
Karena sepeda ontel dipakai Mbak Wening dan Ridwan juga tidak memiliki kendaraan apapun, maka iapun memutuskan naik angkutan umum saja.
Sebetulnya, jarak tempuh antara rumah Ridwan dengan sekolah di mana ia akan mengajar tidaklah seberapa jauh, jalan kaki pun sebetulnya tak masalah, paling-paling hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit saja.
Namun, berhubung hari sudah lumayan siang, sementara Ridwan tentunya tidak enak jika Pak Kepala Sekolah menunggu kedatangan Ridwan terlalu lama, maka Ridwan lebih baik kali ini naik angkutan umum saja, toh paling-paling ia hanya butuh merogoh dompet tiga ribu rupiah saja.
Ridwan berdiri di sisi jalan menunggu angkutan sambil berulangkali melihat jam tangannya.
Hingga sekitar lima menit menunggu, dari tikungan pertigaan tak jauh dari Ridwan berdiri, muncul sebuah angkutan kota yang melaju ke arah Ridwan.
Ridwan melambaikan tangannya untuk menghentikan angkutan tersebut, dan tampak angkutan pun pelahan berhenti,
Ridwan naik ke atas angkutan dan duduk di bangku yang dekat pintu.
Angkutan tak seberapa penuh karena sekarang banyak orang lebih senang ke mana-mana pakai motor sendiri, kalau toh yang tak bisa naik motor, maka ada dari mereka yang lebih memilih memakai ojek online.
Ridwan duduk tenang tanpa menghiraukan suasana sekitarnya.
Ia memang berusaha sekuat tenaga untuk menjaga pandangannya, untuk tidak mudah melihat hal-hal yang akan membuat dirinya jadi ingin tahu terlalu banyak, apalagi jika yang dilihat juga perempuan bukan muhrim.
Sekitar lima menit melaju, tiba-tiba seorang penumpang teriak,
"KIRIIIIIII..."
Karena teriaknya mendadak, walhasil pak supir pun mengerem angkutan dengan mendadak pula.
Ciiiiiitttttt...
Bluk!
Para penumpang jadi saling tubruk, termasuk Ridwan dan penumpang yang duduk satu bangku dengannya.
Ridwan tak sengaja menoleh dan begitu melihat siapa yang duduk di sebelahnya Ridwan kaget bukan kepalang.
"Anisa."
Ridwan seperti berasa mimpi di siang bolong, mendapati Anisa ternyata satu angkutan dengannya dan duduk pula satu baris dengannya.
"Iya Mas."
Kata Anisa malu-malu.
Wajah cantiknya yang tampak terbingkai jilbab bersemu merah, membuat wajah itu semakin terlihat manis.
Penumpang yang berteriak kiri tergopoh keluar dari angkutan, membayar ongkos lalu angkutanpun melaju kembali.
"Mau ke mana to Nis?"
Tanya Ridwan.
"Ke tokonya Abah, Mas."
Jawab Anisa.
"Ooh iya, masih di dekat pasar tokonya?"
Tanya Ridwan lagi.
Anisa mengangguk.
"Masih."
"Alhamdulillah..."
Kata Ridwan.
Ridwan baru akan bicara lagi, ketika kemudian tak jauh lagi terlihat sudah papan bertuliskan SDN Waru 2, Ridwan pun segera meminta pak supir berhenti.
"SD Kiri pak..."
__ADS_1
Kata Ridwan.
Ridwan kemudian menoleh ke arah Anisa,
"Mas turun duluan ya, kamu hati-hati ya di jalan."
Kata Ridwan.
Anisa mengangguk malu-malu.
Angkutan pun kembali berhenti, tepat di depan Sekolah Dasar Negeri Waru Dua.
Ridwan turun dari angkutan, Anisa diam-diam menatapnya dari balik kaca angkutan di dekat ia duduk.
Tampak Ridwan sedang membayar dengan uang sepuluh ribuan, sekalian untuk Anisa.
"Yang Mbak nya turun di pasar."
Kata Ridwan.
"Lho nggih sampun paham Mas, wong setiap hari Mbak Nisa naik angkutan saya ke toko."
Kata Si supir angkot membuat Ridwan langsung merasa kecele.
Penumpang lain terlihat mengulum senyum, sementara Anisa jadi merasa kasihan pada Ridwan.
"Mpun Mas, monggo..."
Supir angkutan kembali melajukan angkutannya.
Ridwan masih berdiri di posisinya, Anisa yang tak tega akhirnya menarik kaca angkutan dan melongok untuk menyampaikan terimakasih.
"Maturnuwun Mas."
Kata Anisa.
Ridwan menatap angkutan yang menjauh membawa Anisa, masih bisa terlihat samar-samar gadis itu duduk di dalam angkutan sengaja berbalik melihat ke kaca belakang angkutan untuk melihat Ridwan.
Gadis itu, sungguh tak ada yang berubah dalam dirinya sejak dulu.
Cantik, pendiam, dan sederhana meskipun dia sebetuknya anak seorang Haji Syamsul pemilu Toko emas yang cukup ternama di daerah Ridwan.
Setelah angkutan benar-benar tak tampak lagi, Ridwan sejenak merapikan penampilannya dan kemudian berjalan menuju bangunan sekolah.
Seorang penjaga sekolah sekaligus juga tukang kebun menghampiri Ridwan.
"Pak Ridwan nggih?"
Tanya penjaga sekolah.
Ridwan mengangguk.
"Monggo langsung ke kantor Guru saja Pak, tadi Pak kepsek sudah pesan ke saya kalau nanti ada Pak Ridwan supaya langsung ke kantor saja."
Kata penjaga sekolah.
"Maaf, kantornya yang sebelah mana ya Mas?"
Tanya Ridwan pada penjaga sekolah yang memang masih cukup muda untuk dipanggil Pak.
"Mari Pak Ridwan, mari..."
Penjaga sekolah itupun segera mengantar Ridwan menuju kantor Guru yang letaknya di sayap kanan tak jauh dari lapangan parkir para Guru, serta mushola kecil milik sekolah.
Meskipun hanya sekolah dasar, gedung sekolah itu terbilang sudah cukup maju, apalagi jika dibandingkan dengan saat dulu Ridwan masih kecil, tentu saja sangat berbeda.
(Apa laginya lagi saat Othor masih SD, wah jadi ingat ngibarin bendera merahnya di bawah, karena ingatnya seragam yang merah di bawah)
Suasana sekolah sudah cukup tenang, di setiap kelas sudah mulai berjalan kegiatan belajar mengajar.
__ADS_1
Hanya terdengar suara-suara para Bapak dan Ibu Guru dari dalam kelas yang sedang menerangkan pelajaran.
Hingga akhirnya sampailah mereka di sebuah bangunan di bagian sayap kanan gedung sekolah tersebut, yang merupakan kantor para Guru dan juga kepala sekolah.
Ridwan dipersilahkan masuk ke dalam oleh penjaga sekolah.
"Terimakasih nggih mas..."
"Trisno Pak, kulo namine Trisno,"
Penjaga sekolah tampak mengulurkan tangan, Ridwan menyambutnya dengan hangat.
"Saya pamit nggih Pak, semoga nantinya betah dan sukses mengajar di sini."
Ujar Mas Trisno tulus.
Ridwan tersenyum seraya mengangguk.
"Maturnuwun Mas."
Kata Ridwan lagi.
Mas Trisno lantas berjalan tergopoh meninggalkan Ridwan yang akan segera memasuki ruang para guru.
Tok... Tok...
Ridwan menyempatkan diri mengetuk pintu kaca ruangan itu.
Kaca yang jika dilihat dari luar terlihat gelap saja, namun jika dari dalam melihat keluar terlihat jelas.
"Assalamualaikum...."
Ridwan mendorong pintu ruangan tersebut untuk membuka sambil mengucap salam.
Di dalam ruang guru tampak hanya ada satu guru yang sedang sibuk mengeprint.
Dan...
"Lho, Bu Guru Iis bukan?"
Ridwan lagi-lagi dikejutkan bertemu dengan dua perempuan yang ia kenal di tempat yang sama sekali tak ia duga.
Setelah sebelumnya di angkutan ia bertemu Anisa, kini di sekolah tempatnya mengajar, ternyata ia juga bertemu perempuan lain yang ia kenal.
"Oh Pamannya Ajeng."
Bu Guru Iis tampak ramah, seperti saat kemarin sore Ridwan mengantar Ajeng ke rumahnya untuk mengikuti les.
"Pak Kepsek ada Mbak?"
Tanya Ridwan.
"Pak Kepsek? Nggih, beliau ada di dalam ruangannya."
Ujar Bu Guru Iis.
"Monggo diketuk saja pintunya,"
Tambah Bu Guru Iis pula.
Ridwan mengangguk, ia lantas berjalan ke depan pintu ruangan Kepsek.
Bu Guru Iis telah kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Ridwan sambil menunggu pintu ruangan Pak Kepsek dibuka, diam-diam Ridwan mengamati sosok Bu Guru Iis yang terlihat sangat fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan.
Kriiieeeet...
Pintu ruangan kepsek kemudian perlahan terbuka, dan...
__ADS_1
**--------------**