
Kukuruyuuuuuuk... betok dong... betok dong... betok dooong...
Suara Ayam Mbak Wening di halaman belakang rumah terdengar menggema ke seantero jagad raya hingga alam dunia maya.
Ridwan tampak keluar dari kamar mandi dan melihat Mbak Wening yang sibuk di sumur mencuci piring.
"Sarapannya beli saja nggih Mbak, biar aku mampir ke warung sepulang dari Masjid setelah jalan-jalan sebentar."
Ujar Ridwan.
Mbak Wening yang tengah menggosok panci terlihat cepat menggeleng,
"Tidak usah Wan, nanti Mbak mau beli di tempat Mbok Yem saja."
Kata Mbak Wening.
"Tidak apa Mbak, biar aku saja nanti berarti jalan-jalannya ke arah rumah Mbok Yem."
"Tidak Wan, Mbak sengaja mau sekalian meminta Mbok Yem bantu-bantu goreng keripik, kebetulan ada pesanan dua puluh bungkus keripik pisang dan tempe untuk besok."
Ujar Mbak Wening,
"Sekalian mau manggil tukang urut yang dekat tempat Mbok Yem, itu kaki Ajeng biar diurut saja, kemarin kayaknya kurang paham ngurutnya, jadi semalam pada sakit semua kata Ajeng."
"Ke dokter saja Mbak, biar aku yang antar."
Kata Ridwan.
Mbak Wening menggeleng lagi,
__ADS_1
"Sudah tidak usah ikut memikirkan Ajeng, Wan. Mbak tahu kamu sudah mulai sibuk mengurus yayasan yang akan segera aktif. Urus saja urusanmu biar tidak sampai membuat kecewa orang yang sudah memberikan kepercayaan."
Ridwan tampak mengangguk,
"Iya Mbak, memang nanti sore ada jadwal bertemu pembina dan pengawas lagi di rumah Pak Haji Imron, memperkenalkan Iis sebagai sekretaris yayasan yang baru."
Kata Ridwan.
Mendengar Ridwan akan bersama Iis sore nanti tampak langsung Mbak Wening tersenyum,
Untungnya adzan subuh terdengar lebih dulu daripada terbukanya mulut Mbak Wening, hingga Ridwan bisa langsung melarikan diri untuk menghindari pembahasan yang lebih panjang.
Mbak Wening nyengir penuh arti saat melihat Ridwan tiba-tiba gugup sambil pergi menjauh.
Ridwan di dalam rumah lantas berpapasan dengan Ibunya yang baru keluar dari kamar.
"Wan, tidak ke masjid?"
"Ini baru mau ke masjid Bu."
Ujar Ridwan.
"Wis ndang berangkat, nanti ketinggalan jamaah subuh, sayang lho."
Kata Ibu,
"Nggih Bu, ini tinggal pakai sarung, dan juga ganti baju koko."
Ridwan lantas cepat menuju kamarnya untuk berganti sarung dan juga baju koko warna coklat tanah.
__ADS_1
Tampak Ridwan setelah berganti langsung menyambar peci sambil keluar dari kamar.
"Buu, Ridwan ke masjid Buuu."
Terdengar suara Ridwan pamit sambil buru-buru keluar rumah.
"Iya Wan."
Sahut Ibu dari dapur karena sedang merebus air.
Ridwan keluar dari rumah, berjalan menuju masjid Uswatun Hasanah.
Kukuruyuuuuuuk...Kuku... kuku... kukuruyuuuuk...
Terdengar lagi kukuruyuk ala jaman now.
Mbak Wening yang baru selesai mencuci piring dan telah menata piring-piring yang baru ia cuci di rak dekat sumur tampak menghela nafas lega.
Ia lantas membuang satu ember bak hitam besar air bekas membilas cucian piring.
Setelah itu, Mbak Wening terlihat sibuk menggosok lantai sumur dengan sikat cucian baju yang sudah tidak dipakai.
Ibu tampak keluar dari dapur dan akan ke arah kamar mandi, saat dilihatnya Mbak Wening sedang menyikat lantai sumur.
"Ning, jangan lupa itu panggil tukang urut lagi buat Ajeng."
Ibu mengingatkan takut Mbak Wening lupa.
Mbak Wening yang sudah selesai menyikat lantai sumur terlihat menyandarkan beberapa ember dan bak, lalu berganti menimba air untuk mengisi bak kamar mandi.
__ADS_1
**----------------**