Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
18. Kesempatan Langka


__ADS_3

"Sekarang nopo Mbak berangkatnya?"


Ridwan yang baru pulang mengantar Ajeng ke sekolah tampak melongok dari arah pintu belakang yang ada di dapur.


Mbak Wening yang sedang sibuk menjemur cucian baju sehabis mandi menoleh sejenak,


"Iya Wan, sebentar Mbak selesaikan menjemur dulu, nanti tek siap-siap."


Kata Mbak Wening yang tinggal sisa satu cucian baju koko Ridwan.


Ridwan yang melihat baju koko miliknya habis dicuci mbak Wening terlihat tak enak,


"Lho mbak, kenapa dicucikan?"


Ridwan akhirnya membuka bagian bawah pintu belakang yang semula dibiarkan ditutup.


Mbak Wening membuang sisa air di ember ke tanah, lalu membawa ember ke sumur.


"Tidak apa-apa wong sekalian."


Kata Mbak Wening mengelap dua tangannya di handuk yang ia pakai dipinggang menutupi bagian bawah daster batik tipisnya.


Ridwan menghela nafas.


"Mbak ini, aku kan sudah dewasa, tidak patut masih dicucikan, merepotkan Mbak saja."


"Sudah, nanti kalau kamu sudah menikah, Mbak tidak akan mencucikan lagi, tenang saja."


Kata Mbak Wening terkekeh.


Ridwan jadi tersenyum sambil garuk-garuk kepala.


Menikah, kakaknya selalu saja menggoda Ridwan soal menikah. Membuat Ridwan jadi memikirkan Anisa terus.


Ridwan mengikuti Mbak Wening masuk ke dalam rumah.


Ibu terlihat di dapur sedang menumbuk melinjo menjadi emping.


"Wan, kalau ke pasar nanti belikan bawang putih yo."


Kata Ibu.


"Nggih Bu, berapa Bu?"


Tanya Ridwan.


"Setengah kilo saja, nda usah banyak-banyak, sekalian ketumbar."


Kata Ibu lagi.


"Ketumbarnya dua ons saja."


Ibu menambahkan.


Ridwan mengangguk.


Mbak Wening di kamar sibuk mengganti pakaian yang rapi dan sopan, lalu memakai jilbab, baru keluar dari kamar.


"Yuk Wan..."


Suara Mbak Wening terdengar, Ridwan segera masuk ke ruang dalam dan langsung keluar rumah.


Sementara mbak Wening masuk ke dapur untuk salim dengan Ibunya,


"Kerja dulu Bu."


Pamit mbak Wening.


Ini mengangguk.


"Ditutup saja pintunya, Ibu di belakang sini Ndak bisa dengar kalau ada yang masuk."


Pesan Ibu.


"Nggih Bu."


Mbak Wening menyahut, lantas melangkah menuju keluar rumah di mana Ridwan menunggunya di dekat sepeda.


"Nanti kalau mau ke pasar itu lewat jalan dekat pondok sekarang bisa lebih cepat kalau mau ke pasar, langsung masuk jalan besar."


Ujar Mbak Wening.


Ridwan mengangguk.


Ridwan naik ke sepeda, begitupun dengan Mbak Wening yang duduk miring di boncengan sepeda, tangannya merangkul pinggang Ridwan untuk pegangan.


"Kapan yo bisa beli motor Wan..."

__ADS_1


Kata Mbak Wening manakala Ridwan mulai mengayuh sepedanya melaju meninggalkan halaman rumah.


"inshaAllah nanti kesampaian Mbak,"


Kata Ridwan optimis.


"Ya beli ndak usah yang model terbaru juga tidak apalah, yang penting bisa untuk ke mana-mana."


Kata Mbak Wening.


Ridwan mengangguk,


"Nggih Mbak, kita kalo beli ya nanti sesuai kemampuan saja, selama bisa digunakan untuk mengantar jemput Mbak Wening dan Ajeng, lalu saya mengajar, atau Ibu barangkali ingin silaturahmi, inshaAllah itu namanya jadi harta yang bermanfaat."


Mbak Wening mengangguk setuju.


Ridwan mengayuh sepedanya menyusuri jalanan kampungnya menuju rumah Pak Haji Syamsul.


Di jalan, beberapa kali mereka bertemu orang sekitar yang sepertinya baru pulang dari warung dan ada pula yang baru pulang dari kebun mencari dedaunan dan ranting kering.


Ridwan terus mengayuh sepedanya, senyum terlihat terus terkembang di bibirnya.


Harapannya akan bertemu lagi dengan Anisa rasanya memenuhi setiap sudut hatinya saat ini, membuatnya sibuk pula berpikir kata apa yang akan ia ucap bilamana nanti mereka benar-benar bertemu.


Ah rasanya belum apa-apa Ridwan hatinya sudah berbunga-bunga meski hanya membayangkan mereka bertemu dan bertegur sapa.


Tentu, sebagai pemuda yang selama ini berada di pesantren dan benar-benar sibuk belajar, Ridwan hampir tak pernah bergaul dengan perempuan manapun.


Dalam kurun waktu itu pula, Ridwan nyatanya seperti mengunci hatinya untuk siapapun.


Itu sebabnya, buat Ridwan yang nyaris tak mengenal banyak perempuan, Anisa adalah satu-satunya yang mengisi hatinya dan mimpinya untuk membangun sebuah rumah tangga.


"Mbak Wening..."


Tiba-tiba terdengar suara orang memanggil, arahnya dari rumah sebelah rumah Bu Guru Iis.


Memang untuk menuju rumah Pak Haji Syamsul, mereka pasti akan melewati rumah Bu Guru Iis lebih dulu.


Rumah sederhana dengan pohon Mangga besar dan pagar bambu setinggi pinggang yang dicat putih dengan plang kecil bertuliskan RUMAH BELAJAR ISTIQOMAH.


"Oh nggih Bu..."


Mbah Wening menyahut.


Tampak Ibu yang memanggil tersenyum, di sampingnya seorang Ibu lain juga sama tersenyum.


"Siapa Mbak?"


"Ibunya Bu Guru Iis, orangnya baik dan ramah sekali."


Ujar Mbak Wening.


Tapi, Ridwan seolah tak begitu mendengar kalimat Mbak Wening, karena ia lebih terfokus dengan jantungnya yang berdebar tak karuan hanya dengan melihat bangunan rumah Pak Haji Syamsul.


Tak lama sepeda itupun akhirnya sampai juga di depan pagar rumah Pak Haji Syamsul yang kebetulan pas sekali sedang dibuka oleh Pak Ramdan, supir Pak Haji Syamsul.


Sebuah mobil kijang panther warna coklat tampak siap keluar dari sana.


Mbak Wening turun dari boncengan sepeda, dari arah pintu utama rumah, keluar Pak Haji Syamsul berjalan dengan tongkat untuk membantu kakinya yang sedikit diseret karena sempat terkena gejala stroke.


Pak Haji Syamsul sempat melihat ke arah Mbak Wening dan Ridwan yang berdiri di luar pagar karena menunggu mobil keluar.


Tak ada senyum, apalagi sapa ramah. Pak Haji Syamsul memang terkenal sedikit sombong, tak heran jika ia bersikap demikian.


Pak Haji Syamsul masuk ke dalam mobil, duduk di kursi kedua mobilnya.


Pak Ramdan bergegas masuk juga ke dalam mobil, lalu segera melajukan mobil itu keluar dari halaman rumah.


Mbok Rat terlihat tergopoh-gopoh muncul dari pintu samping dan membawa bungkusan mengejar mobil.


"Duuuh si Ramdan."


Mbok Rat mengeluh karena mobil sudah menjauh.


"Nopo to Mbok?"


Tanya Mbak Wening.


"Ini, tadi Mbak Anisa minta dibawakan bekal makan siang dari rumah, Mbak Anisa kan tidak bisa makan sembarangan beli di warung pasar begitu takut kena lalat."


"Oalah, tidak bilang ke Pak Ramdan to?"


"Uwis... Uwis... cuma itu biasa kalau Mbak Faizah sudah mengomel jadi semuanya pada gugup tidak jelas."


Kata Mbok Rat.


Mbak Wening melihat ke arah rumah,

__ADS_1


"Ngamuk-ngamuk lagi?"


Mbak Wening bisik-bisik.


"Ribut sama Mbak Anisa pagi tadi."


Kata Mbok Rat.


"Oalah."


Mbak Wening geleng-geleng kepala.


"Mbak, aku pamit saja ya."


Tiba-tiba terdengar suara Ridwan yang mengagetkan mbak Wening.


Ia sampai lupa jika adiknya masih ada di sana karena jiwa keponya tiba-tiba bergejolak.


"Oh tadi Ibu titip ketumbar sama bawang ya Wan? Ini uangnya dari Mbak saja."


Kata Mbak Wening.


Ridwan cepat menggeleng.


"Cuma bawang dan ketumbar sih Ridwan ada Mbak."


"Lha kan kamu mau buat beli kemeja biar buat gonta ganti mengajar."


Kata Mbak Wening.


"Lho nak Ridwan mau mengajar?"


Mbok Rat nimbrung.


Ridwan tampak mengangguk.


"Enggih Mbok."


Jawab Ridwan.


"Ridwan ini mau jadi Guru agama Mbok, sama mulai besok sore mau jadi ustadz di tempat Pak Haji Imron untuk anak-anak."


"Oooh... luar biasa ya nak Ridwan."


Puji Mbok Rat,


"Ngajar di mana nak Ridwan?"


Tanya Mbok Rat lagi jadi penasaran.


"Di SDN Waru dua Mbok."


Kata Ridwan.


"Lho itu kan sekolah yang Bu Guru Iis mengajar bukan?"


Tanya Mbok Rat.


Ridwan mengangguk, begitupun Mbak Wening yang bahkan terlihat lebih antusias.


"Iya Mbok, itu tempat mengajarnya Bu Guru Iis, kan itu..."


"Ehm... aduh sudah siang ini Mbak, aku pamit sekarang saja ya."


Ridwan buru-buru menyela agar Mbak Wening tak sampai keceplosan bicara aneh-aneh lebih dulu.


"Ooh Mbok..."


Mbak Wening yang dipamiti Ridwan tiba-tiba seperti mendapat ide.


"Itu, bekal makan siang mbak Anisa titipkan Ridwan saja, kan dia mau ke pasar, bisa sekalian mampir."


Kata Mbak Wening.


"Eh nak Ridwan mau ke pasar?"


"Enggih Mbok."


Ridwan mengangguk.


"Mau beli kemeja untuk ganti-ganti berangkat kerja."


Mbak Wening benar-benar antusias bicara soal adiknya.


Tentu saja, Mbak Wening yang sekolah hanya sampai SMP saja itu rasanya begitu bangga melihat adiknya bisa sampai sekolah tinggi apalagi sekarang akan jadi Guru.


Pokoknya Mbak Wening sangat bangga Ridwan jadi Guru.

__ADS_1


Mbok Rat akhirnya memberikan bekal makan siang Anisa pada Ridwan untuk nanti bisa disampaikan pada Anisa yang masih bertugas di toko.


**-----------------**


__ADS_2