Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
161. Perempuan Istimewa


__ADS_3

Seharian ini, Iis pun senyum-senyum terus karena hatinya tentu saja berbunga-bunga seperti motif daster para Emak-emak yang pada baca, wkwkwk...


Seperti di jam pelajaran terakhir ini, di mana Iis mengisi pelajaran di kelas lima, yang materinya adalah tentang persiapan kemerdekaan Indonesia, Iis malah bolak-balik harus berhenti karena tiba-tiba ingat kalimat Ridwan dan dia jadi ingin tersenyum sendirian lagi.


Bahkan, saking anehnya sikap Iis hari ini, anak-anak didik Iis di kelas jadi agak bingung melihat Ibu Gurunya demikian.


Kesambet atau apa? Hihihi...


Sampai akhirnya bel pulang berbunyi, dan anak-anak pun bersorak senang menyambut.


"Baiklah, nanti kita lanjutkan dipertemuan minggu depan tentang bagaimana para tokoh bangsa kita mempersiapkan kemerdekaan ya."


Ujar Iis menutup jam pelajarannya.


Anak-anak serentak menjawab,


"Ya Buuuuu..."


Iis tersenyum, lantas berjalan ke meja Guru yang ada di depan kelas, menata buku-buku nya sambil kemudian ia kembali bicara pada anak-anak.


"Oh ya, anak-anak, Ibu juga akan beri kalian tugas untuk minggu depan kalian bawa salah satu tokoh yang terlibat dalam mempersiapkan kemerdekaan. Kalian bisa mengambil foto dari internet, dicetak dan ditempelkan di satu lembar kertas, lalu tulis dengan tulisan tangan, siapa nama beliau, dan apa yang kalian kagumi dari tokoh yang kalian pilih."


"Baik Buuuu..."


"Nanti kita akan bahas satu persatu tokoh-tokoh tersebut agar kalian bukan hanya tahu soal sejarah persiapan kemerdekaan, tapi juga beliau-beliau yang berjasa untuk sampai membuat kalian bisa seperti sekarang. Bisa bebas bersekolah, bebas bermain, bebas tinggal di negara sendiri tanpa takut kehilangan orangtua yang kapan saja bisa dibunuh oleh penjajah."


Kata Iis.


Anak-anak mengangguk, Iis pun tersenyum, dan semakin tersenyum begitu melihat tanpa sengaja ke arah kaca jendela kelas Ridwan lewat di depan kelas karena ia juga baru saja selesai mengisi jam pelajaran terakhir di kelas enam.


Anak-anak di kelas Iis lantas satu persatu beranjak dari bangku mereka untuk menyalami Ibu Guru mereka dan kemudian dalam sekejap saling mendahului keluar dari kelas.


Iis menghela nafas menatap anak-anak yang dari tahun ke tahun tetap saja akan seperti itu, yang selalu begitu bersemangat setiap kali jam pulang tiba.

__ADS_1


"Pak Guruuuu... Pak Guruuuu..."


Anak-anak yang keluar dari ruangan kelas lima di mana Iis mengajar di jam pelajaran terakhir berlari ke arah Ridwan.


Ridwan pun menghentikan langkahnya, dan anak-anak itu kini berebut salaman dengan Pak Guru agama favorit mereka.


"Langsung pada pulang ya ke rumah, jangan pada main."


Kata Ridwan berpesan.


"Iya Pak Guru, pulang, sholat, makan dan bantu Ibu di rumah baru main."


Kata mereka membuat Ridwan jadi tersenyum senang karena ternyata pesannya diingat oleh anak-anak.


Satu persatu dari mereka pun salaman dan setelah itu berlarian ke arah gerbang sekolah.


Iis di belakang tampak keluar dari kelas setelah akhirnya anak-anak kelas lima sudah keluar dari kelas semuanya.


Tampak Iis tersenyum lagi, nyatanya memang Ridwan sangat dicintai anak-anak sejak pertama kali ia masuk menjadi Guru agama menggantikan Guru agama yang lama.


Iis berjalan pelahan hingga akhirnya sampai di dekat posisi Ridwan berdiri dan sedang disalami anak-anak yang akhirnya telah tinggal satu anak paling belakang.


"Sholat di masjid Agung dulu saja nopo Bu, sekalian mampir makan siang barangkali Bu Iis ingin makan dulu."


Kata Ridwan begitu akhirnya mereka tinggal berdua.


"Ngg... Apa tidak apa-apa? Atau..."


"Tidak apa-apa Bu, ini soalnya Pak Haji Imron juga masih ada acara di luar katanya, jadi nanti paling baru sampai rumah sekitar jam dua siang."


Ujar Ridwan.


Iis pun akhirnya mengangguk meski dengan canggung.

__ADS_1


Keduanya lantas berjalan menuju ruang Guru bersama-sama, yang tentu begitu sampai di ruang Guru jadi dibuat ledekan lagi, membuat Iis wajahnya lagi-lagi harus bersemu merah macam tomat di dalam sayur sop.


Hmmm...


Sejak akhirnya harapan dan mimpinya atas Anisa seolah dipaksa keadaan untuk berakhir, Ridwan memang sedikit demi sedikit mulai berubah.


Yang saat baru pulang dari pesantren ia sangat takut menatap perempuan apalagi sampai mengajak mereka pergi, sekarang Ridwan mulai tidak begitu membatasi diri.


Meski tentu saja ia tetap berusaha memasang batasan yang sangat jelas, namun jelas sekali ada pergeseran pada prinsip Ridwan.


Ya, Ridwan jadi ingat saat dulu masih di pesantren, ada seorang senior yang kadang menggantikan Abah Yai mengajar kitab di pesantren.


Kata dia,


"Kamu masih bisa melaksanakan semua yang diajarkan oleh Abah Yai sesuai ajaran agama karena kamu berada di tempat yang terjaga dari semua maksiat, yaitu pesantren."


"Tapi, saat nanti kamu keluar dari pesantren, kamu kembali ke tengah-tengah masyarakat, apalagi saat kamu mulai bekerja, bertemu banyak orang, maka di situlah ilmu yang kamu dapatkan selama di pesantren diuji. Kamu akan tetap bisa menjalankannya dengan porsi yang tepat atau bahkan meninggalkannya sama sekali."


Dan...


Mungkin inilah Ridwan sudah mulai mengalami pergeseran karena ujian atas cintanya pada mahluk dipaksa lepas, Ridwan secara tidak langsung juga diharuskan melihat perempuan lain selain Anisa.


Mengharuskan hatinya terbuka untuk semua kemungkinan yang disiapkan Allah, termasuk perkara Jodoh, hingga akhirnya Ridwan pun lebih membuka diri, dan itu adalah pada Iis.


Ya Iis, perempuan dengan segala hal yang mengagumkan. Cara berpikirnya, caranya hidupnya, cara ia menjadikan ilmunya begitu bermanfaat, dan yang pastinya perempuan yang begitu disukai keluarga nya.


Ya...


Keluarganya.


Bukankah itu yang paling penting?


**------------**

__ADS_1


__ADS_2