dengan lebih detail, setelah mempertimbangkan semua yang disampaikan oleh Pak Haji, maka Ridwan fikir memang sudah semestinya Ridwan membantu mereka untuk menjalankan wasiat Ayah mereka yang telah tiada."


"Meski sebetulnya Ridwan masih ada rasa takut tidak bisa amanah nantinya, tapi nyatanya benar kata Pak Haji Imron, jika nanti amanah itu jatuh ke tangan yang salah, tentu akan lebih menakutkan lagi. Ridwan juga pasti akan terus merasa bersalah kepada anak-anak almarhum, dan juga kepada almarhum jika sampai cita-cita mulia beliau gagal terwujud."


Ibu dan Mbak Wening sampai sejauh ini masih hanya menganggukkan kepalanya tanda memahami betul apa yang disampaikan oleh Ridwan.


"Itulah Bu, Mbak... Ridwan akhirnya memutuskan untuk menerima amanah ini. Ridwan sungguh minta doanya Bu, Mbak... Minta dukungannya, minta ditegur apabila nantinya Ridwan tidak amanah karena ini bukan uang sedikit."


Ujar Ridwan.


"Jadi kamu akan diserahi uang Wan?"


Tanya Mbak Wening.


Ridwan mengangguk,


"InshaAllah Sabtu dan Minggu besok, Ridwan akan ke Jakarta menemui salah satu dari anak Pak Suhadi, Ridwan akan menandatangani sejumlah surat-surat dan juga serah terima uang untuk pendirian rumah tahfiz, yayasan dan gedung pondok anak yatim. Mungkin tidak akan langsung seratus persen, tapi yang jelas ini bukan uang sedikit Bu, Mbak... Semoga Ridwan bisa menjaga amanah ini."


"Aamiin... aamiin..."


Ibu mengaminkan.


"Aamiin..."


Mbak Wening mengikuti.


"Yang penting kamu ingat terus saja, bahwa uang itu bukan uang kamu, tapi uang umat,"


Kata Ibu.

__ADS_1


Ridwan mengangguk,


"InshaAllah Bu."


"Untuk yayasan sendiri, pendirian yayasannya sudah akan di proses di kantor Notaris agar bisa mendapatkan pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia."


"Alhamdulillah."


Ibu mantuk-mantuk,


"Pak Haji Imron tetap ikut terlibat kan Wan? Tetap mendampingi kan?".


Tanya Mbak Wening,


"Nggih Mbak, untuk urusan proyek pembangunan gedung dan lain-lain Pak Haji Imron yang akan langsung membantu mengurus."


"Oh syukurlah kalau begitu."


Mbak Wening tampak lega.


"Pak Haji Imron tentu tahu betul Ridwan awam untuk hal semacam itu, maka dari itu beliau yang akan handle semuanya. Hanya saja, nantinya untuk tanggungjawab kepengurusan pada akhirnya Ridwan yang pegang."


"Jadi yayasannya nanti jadi milik kamu atau bagaimana?"


Tanya Mbak Wening,


Ridwan menggeleng sambil tersenyum,


"Jadi dengan kata lain kamu bekerja untuk mereka?"


Tanya Mbak Wening lagi, ia tampaknya benar-benar ingin tahu secara detail, karena pastinya ini adalah bagian dari informasi yang akan banyak digali orang lain.


"Untuk mengurus yayasan iya, tapi untuk mengelola tanah wakafnya tidak Mbak, itu benar-benar semuanya Ridwan yang kelola."


"Tanah sawah yang dekat resmil itu apa Wan?"


Tanya Ibu,


Ridwan mengangguk,


"Nggih Bu, sepertinya itu."


"Berarti luas sekali."


Kata Ibu.


Ridwan mengangguk,


"Lebih luas dari tanahnya pak Haji Syamsul, kan dia juga tanah sawahnya di situ ada kan ya Bu?"


Mbak Wening pada Ibunya, yang lantas tampak Ibu mengangguk.

__ADS_1


Mbak Wening tampak begitu sumringah, membuat Ibunya malah jadi menatapnya dengan tatapan aneh.


"Kenapa to Bu? Kok sepertinya gimana banget lho ngelihatinnya."


Kata Mbak Wening.


Ibu jadi terkekeh,


"Yo bukan, soalnya kamu kok kayak senang sekali mendengar kabar Ridwan akan mengemban tanggung jawab sebesar itu."


Kata Ibu.


Mbak Wening nyengir sambil melihat adiknya,


"Wis pokoke, Mbak mendoakan kamu sukses Wan, semangaat!"


Mbak Wening malah mengangkat tangannya macam merdeka, membuat Ibu dan Ridwan saling berpandangan lalu akhirnya tertawa.


**---------------**


Sementara itu, langit di luar sana terlihat masih bergelayut mendung kelabu yang mulai bercampur dengar semburat malu-malu warna langit sore.


Iis yang sejak anak-anak selesai les langsung memutuskan untuk mencari Anisa di jalan kini akhirnya menepikan motornya tak jauh dari perempatan jalan paling ramai di daerahnya.


Iis menajamkan penglihatannya melihat banyak orang dan hilir mudik kendaraan di sana.


Ia sungguh berharap ada Anisa di sekitar sana, mungkin jika ia benar pergi tanpa membawa tas dan dompetnya, maka seharusnya ia hanya bisa jalan kaki dan pastinya Anisa tak akan terlalu jauh.


Tapi...


Nihil. Tak ada satupun tanda-tanda Anisa ada di sekitar sana.


Iis juga bertanya pada beberapa toko, kios kecil, bahkan pedagang kaki lima hingga ojek dengan menunjukkan foto Anisa barangkali mereka melihatnya hari ini, tapi hasilnya, nihil.


Iis menghela nafas, sungguh ia merasa benar-benar khawatir dengan keadaan Anisa.


Tentu saja Iis tahu betul jika Anisa selama ini tak punya banyak teman dan pergi dari rumah sudah jelas ia tak ada tempat tujuan.


"Ya Allah, Nisa... Nisa kamu di mana Nis..."


Iis tampak sibuk dengan hp nya sambil bergumam lirih, Iis akan mencoba menghubungi nomor Anisa lagi, saat tiba-tiba terdengar suara anak kecil memanggil,


"Bu Guru Iis..."


Iis yang mendengar namanya dipanggil dan suara itu tak asing ditelinga, akhirnya Iis celingak-celinguk ke jalan dan terlihat sebuah motor di seberang sana menepi di depan warung tenda sate ayam Madura.


Ajeng, si anak yang memanggil Iis tampak melambaikan tangannya pada Iis sambil turun dari boncengan.


Iis membalas lambaian tangan Ajeng, tepat saat Ridwan yang juga turun dari motor menatap ke arah Iis yang kini berada di atas motornya di sisi jalan tepat di seberang mereka.


**--------------**

__ADS_1


__ADS_2