
"Sudah ada sepuluh anak yatim dan anak dari keluarga kurang mampu yang akan menempati pondok mulai Senin besok, kita masih harus cari orang untuk mengurus pondok, barangkali ada pandangan dari teman-teman sekalian, mengingat kita tidak punya banyak waktu lagi untuk mempersiapkan semuanya."
Kata Pak Aji.
"Mungkin nanti saya bisa tanya ke Mbak saya di rumah, barangkali ada yang bisa ditempatkan di pondok guna mengurus anak-anak."
"Ya, memang kita harus fokus ke orang-orang sekitar kita saja, karena selain bisa memberikan mata pencaharian, kita juga bisa tahu rekam jejaknya seperti apa. Karena ini kan di dalam pondok yang dirawat adalah anak-anak kecil, yang di mana mereka masih bisa diintimidasi, jadi harus benar-benar orang yang bisa dipercaya sekali kalau untuk ini."
Tambah Pak Aji.
"Pengurus pondok mungkin tidak cukup satu ya Pak Aji? Paling tidak ada dua perempuan, dan satu laki-laki untuk jadi security."
Kata Pak Haji Imron.
"Oh dua security Pak Haji, supaya bisa berganti sif."
Ujar Pak Aji.
"Oh ya itu betul."
Pak Haji Imron mengangguk.
"Maaf Bapak-bapak, ini sedikit melenceng dari pembahasan sebentar, saya baru ingat ada tetangga saya yang merupakan anak yatim dan juga kehidupan ekonominya cukup memprihatinkan, apa bisa misal saya menawarkan mereka masuk ke pondok?"
__ADS_1
Tanya Iis.
"Oh tentu saja Bu, monggo kersa, dibicarakan saja langsung nanti dengan Pak Ustadz Ridwan karena semuanya nanti akan diurus beliau."
Kata Pak Aji.
"Oh nggih, maturnuwun Pak."
Iis mengangguk.
"Kami ini tugasnya hanyalah mengawasi dan membina saja, untuk setiap kebijakan terkait kepengurusan yayasan, dan juga nantinya bagaimana pondok dan rumah tahfiz dijalankan, itu adalah tugas dan wewenang pengurus. Kami hari ini bicara banyak hanyalah memberikan pengarahan saja, nanti untuk segala keputusan serta eksekusi di lapangan, Pak Ustadz Ridwan monggo sebagai ketua mengambil alih."
Tambah Pak Haji Imron.
Rapat pun kemudian dilanjutkan hingga hampir jam lima sore, dan sekitar jam lima lebih tujuh belas menit, akhirnya rapat selesai, dan semuanya pamit pulang termasuk Ridwan dan Iis.
Pak Haji Imron mengantar semua yang sempat hadir hingga halaman rumahnya, Pak Karto ada di halaman rumah juga, manakala para tamu di rumah majikannya pulang satu persatu dan tinggal menyisakan Ridwan, Iis dan Pak Aji.
"Kami pulang dulu Pak Haji, Pak Aji."
Ridwan menyalami kedua seniornya.
Iis juga terlihat memberi salam dengan kedua telapak tangan ditangkupkan di depan dada sambil sedikit membungkuk.
__ADS_1
Pak Haji Imron mantuk-mantuk, begitupun juga dengan Pak Aji.
"Nanti kalau peresmian, jangan lupa saya diundang Pak Ustadz."
Kata Pak Aji pada Ridwan yang kini berada di dekat motornya yang terparkir, dan mengambil helm untuk Iis.
"Oh nggih jelas Pak Aji, panjenengan kan orang penting dalam yayasan ini."
Kata Ridwan.
Pak Aji tersenyum sambil menggeleng,
"Bukan peresmian yayasan Pak Ustadz, peresmian kalian ini lho."
Seloroh Pak Aji.
Ridwan demi mendengarnya jadi tertawa kecil.
Lagi dan lagi, ada yang mengira Ridwan dan Iis memiliki hubungan istimewa. Hubungan yang bukan hanya sekedar sesama teman Guru. Hubungan yang bukan hanya sekedar sesama pengurus yayasan, yang di mana Ridwan sebagai ketua dan Iis sebagai sekretaris nya.
Pak Haji Imron sendiri juga jadi terlihat terkekeh mendengarnya.
**--------------**
__ADS_1