
Jam telah mendekati waktu maghrib, saat Pak Haji Syamsul menatap Wisnu yang duduk di hadapannya dan baru saja menyampaikan banyak sekali hal.
Anisa sendiri duduk bersama Mbak Faizah di kursi yang terpisah.
"Jadi ini artinya perjodohan kalian dibatalkan saja?"
Pak Haji Syamsul akhirnya bertanya dengan suara serak yang seolah mencoba menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan.
Anisa menatap Wisnu yang terlihat menganggukkan kepalanya.
"Saya tidak ingin karena perjodohan ini kelak membuat Anisa tertekan dan tidak bahagia Pak Haji. Biarlah jika memang Allah akan menjadikan kami berjodoh, maka biar Allah juga yang memberikan jalannya."
Kata Wisnu.
Anisa matanya berkaca-kaca, melihat Wisnu begitu sabar dan seperti legowo dengan apa yang ia sampaikan membuat hati Anisa tergetar.
"Baiklah, jika itu yang menjadi keputusan kalian berdua, yang penting kalian harus ingat betul-betul, bahwa orangtua menjodohkan anak-anak mereka bukan karena semata atas keegoisan, tapi karena takut anak-anaknya salah memilih pasangan dan nantinya tidak bahagia."
Kata pak Haji Syamsul.
Wisnu mengangguk.
"Nggih Pak Haji, saya sangat mengerti akan hal itu, saya juga percaya bahwa orangtua akan selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya."
"Ya, seperti itulah kami orangtua, yang kadang kalian anggap kami ini egois, suka memaksakan kehendak, padahal semuanya tak serta merta bisa dianggap demikian."
"Tapi, InshaAllah, Anisa telah memiliki pilihan yang baik dan tepat Pak Haji. inshaAllah, Anisa tidak akan salah memilih calon imam untuk hidupnya."
Kata Wisnu.
Anisa yang mendengarnya tertunduk, satu titik bening melesat turun karena rasa haru di dalam hatinya.
Wisnu menghela nafas.
Sejenak ruangan begitu hening. Tak ada satupun yang bersuara, hingga terdengar di kejauhan, Adzan mulai dikumandangkan dari mushola dan masjid.
__ADS_1
Wisnu pun akhirnya berdiri dari duduknya karena harus pamit.
"Saya rasa sudah cukup saya di sini pak Haji, Alhamdulillah saya bisa mengantar Anisa pulang dengan selamat."
Wisnu menghampiri Pak Haji Syamsul untuk kemudian bersalaman dengannya.
Pak Haji Syamsul pun menyambut tangan Wisnu dan terlihat Pak Haji memaksakan satu senyuman.
Tentu saja, rasanya jelas berat melepaskan laki-laki seperti Wisnu. Sosok laki-laki yang bertanggungjawab, santun, berpendidikan, keluarga terhormat, dan bermasa depan cerah.
Pak Haji Syamsul sungguh kecewa mendapatkan kenyataan ini.
Dan andai saja sebelumnya Bibi Sundari tidak datang berkunjung lebih dulu dan bicara banyak pada Pak Haji Syamsul, tentu Pak Haji mungkin sudah bereaksi berlebihan.
Untungnya Bibi Sundari telah memberikan pengertian lebih dulu pada Pak Haji, hingga akhirnya tidak ada kemarahan yang terlalu meledak manakala ada keputusan dari Wisnu dan Anisa yang sangat membuatnya kecewa.
Wisnu diantar Anisa sampai ke teras rumah, tak banyak yang bisa Anisa katakan karena perasaannya saat ini begitu tumpang tindih, campur aduk tak jelas.
"Aku pulang Nis."
Tampak Anisa mengangguk pelan,
"Maaf untuk semuanya Nu, dan terimakasih."
Lirih Anisa.
Wisnu mengangguk seraya tersenyum,
"Kalau ada apa-apa hubungi aku, jangan sungkan, sekarang kita bisa jadi sahabat dan saudara Nis."
Kata Wisnu.
Anisa kembali mengangguk, entah perasaan apa kini yang menyelusup dalam dadanya, namun yang jelas, melihat Wisnu menjauh menuju mobilnya, Anisa seperti begitu sedih.
Wisnu sekali lagi menganggukkan kepalanya pada Anisa, seolah mengisyaratkan ia pamit.
__ADS_1
Wisnu masuk ke dalam mobil dan mesin mobilpun dalam sekejap terdengar menyala.
Anisa menghela nafas, sesak di dadanya masih terasa, meski akhirnya mobil Wisnu kini telah benar-benar keluar dari pelataran rumah.
Suara iqomat dari masjid dan mushola mulai terdengar, Anisa pun bergegas masuk ke dalam rumah.
Namun, baru saja Anisa membuka pintu, tampak Mbak Faizah berdiri di sana, tatapannya kini tak lagi sama seperti saat Anisa baru saja pulang tadi bersama Wisnu.
Dan...
Plak!!
Tamparan keras itu mendarat di pipi Anisa yang putih, membuat pipi itu seketika memerah.
"M.. M... Mbak..."
Suara Anisa tergetar, sama seperti tangannya yang gemetaran mengusap pipinya yang panas dan perih ditampar sang kakak.
"Memalukan keluarga, kekanak-kanakan, manja!!"
Bentak Mbak Faizah.
Pak Haji Syamsul yang masih duduk di ruang keluarga dan bisa dilihat dari pintu utama tampak tak peduli, ia berdiri dari duduknya, dan berjalan dengan tongkatnya tanpa berniat melerai kedua anak perempuannya.
Anisa menangis melihat kedua bagian keluarganya itu seolah sama sekali tak berhati.
Salahkah keputusannya untuk pulang? Salahkah Anisa merasa terpanggil saat mendengarkan semua kisah Wisnu kemarin?
"Kamu pikir nama baik Abah itu lelucon hah? Kamu pikir ini drama Cinderella di mana kamu yang seolah tertindas akan mendapatkan sepatu kaca?"
Kata Mbak Faizah.
"Sadar Nisa! Laki-laki yang baru saja memutuskan perjodohan denganmu itulah yang bisa memberikanmu sepatu kaca, dan kamu sudah menolaknya dengan drama cengeng dan manjamu!!"
Tandas Mbak Faizah, setelah itu ia berjalan menjauhi Anisa yang masih mengusap pipinya yang merah.
__ADS_1
**------------**