Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
199. Ikhlaslah Nisa


__ADS_3

"Terimakasih Ustadz, telah bersedia hadir."


Wisnu tampak begitu terharu saat akhirnya Ridwan menyalami dirinya sambil mengucapkan selamat.


Ibunya Iis sendiri kini terlihat mengelus kepala Anisa dengan lembut, dan menyuruh Anisa kembali kuat.


"Sabar, kamu pasti akan bahagia, jangan nangis."


Kata Ibunya Iis menguatkan.


Anisa mengangguk pelan, Ibunya Iis tersenyum,


Sungguh banyak mata menatap momen itu pastinya, momen seorang pengantin perempuan sampai menangis tersedu-sedu.


Untungnya, Ibunya Iis cukup mengerti kejiwaan Anisa, hingga ia benar-benar baru melepas pelukan Anisa saat Anisa telah siap.


Meski Mbak Faizah sampai sempat mendekati Anisa agar cepat bersikap biasa lagi, tapi Ibunya Iis dengan tegas mengatakan pada Mbak Faizah agar membiarkan sebentar Anisa melepaskan apa yang harusnya ia lepas agar bisa lega.


Mbak Faizah jelas kembali merasa dipermalukan, apalagi Wisnu, Bibik Sundari dan suaminya menatap Mbak Faizah dan juga Anisa dari tempat mereka masing-masing.


Setelah Ibunya Iis melepas pelukan Anisa, Ibunya Iis lantas melanjutkan langkahnya ke arah Mbak Faizah dan Pak Haji Syamsul.


Ridwan juga mengikuti.


Ridwan tak menjabat tangan Anisa tentunya, ia hanya tersenyum, dan mengucapkan selamat.


Anisa air matanya kembali meleleh, bak lelehan salju tang terkena panas matahari.


"Pilihan Anisa sudah sangat tepat, Mas Wisnu laki-laki yang sangat baik, berbaktilah padanya sebagai isteri yang sholihah. Agar bahagia kalian, tak hanya di dunia, namun sampai syurga nanti. Saya mendoakan selalu Nisa."

__ADS_1


Kata Ridwan lembut, membuat hati Anisa tentu saja seperti berkeping-keping.


Tak mau terlalu lama, karena para tamu undangan yang baru hadir juga kini telah mengular di belakang Mas Arif, akhirnya Ridwan pun melanjutkan langkahnya menuju Mbak Faizah.


Ridwan mengangguk santun, lalu ke tempat Pak Haji Syamsul yang terlihat masih acuh tak acuh pada Ridwan.


Tapi...


Kini tentu saja Ridwan tak mau ambil pusing.


Orang sombong itu hanya sedang lupa kakinya sebagai manusia harus tetap berpijak.


Ia pikir, manusia akan terus berada di atas, dan tak akan ada masa roda kembali berputar ke bawah.


Tidak!


Sungguh pun sebetulnya tidak akan.


Ridwan menghela nafas.


Nyatanya kesombongan adalah batu yang paling sulit pecah.


Bahkan, jika kesombongan telah mengakar, manusia kerap kali semakin buta dengan kekurangannya sendiri.


Ridwan pun menuruni anak tangga panggung dan kemudian bergabung dengan Iis serta Ibunya yang menunggu Ridwan serta Mas Arif.


"Makan dulu, habis itu pulang."


Ujar Ibu,

__ADS_1


Tampak Ridwan mengangguk.


Iis dan Ibu berjalan di depan Ridwan, sedangkan Ridwan berjalan bersama Mas Arif.


"Kami mau makan nasi iga bakar dan sayur sop, Mas mau juga atau ada selera sendiri?"


Tanya Iis di tengah suara musik yang memenuhi ruangan, pun juga suasana hiruk pikuk para tamu bolak balik ambil makanan.


"Kami akan ke bagian sate gulai, tidak apa-apa ya?"


Tanya Ridwan, karena memang Mas Arif yang mengajak ke bagian sate gulai,


Iis pun mengangguk,


"Nanti kami makan di sana,"


Iis menunjuk ke arah barisan kursi yang agak ke sudut, yang ada sekitar tujuh sampai sembilan kursi tampak kosong.


Ridwan pun mengerti,


"Nanti saya ke sana."


Jajar Ridwan.


Iis tersenyum, lantas kembali berbalik untuk menemani Ibunya antri nasi iga bakar dengan sayur sop.


Sementara itu, di atas panggung pelaminan, sepasang mata milik Anisa tampak menatap mereka, meski tamu begitu banyak, tapi nyatanya, Iis dan Ridwan adalah satu-satunya tamu yang membuat perhatian Anisa terpecah.


Anisa menghela nafas, mengingat kata-kata Ridwan membuatnya mengerti, jika memang laki-laki itu telah benar-benar melepaskannya.

__ADS_1


**------------**


__ADS_2