Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
134. Kode


__ADS_3

Pagi hari ini matahari bersinar tak terlalu cerah karena mendung bergelayut cukup tebal di langit.


Ridwan di depan rumah baru selesai menyapu halaman, kala akhirnya rintik gerimis turun tipis-tipis.


Ridwan membawa sampah sapuannya yang hanya berupa daun-daunan pohon depan rumah yang berguguran ke samping rumah di mana di sana ada lubang khusus untuk buang sampah, yang jika telah banyak akan dibakar.


"Ajeeeng, bantu Mbah angkat jemuran Jeeeng."


Terdengar suara Mbak Wening dari arah dapur.


Ridwan dari samping rumah yang baru menyapu sebentar di sekitar tempat sampah, lantas bergegas masuk ke rumah lewat pintu pagar bambu samping yang langsung ke arah halaman belakang.


Ayam-ayam yang semula sudah mulai main di luar kandang tampak berlarian masuk kandang lagi.


Ridwan melihat Ibunya mengangkati cucian lagi dari jemuran yang baru dijemur selepas subuh tadi.


Tampak Ridwan segera membantu, aroma nasi goreng dari dapur dan juga dadar telor tercium menggugah selera.


"Mbaaah, i'm comiiing."


Ajeng berlari keluar rumah menuju halaman belakang di mana si mbah nya sudah selesai mengangkat semua cucian, dan bahkan sudah mulai dipindahkan oleh Pamannya ke sebelah dekat dapur yang tak terkena gerimis atau bahkan jika nantinya turun hujan.


"Yaaah telat, hihihi..."


Ajeng cekikikan, Mbah merangkul Ajeng sambil terkekeh,


"Ada Paman Ridwan yo selesai."

__ADS_1


Kata Mbah,


"Paman kan memang te o pe Mbah."


Sahut Ajeng.


"Hmmm te o pe lah, kamunya jadi kesenangan jarang bantu Mbah sekarang."


Seloroh Mbak Wening nimbrung,


"Hihihi..."


Ajeng cekikikan lagi.


"Sudahi ini bantu Ibu saja, bawa piring kosong ke meja makan, sama ini nanti telor dadar dan kerupuk trasi."


"Iyo Bu, selalu asiap Ajeng lho."


Sahut Ajeng.


Mbah pun terkekeh-kekeh seraya masuk ke ruang tengah untuk mematikan radio yang sudah mulai memutar lagu-lagu karena acara pengajian sudah selesai.


Ridwan tampak masuk ke dapur, berjalan ke arah rak piring untuk mengambil gelas dan kemudian ke arah meja yang dekat dapur untuk menuang air bening dari teko.


"Nasi goreng Wan."


Kata Mbak Wening.

__ADS_1


"Nggih Mbak, aromanya enak sekali."


Ujar Ridwan.


Mbak Wening tentu saja tersenyum bangga,


"Iya ini dapat resep dari Bu Guru Iis, pas kemarin main di sini lama, karena lihat nasi dijemur dia bilang kalau ada nasi lebihan dia suka goreng untuk sarapan pagi. Lumayan untuk hemat pengeluaran pagi katanya. Oh dia juga kasih resep mengolah nasi jadi kerupuk."


Ujar Mbak Wening lagi sambil sibuk mengaduk nasi goreng di penggorengan, lalu setelah dirasa sudah cukup rata bumbunya, Mbak Wening mematikan kompor nya.


Ridwan tampak duduk di kursi kayu yang sudah agak keropos di dekat meja tempat teko dan termos dekat dapur.


Kursi keropos yang sudah di coba Ridwan kuati dengan menambahkan satu kayu lagi untuk membantu kaki kayu kursi yang sudah keropos.


Ridwan meneguk air putihnya.


"Wan, kamu kan setiap hari ketemu sama Bu Guru Iis, cobalah lebih dekat dengan dia, sayang lho kalau nanti dia sampai didapatkan laki-laki lain. Mau cari di mana lagi gadis macam Bu Guru Iis. Sudah pinter, baik, rajin, nurut, pokoknya sholihah lah."


Kata Mbak Wening sambil meraih wadah nasi untuk memindahkan nasi goreng buatannya.


"Lagipula, Mbak lihat kalian itu serasi Wan, jadian aja wis Wan sama Bu Guru Iis, apa perlu Mbak yang ngomong?"


Kerling Mbak Wening menoleh ke arah Ridwan yang sedang menghabiskan air minumnya otomatis langsung keselek.


Uhuk... uhuk... uhuk...


**-----------**

__ADS_1


__ADS_2