Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
13. Pemuda Saleh


__ADS_3

Adzan Maghrib berkumandang, Ridwan yang telah ambil wudhu dan tampak rapi dengan sarung, baju koko warna biru muda serta peci hitam kini tampak bergegas keluar dari kamar dan pamit pada Ibunya untuk ke masjid.


"Ke masjid dulu nggih Bu..."


Pamit Ridwan.


"Iyo Waaan..."


Sahut ibu dari dalam kamar.


Ajeng lari-lari dari arah belakang rumah karena habis ambil wudhu bersama mbak Wening.


"Jangan lari-lari Ajeng, itu sandalmu basah lho..."


Mbak Wening mengingatkan.


Ridwan keluar dari rumah, menutup pintu depan rumahnya rapat-rapat.


Memakai sandal japit warna biru, Ridwan menuruni teras rumah.


"Bismillahirrahmanirrahim..."


Ridwan melangkah meniatkan diri ke Masjid karena Allah ta'ala.


Di tengah jalan Ridwan bertemu beberapa pemuda yang masih sekolah SMA, mereka tampak menyapa Ridwan ramah.


"Bang..."


Ridwan balas tersenyum tak kalah ramah pula.


Jelas untuk Ridwan, mendapati anak SMA di jaman sekarang masih mau mendekat ke lingkungan masjid adalah hal yang patut di apresiasi.


"Pengajian di pondok besok ikut tidak?"


Salah satu anak SMA bertanya pada temannya.


"Ikut, kalau tidak bisa dipotong lagi uang jajanku sama Bapak. Katane lha po jadi generasi muda kok ngertine gaul gaul, nek mben tuo gaul ngge opo."


Ridwan tersenyum mendengarnya.


"Aku bonceng no berangkatnya, takut aku nek pake sepeda sendirian lewat rumah kosong yang dekat rumah Pak Haji Syamsul itu, katane lho ono yang lihat kuntilanak."


Ridwan tersenyum tipis karena mendengar anak-anak remaja itu bicara soal kuntilanak di rumah kosong dekat rumah Pak Haji Syamsul.


Masjid Uswatun Hasanah sudah mulai terlihat, Ridwan melihat dua orang pedagang keliling mampir untuk ikut sholat berjamaah, ada juga satu tukang ojek dan juga dua mobil dari luar kota.


Memang karena masjid Uswatun Hasanah letaknya ada di pinggir jalan, membuat masjid tersebut bisa untuk mampir para pengguna jalan yang tetap ingin menjaga sholatnya meski dalam bepergian maupun juga mereka yang sedang sibuk mengais rejeki.


"Ridwan ingat tadi ia sengaja membawa sedikit uang untuk di masukkan ke dalam kotak masjid, yang biasanya nanti digunakan biaya acara keagamaan yang dilaksanakan di masjid.

__ADS_1


Seperti peringatan isra mi'raj, ada juga maulid nabi, ada pula di bulan Muharram biasanya masjid juga membuat kegiatan sunat masal bagi anak-anak yatim dan anak-anak kurang mampu di lingkungan masjid khususnya, serta di sekitar masjid yang agak jauh.


Di saat ramadhan, masjid juga sejak Ridwan kecil, suka membuat nasi untuk buka puasa gratis.


Ridwan melepas sandalnya di pelataran, lantas naik ke teras masjid.


Di dekat pintu masuk masjid terdapat kotak amal, Ridwan memasukkan sedikit rupiah yang sengaja ia bawa.


Ridwan begitu masuk masjid, ia lantas melakukan sholat tahiyatul masjid lebih dulu. Dua orang remaja yang tadi datang beriringan dengan Ridwan tampak duduk di belakang Ridwan melaksanakan sholat.


Pak Haji Imron, masuk ke dalam masjid, beberapa orang mengajaknya bersalaman.


Pak Haji Imron sempat melihat ke arah Ridwan yang meski hanya sholat sunnah namun terlihat begitu khusuk.


Ada rasa kagum yang cukup besar dalam diri Pak Haji Imron, manakala melihat anak muda seperti Ridwan yang terlihat sudah begitu soleh.


Jika saja Pak Haji Imron masih memiliki anak gadis, sudah jelas ia akan mengambil Ridwan sebagai menantu. Pak Haji Imron tersenyum.


**---------------**


"Hah?"


Anisa membulatkan matanya menatap Kakaknya.


"Apa ini masih jaman dulu Mbak? Aku tidak mau dijodohkan."


"Lho, apa masalahnya? Wisnu kan pemuda yang baik, anak orang terpandang, keluarganya memiliki usaha yang tak jauh berbeda dengan keluarga kita, sudah begitu dia juga punya pendidikan yang bagus."


Faizah begitu membanggakan Wisnu.


Buat Faizah, tentu saja Wisnu adalah laki-laki yang paling tepat untuk mendampingi Anisa.


"Duh Mbak, tapi Anisa ingin menikah dengan laki-laki yang jelas Anisa mencintainya."


Lirih Anisa


"Cinta? Ya Allah Anisa, buat apa sekarang membicarakan cinta? Hal semacam itu hanya ada dalam roman picisan Anisa."


Mbak Faizah menggelengkan kepalanya,


"Abah tadi sore sudah membuat kesepakatan dengan keluarga Bibi Sundari untuk nantinya akan melanjutkan rencana perjodohan ini lebih serius, yang bisa jadi nantinya setelah benar-benar diwujudkan, keluarga kita dan keluarga Bibi Sundari akan bisa buka toko emas yang lebih besar di pusat kota."


"Ya Allah Mbak, apa ini semua karena kesepakatan bisnis? Lalu Anisa yang dikorbankan?"


Mata Anisa berkaca-kaca.


"Dikorbankan bagaimana? Ini kan juga nantinya baik untukmu, kamu hidup mapan, tidak usah pusing soal uang, masa depan terjamin, apalagi yang diinginkan seorang perempuan selain bisa hidup berkecukupan setelah menikah?"


Mbak Faizah terus berusaha memberikan dorongan untuk Anisa agar mau menerima perjodohan ini.

__ADS_1


Anisa rasanya ingin sekali menangis, sejak Uminya meninggal rasanya hidup Anisa makin diatur oleh Kakak perempuannya.


Ia tiba-tiba seolah menjelma menggantikan posisi Umi mengatur semua yang ada di rumah, termasuk kehidupan Anisa.


"Nisa akan bicara dengan Abah."


Anisa akan berdiri dari duduknya di tepi tempat tidur, manakala Mbak Faizah segera menariknya agar kembali duduk.


"Sudah kamu jangan ganggu Abah, kan kamu tahu Nis, Abah sudah terpukul karena meninggalnya umi, kamu masa tega mau membuat Abah terpukul lagi?"


Kalimat itupun meluncur dengan mudahnya dari bibir Mbak Faizah,


"Mbak..."


Anisa menatap kakak perempuannya.


Ia sungguh tak menyangka, jika Mbak Faizah bisa tega mengatakan hal semacam itu padanya.


Apakah Mbak Faizah pikir Anisa juga tidak terpukul?


Anisa bahkan nyaris gila saking terpukulnya dan sedihnya.


Jika Anisa disuruh memilih, bahkan Anisa rela memilih ia yang meninggal saja, daripada Uminya.


"Jangan bersikap seperti anak remaja di sinetron Anisa, cinta itu hanya angan-angan saja, menikah karena cinta itu lalu bahagia itu hanya sesuatu yang dibuat-buat oleh pencipta drama."


Kata Mbak Faizah.


"Mbak Faizah tidak boleh bicara begitu, bukankah Siti Fatimah dan Sayyidina Ali saja menikah karena mereka saling cinta? Dan cinta mereka direstui oleh Rasulullah, diridhoi oleh Allah. Cinta mereka kekal dunia akhirat, jadi kata siapa menikah karena saling mencintai bahagia itu tidak ada Mbak?"


Anisa jadi mulai menangis.


Membayangkan seumur hidup akan ia isi bersama laki-laki yang tidak ia inginkan, rasanya jelas sungguh berat.


"Ya itu berbeda Nisa."


Mbak Faizah masih tetap berkeras agar Anisa mau menerima perjodohan.


Ia berharap kedua keluarga bisa menyatu, memiliki toko emas sendiri, yang nantinya dipegang Anisa, dan toko emas milik Abah otomatis akan jatuh ke Mbak Faizah dan anak-anaknya.


Mbak Faizah menatap Anisa yang sibuk menyeka air mata di pipinya.


"Jangan bilang kamu masih mencintai adik laki-laki Mbak Wening."


Tiba-tiba Mbak Faizah berkata pada Anisa lagi, yang hal itu langsung membuat Anisa begitu terkejut.


Lalu...


**-----------------**

__ADS_1


__ADS_2