
Ridwan berjalan masuk ke pekarangan samping rumahnya yang dulu saat Bapaknya masih hidup dibuat kandang Kambing dan juga gudang kayu.
Kini pekarangan itu di biarkan saja tetap menjadi pekarangan kosong yang hanya dipenuhi ilalang serta pohon pisang dan pohon pepaya saja.
Besok pagi mumpung belum mulai mengajar, Ridwan berencana akan membersihkan rumput ilalang yang banyak tumbuh di sana agar tak jadi tempat sembunyi ular.
Ridwan berjalan memasuki pekarangan untuk kemudian mengambil beberapa daun pepaya.
Beberapa pohon pisang di sana dilihat Ridwan sudah mulai berbuah dan bahkan ada yang sudah ranum.
Ridwan ingat dulu saat Bapak masih hidup sempat bicara pada Ridwan bahwa nanti pekarangan itu adalah untuk Ridwan membangun rumah setelah menikah.
Biarlah rumah induk yang kini ditempati menjadi rumah Mbak Wening, mengingat Mbak Wening waktu itu juga susah menikah dengan suaminya yang sama-sama hanya seorang karyawan pabrik donat lokal.
Ridwan setelah merasa cukup mengambil daun pepaya, Ridwan pun pulang ke rumah, Ibunya tampak tertidur di ranjang depan TV saat menonton berita di TV.
Tak mau mengganggu, Ridwan membiarkan saja TV nya tetap menyala meskipun Ibu tertidur pulas.
Tampak kemudian Ridwan membawa daun pepaya itu ke sumur untuk dicuci, setelah itu baru ia ke dapur untuk mengambil wadah untuk daun pepaya yang ia petik.
Ridwan lantas mengambil beberapa bumbu, termasuk juga Ridwan mengambil dua butir telur ayam.
Selama di pesantren ia sudah terbiasa memasak sendiri, masakpun sedehana, tak usah yang aneh-aneh.
Toh kewajiban kita manusia hanyalah makan untuk memenuhi hak tubuh saja, yang penting makanan itu halal dan sehat.
Memanfaatkan apa yang ada di sekitar juga adalah salah satu ajaran di pesantren tempat Ridwan menimba ilmu.
Pesantren yang masih seperti pesantren tradisional itu, mengajarkan anak-anak santri mengurus lahan kosong di sekitar pesantren seperti menanam ubi, singkong, juga tomat, kangkung, bayam, cabai, bawang, bahkan juga kacang panjang.
Kegiatan para santri selain mengaji, sekolah, juga adalah merawat ladang untuk santri.
Dan di pesantren yang di mana Ridwan belajar memang pondok untuk santri laki-laki dan perempuan jaraknya lumayan jauh.
Jadi masing-masing pun memiliki kegiatannya sendiri.
"Assalamualaikum..."
Terdengar suara Ajeng mengucap salam sambil masuk ke dalam rumah di depan,
"Astaghfirullah..."
Ridwan lupa tidak menjemput Ajeng, malah sibuk akan memasak.
Ridwan tergopoh-gopoh pergi masuk ruang tengah yang kini Ajeng menghampiri Mbah yang jadi bangun karena mendengar suara Ajeng pulang.
"Ajeng, maafin Paman kok lali tidak jemput."
Ridwan tampak begitu menyesal.
Ajeng berjalan menuju Pamannya untuk bersalaman, setelah menyalami Mbah nya.
"Lho, kan Ajeng memang sudah biasa pulang sendirian Wan, kalau pulang kan sama teman-temannya jalan kaki ramai-ramai."
Ujar Ibu.
__ADS_1
Ajeng mengangguk.
"Makanya Ajeng sehat."
Ajeng bergaya dengan kedua tangan seperti atlit binaraga.
Ridwan menghela nafas lega,
"Ya Allah, syukurlah, Paman sampai takut dimarahi Ibumu."
Kata Ridwan.
Memang Ridwan juga tidak begitu ingat, Mbak Wening pagi tadi pesan Ridwan jemput Ajeng atau tidak.
Lagipula...
Ah Ridwan sungguh karena bertemu Anisa dan Pak Haji Syamsul yang pasang wajah angker rasanya seharian jadi merasa serba salah dan sulit konsentrasi.
Ia bisa merasakan jika Pak Haji Syamsul orang yang akan sulit menerima kehadiran Ridwan jika ia nekat mendekati Anisa.
"Kamu sedang apa Wan?"
Tanya Ibu tiba-tiba mengagetkan, membuat lamunan Ridwan seketika berantakan.
Ridwan yang tersadar kini melihat Ajeng sudah berjalan masuk ke kamarnya sendiri bersama Ibunya.
"Ridwan lagi mau numis daun pepaya Bu, sama goreng telur."
Kata Ridwan.
Ibu tampak bangun dari berbaringnya.
"Kamu tak dari pasar pasti lelah dan harusnya istirahat."
Kata Ibu pula.
"Tidak apa Bu, Ibu saja yang istirahat, kan tadi Ibu pasti juga lelah membuat emping melinjo."
Ujar Ridwan.
"Lagipula Ridwan bisa masak kok. Nanti setelah masak baru Ridwan sholat dan istirahat sebentar. Karena mulai sore ini sudah harus mengisi kegiatan di rumah Pak Haji Imron."
"Waah asik, jadi sore ini sudah bisa ngaji lagi ya Paman?"
Ajeng yang sudah salin baju rumahan terlihat membawa seragamnya yang tadi ia pakai dengan gantungan.
Mbak Wening memang mengajari Ajeng begitu, setiap pulang ia harus langsung salin, lalu seragam bekas dipakainya di gantung dengan gantungan di halaman belakang.
Karena Ajeng masih kecil, Mbak Wening sengaja menyediakan satu paku di dekat pintu dapur yang bisa dijangkau Ajeng untuk menggantungkan seragamnya dengan naik bale bambu yang ada di sana.
"Iya nanti sore mulai ngaji lagi."
Sahut Ridwan.
"Asiiik, nanti Ajeng berangkatnya sama Paman ya."
__ADS_1
Pinta Ajeng.
Ridwan mengangguk.
"Iya, sekarang Paman mau masak dulu, itu Ajeng sudah Paman belikan es dawet, tapi mungkin sudah tidak dingin karena dari tadi."
Kata Ridwan.
Ajeng nyengir.
"Iya kan kita tidak punya kulkas Paman, hehehe..."
Ujar Ajeng.
Ridwan jadi balas nyengir.
"Nanti, inshaAllah kalau Paman sudah bekerja, Paman akan beli kulkas biar Ajeng bisa simpan es."
Kata Ridwan.
Ajeng tentu saja senang bukan main.
"Mbaaah, Paman mau beli kulkas, yeee yeee..."
Mbah pun terkekeh,
Ridwan kemudian berjalan ke dapur lagi untuk melanjutkan memasaknya.
Ajeng juga mengikuti di belakang Ridwan, lalu meneruskan langkah kecilnya keluar dari dapur untuk naik bale bambu dan menggantungkan seragam yang ia tadi habis pakai.
Ridwan mulai menggoreng telur dadar, Ajeng masuk ke dalam lagi untuk ambil gelas besar dan masuk ke ruang tengah karena ingin makan es dawet.
Ibu yang sudah bangun tentu tak mungkin melanjutkan tidur siang lagi, ia turun dari tempat tidur di ruang TV dan mematikan TV nya.
Ibu berjalan ke ruang belakang, untuk pergi ke sumur guna ambil air wudu.
Namun, karena hari sedikit mendung, jadi Ibu menyempatkan diri untuk mengangkat jemuran lebih dulu, sebagiannya yang sudah kering dimasukkannya ke dalam keranjang, sementara yang masih belum terlalu kering, di pindahkan ke bambu panjang di gantung di bawah genteng yang menjorok dari bagian dapur.
Ibu lalu kembali ke sumur, mengambil wudu baru selanjutnya membawa keranjang cucian Mbak Wening masuk.
"Kemeja baru mu masih basah baru dicuci ya Wan?"
Tanya Ibu.
"Enggih Bu, tadi langsung Ridwan cuci, soalnya kalau tunggu besok pasti dicucikan Mbak Wening lagi, tidak enak dia kan sudah capek mengurus ini itu, kerja juga."
Kata Ridwan.
"Iya memang, Ibu juga kadang kasihan melihat Wening, bahkan kadang masih sempat-sempatnya membantu Ibu menyelesaikan membatik supaya bisa cepat jadi uang."
Ibu geleng-geleng kepala.
"inshaAllah nanti kalau Ridwan penghasilannya sudah cukup, Ridwan tentu akan meminta Mbak Wening tidak usah kerja di rumah Pak Haji Syamsul lagi, kalau mau mending buka warung kecil saja jadi tak usah terlalu capek."
Kata Ridwan.
__ADS_1
**-------------**