Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
81. Semakin Dekat


__ADS_3

"Sudah memutuskan akan pergi ke mana Nis?"


Tanya Wisnu saat akhirnya ia kembali berkunjung ke rumah yang ditinggali Anisa.


Anisa menatap Wisnu, belakangan banyak hal yang ia pikirkan tentang teman masa kecilnya tersebut.


Ya, teman sejak kecil yang ternyata Anisa tak tahu banyak tentangnya.


Tentu saja, Anisa memang terlalu menutup diri selama ini, bagaimana mungkin ia sungguh-sungguh memahami seseorang?


"Beberapa hari ini aku sibuk mengawasi para pegawai mengurus pesanan gelang rantau untuk beberapa toko."


Kata Wisnu seolah menjelaskan meski ia tahu Anisa mungkin tidak peduli, gadis itu bahkan tak menanyakan apapun saat Wisnu tak datang, tapi Wisnu tetap saja mengatakannya daripada mereka sama-sama diam saja.


"Apa kamu sungguh-sungguh mencintai bidang yang kamu geluti sekarang Nu?"


Tanya Anisa tiba-tiba, membuat Wisnu tampak mengulum senyum mendengar pertanyaan Anisa tersebut.


"Sejatinya aku tidak menyukainya Nis."


Jawab Wisnu akhirnya,


"Lalu..."


Anisa menatap Wisnu yang duduk di depannya dan hanya dibatasi meja.


"Tapi aku melakukannya untuk baktiku pada orangtua."


"Apa Bibi dan Paman tidak membebaskan dirimu memilih jalan hidupmu sendiri? Memilih bidang yang kamu suka untuk digeluti misalnya."


Tanya Anisa lagi.


Wisnu terdiam sejenak, lalu...

__ADS_1


"Aku sebetulnya sempat ingin jadi Guru, beberapa waktu lalu ada tawaran menjadi Guru Agama di SD Waru dua, seorang saudara yang juga jadi Guru di sana memintaku untuk mencoba mendaftar, cuma belum rezeki jadi tidak diterima."


Wisnu bercerita.


"Guru agama di SD Waru dua?"


Lirih Anisa yang tiba-tiba jadi sedih,


Wisnu yang tak paham tampak mengangguk saja.


"Mungkin suatu hari aku akan coba-coba lagi mendaftarkan diri mengajar di beberapa tempat lain, tapi pastinya menunggu di bengkel sudah ada yang bisa menemani Bapak mengawasi para pegawai."


Kata Wisnu.


"Kadang pernah tidak kamu merasa terbebani Nu dengan banyak tanggungjawab untuk hal-hal yang tidak kamu sukai?"


Tanya Anisa.


Wisnu menggeleng,


Ujar Wisnu.


"Tidak terpaksa?"


Tanya Anisa lirih dengan wajah tertunduk,


Wisnu tersenyum,


"Semuanya terpaksa pada awalnya, sama seperti anak kecil jika di suruh sholat saat sedang main juga mereka akan melakukannya dengan terpaksa, tapi tetap saja meski terpaksa harus dilakukan, lama-lama jadi terbiasa, dan lama-lama akhirnya mulai memahami tujuan Allah meminta kita sholat untuk apa."


Kata Wisnu.


Anisa terdiam, mencoba mencerna perkataan Wisnu.

__ADS_1


"Tak semua hal yang kita sukai bisa kita peroleh, tak semua hal yang kita inginkan bisa kita lakukan, tak semua yang ada di kehidupan ini bisa kita paksakan berjalan sesuai kemauan kita, itu sudah jadi garis takdir Nis."


Kata Wisnu,


Anisa mengangguk pelan.


"Aku tahu, tapi jika semua yang kita lakukan dalam hidup harus sesuai keinginan orang lain, rasanya lama-lama jadi beban berat Nu."


Kata Anisa.


Wisnu mengangguk,


"Aku tahu Nis, memang rasanya berat saat kita belum ikhlas, tapi nanti akan ada masanya kamu bisa ikhlas jika melihat dari sisi yang lain."


Kata Wisnu.


Anisa menghela nafas,


"Kamu mau tahu lebih banyak? Aku akan cerita semuanya, gantilah bajumu, kita pergi ke pantai."


Kata Wisnu yang kemudian berdiri.


"Sekarang?"


Tanya Anisa.


Wisnu mengangguk,


"Ya tentu sekarang Nisa, kamu akan merasa lebih baik jika tak hanya mengurung diri di rumah."


Kata Wisnu seraya tersenyum.


Tampak Anisa menghela nafas, meski malas tapi toh akhirnya entah kenapa ia berdiri juga dan kemudian pergi ke kamar untuk mengganti baju.

__ADS_1


**------------**


__ADS_2