
"Jadi, setelah ini kamu tidak akan tinggal di kota ini lagi Nisa?"
Tanya Iis dari sambungan telfon.
Ya... malam ini, selepas sholat isya, tiba-tiba Anisa menelfon Iis, sempat Iis bahkan merasa kaget karena Anisa sudah cukup lama tidak menghubunginya baik chat apalagi telfon.
"Aku minta maaf Is jika aku banyak salah selama ini, aku memutuskan untuk tinggal di kota asli Mas Wisnu, karena setelah aku berkunjung ke sana, aku rasa aku merasa sangat nyaman di sana."
Tutur Anisa.
Iis yang mendengarnya tampak tersenyum, rasanya ia ikut bahagia karena Anisa seperti memiliki harapan baru untuk merasakan kebahagiaannya.
"Aku tidak bisa melakukan apapun selain ikut mendoakan kebahagiaanmu Nisa, aku juga berharap rumah tanggamu dengan Mas Wisnu akan terus mendapatkan berkah dan juga diridhoi oleh Allah."
"Terimakasih Is, terimakasih, aku harap kamu juga."
Kata Anisa, meskipun Anisa seperti masih tak sanggup menyebutkan nama Ridwan.
Iis yang bisa memahami hanya bisa tersenyum.
"Terimakasih Nis, maafkan aku."
Lirih Iis.
"Sampaikan salam untuk Ibu ya Is, aku juga minta maaf karena mungkin tak sempat berkunjung lagi meski hanya untuk sekedar berpamitan."
Tutur Anisa.
"Iya Nisa, tidak apa-apa, nanti aku akan sampaikan pada Ibu, beliau tentu saja bisa mengerti, dan pasti beliau juga akan tetap mendoakanmu."
Mendengarnya tentu Anisa di tempatnya begitu terharu.
__ADS_1
Nyatanya, Ibunya Iis memang telah sedekat itu di hatinya. Perempuan itu yang bukan siapa-siapa nya sangat perhatian dan baik pada Anisa.
"Aku pamit ya Is, terimakasih untuk waktunya,"
Kata Anisa sebelum mengakhiri panggilannya.
"Sama-sama Anisa,"
Lalu pembicaraan mereka via telfon pun ditutup.
Setelah menerima telfon dari Anisa, tampak Iis meletakkan hp nya di atas meja dekat laptop miliknya.
Sejujurnya, Iis kini sedikit lebih lega dari sebelumnya, setelah akhirnya Anisa mau menelfonnya kembali.
Hubungan mereka yang sempat merenggang karena perubahan sikap Anisa sejak bertemu dengan Ridwan di rumah Iis, kini sepertinya sudah akan baik-baik saja, sekalipun mungkin tak bisa sebaik dulu.
Iis berjalan keluar kamar, ia ingin minum air putih lebih dulu sebelum pergi tidur.
Iis menghampiri Ibunya, tampak Ibu menyempatkan diri menoleh ke arah Iis,
"Belum tidur Is?"
Tanya Ibu.
Iis tersenyum,
"Baru selesai berbincang dengan Anisa, Bu."
Kata Iis, yang kemudian berjalan ke meja makan dekat ruang TV untuk mengambil gelas air minumnya lalu menuang air putih dari teko.
"Anisa? Dia menelfon?"
__ADS_1
Tanya Ibunya Iis.
Iis mengangguk, dibawanya gelas air minumnya ke tempat Ibu duduk di depan TV, lalu ikut duduk di sana sebentar.
"Anisa titip salam untuk Ibu, dia juga minta maaf karena tidak bisa pamit besok atau lusa akan pindah tinggal di kota asal Mas Wisnu."
Tutur Iis.
"Maksudnya Anisa akan tidak tinggal di kota ini lagi?"
Ibu seperti terkejut.
Iis mengangguk,
"Enggih Bu, Anisa merasa nyaman tinggal di kota kelahiran suaminya, ia sepertinya memang benar-benar ingin memulai lembaran hidup yang baru."
Kata Iis.
Ibu tampak mantuk-mantuk,
"Ya, sepertinya memang dia lebih baik hijrah ke tempat lain, mungkin dengan begitu ia akan merasakan suasana baru, dan bisa jadi mendapatkan keberuntungan baru."
"Iya Bu, inshaAllah, kita doakan yang baik-baik untuk Nisa."
Kata Iis yang memang selalu tulus pada Anisa sahabatnya.
Ya...
Untuk Iis, bukankah Anisa memang sudah bukan hanya sekedar teman?
Ia adalah saudara perempuannya. Iis menyayanginya dan tentu saja sebagai saudara tak ada keinginan yang lebih besar dari Iis untuk melihat Anisa bahagia juga.
__ADS_1
**----------**