
"Jadi Mas mau keripik tempe satu setengah kilo?"
Tanya Mbak Wening, terlihat Mas Amin yang ditanya mengangguk mengiyakan.
"Iyo Ning, pesan bisa ya?"
Tanya Mas Amin.
"Yo tentu saja bisa,"
Sahut Mbak Wening cepat tanpa ragu pastinya.
Mbak Wening kemudian melangkah sejenak ke lemari makan kayu yang ada di dekat jendela ruang makan.
Lemari makan yang terbuat dari kayu itu modelnya sudah sangat jadul, namun karena memang dirawat dengan baik, maka lemari itupun masih terlihat layak digunakan.
"Kebetulan ini ada stok kemarin, aku bawakan Mas buat icip-icip dan lauk makan di rumah."
Mbak Wening mengambil satu bungkus keripik tempe dan juga satu keripik pisang.
"Lho, banyak amat icip-icip nya?"
Tanya Mas Amin.
"Tidak apa-apa, kemarin juga sate itu kan aku malah jadi merepotkan."
Kata Mbak Wening seraya tersenyum dan memasukkan dua bungkus keripik ke dalam kantong kresek.
Mas Amin jadi ikut tersenyum, matanya sempat melirik ke arah kursi kayu panjang di depan TV, di mana Ajeng sedang berbaring dan menonton TV.
Ajeng kali ini anteng menonton TV sendirian, karena Mbah nya di dapur menemani Mbok Yem yang baru mulai pekerjaannya menggoreng keripik.
"Anakmu bagaimana Ning? Sudah baikan?"
Tanya Mas Amin perhatian, saat Mbak Wening akhirnya menyerahkan kantong kresek berisi keripik tempe dan keripik pisang untuk Mas Amin di rumah nanti.
Mbak Wening melirik ke arah kursi kayu panjang depan TV di mana Ajeng berbaring.
"Kakinya yang bengkak karena terkilir yang belum membaik."
Ujar Mbak Wening.
"Tadi sih sudah panggil Bik Sum, tukang urut yang paham urat, katanya bisanya paling sore."
Tambah Mbak Wening pula.
Mas Amin mantuk-mantuk.
__ADS_1
"Ya, Bik Sum lumayan ngerti kok Ning, dulu anakku juga aku urut di sana sembuh, pas dulu dia terkilir karena ikut senam lantai."
Tutur Mas Amin.
"Oh anaknya ikut senam lantai?"
Tanya Mbak Wening.
"Iyo, dia itu apa saja ikut, senam ikut, macopatan ikut, tari-tarian ikut. Aku juga tidak mau membatasi anak-anak Ning, selama itu kegiatan positif ya tek dukung, wong itu kan juga bisa berpengaruh untuk tumbuh kembang dia Ning."
Ujar Mas Amin.
Mbak Wening mengangguk setuju, seperti dirinya juga selalu mendukung Ajeng ikut kegiatan apa saja yang dia suka.
Meskipun Mbak Wening hanyalah single parent yang tentu saja terbatas kemampuannya, namun Mbak Wening selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk satu-satunya buah hatinya itu.
"Yo kita itu kalau bukan untuk anak yo buat sopo meneh, ya kan Mas?"
"Iyo Ning, bener, wong kita begitu dipercaya jadi orangtua yo dengan sendirinya, secara otomatis semua tentang anak yo itu wis wajibe kita."
"Leres Mas."
Mbak Wening setuju dan setuju terus.
**--------------**
Di tempat yang berbeda dan suasana yang berbeda juga, tampak Anisa dan Wisnu yang kini tengah bersimpuh di depan makam Uminya Anisa.
Nisan bertuliskan nama Uminya tampak sesekali diusap Anisa dengan tangannya yang gemetar.
Sampai kemudian Wisnu mengakhiri doanya dan Anisa mengaminkan dengan segenap hati.
Setelah itu, tampak Wisnu menaburkan bunga khas pemakaman untuk menutup ritual mereka.
Ya, menaburkan bunga dan juga menyiram air mawar seraya memberikan hadiah sholawat untuk ahli kubur.
"Alhamdulillah, sudah Nis?"
Wisnu kemudian beralih pada Anisa, terlihat Anisa dengan kedua matanya yang berkaca-kaca menatap Wisnu sejenak, baru setelah itulah mengangguk.
Wisnu bangkit berdiri dari posisinya, lalu berikutnya ia pun membantu Anisa berdiri pula.
Keduanya setelah itu pergi meninggalkan makam Umi, karena masih harus melanjutkan pergi keluar kota untuk mengunjungi makam orangtua Wisnu.
Wisnu tampak melihat jam tangan di pergelangan tangannya, di mana kini waktu sudah mendekati jam setengah sembilan pagi.
Tak terasa ternyata mereka cukup lama di makam Umi, padahal Wisnu tadi hanya menyempatkan membaca Surah Yasin dan empat surah pendek saja sebelum berdoa.
__ADS_1
"Kita tunda saja apa bagaimana Nis?"
Tanya Wisnu pada Anisa.
"Ditunda? Apanya yang ditunda? Kenapa?"
Tanya Anisa malah bingung
Bingung sebetulnya Wisnu membahas soal apa, dan ada apa.
"Pergi keluar kota, untuk mengunjungi mama. kedua orangtua kandungku Nis."
Jawab Wisnu.
"Lho, jangan ditundalah, kenapa harus ditunda?"
Kata Anisa.
"Takutnya nanti pulangnya kesorean Nis, kamu kan katanya mau pergi milih baju pengantin di tempat Mbak Siti sama Iis."
Ujar Wisnu.
Cepat Anisa pun menggeleng,
"Tidak jadi hari ini kok perginya, besok sore paling, soalnya Iis hari ini ada kepentingan."
Tutur Anisa pada Wisnu.
"Ooh Iis nya ada penting sendiri?"
Tanya Wisnu, tampak Anisa yang berjalan di sampingnya mengangguk.
"Oh, tadi sih aku ketemu Nis sama Iis, ya papasan lah di pertigaan dekat warung Padang, pas dia mau berangkat ke sekolah."
"Ah iya, Iis memang kalau berangkat ngajar lebih suka lewat pertigaan warung Padang."
Kata Anisa,
"Iya tadi sempat ketemu pas aku mau ke sini, malah tadi sempat menyapa Ustadz Ridwan."
Anisa sejenak menghentikan langkahnya, membuat Wisnu jadi terpaksa menghentikan langkahnya juga.
Wisnu melihat ke arah Anisa yang kini berdiri di belakangnya.
"Kenapa Nis?"
Tanya Wisnu.
__ADS_1
Lalu tampak Anisa pun...
**---------------**