Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
44. Parcel Tak Diharapkan


__ADS_3

Anisa pulang ke rumah saat sebentar lagi asar, itupun karena Iis tidur siang dan belum juga bangun sementara Ibunya Iis juga terlihat memaksakan diri menemani Anisa meskipun sebetulnya ia mengantuk karena terbiasa tidur siang.


Anisa baru akan memasuki halaman rumahnya, saat ia berpapasan dengan orang seperti kurir dan tampak Mbok Rat berdiri di dekat pagar rumah.


"Siapa Mbok?"


Tanya Anisa penasaran.


"Mengantar parsel, itu di taruh di meja teras."


Kata Mbok Rat menjawab pertanyaan Anisa seraya menutup pagar besi rumah Pak Haji Syamsul.


Anisa berjalan menuju teras rumah, tampak di atas meja teras ada parcel cantik.


Anisa mendekati parcel itu, mengambil kertas yang ada di sana, guna mengetahui siapa pengirimnya.


"Wisnu Suharsono, SE, M.Pd.I."


Gumam Anisa membaca tulisan yang tertera di sana.


"Calon suami Mbak Nisa?"


Tanya Mbok Rat.


Anisa menoleh ke arah Mbok Rat.


"Mbok Rat kok ngomongnya begitu."

__ADS_1


Protes Anisa cepat, tentu saja ia tak suka Mbok Rat menyebutkan Wisnu sebagai calon suaminya.


"Lho, kan kata Mbak Faizah juga..."


"Tidak Mbok, jangan berkata begitu lagi, Mbok membuat aku sedih."


Kata Anisa yang kemudian masuk ke dalam rumah tanpa peduli dengan parcel dari Wisnu di meja teras rumahnya.


Mbok Rat yang melihat sikap Anisa demikian akhirnya hanya bisa menghela nafas.


Mbok Rat pikir, apa yang dikatakan Mbak Faizah adalah kebaikan untuk semuanya. Mencarikan jodoh untuk sang adik seorang laki-laki mapan, berpendidikan, dan wajah ganteng, bisa dikatakan mencari yang seperti itu lagi belum tentu ada.


Tapi...


Anisa nyatanya tak berbalik sama sekali ke arah Mbok Rat.


Anisa memilih langsung menuju kamarnya, dan kemudian ia ingin mandi saja.


Meski parcel itu ditujukan untuk Abahnya, tetap saja Anisa merasa terganggu dengan kehadiran parcel itu.


Tentu saja, sudah bisa dibayangkan, bagaimana tambah bangganya Mbak Faizah dengan pilihannya untuk Anisa.


Anisa meraih handuk dan keluar kamar lagi untuk masuk ke kamar mandi di lantai yang sama.


Ia akan sholat dan mengaji agar bisa mengirimkan pahalanya.


Ya seperti nasehat yang diberikan Ridwan padanya pagi menjelang siang tadi, bahwa sudah seharusnya kita menjadi anak banyak-banyak mengirim doa untuk orangtua yang telah tiada.

__ADS_1


Apalagi, jika saat di dunia kita belumlah sempat membahagiakan mereka, belum sempat memberikan apapun untuk mereka.


Anisapun segera masuk ke kamar mandi.


**----------------**


Di rumah Ridwan, tampak Ridwan sedang membantu Mbak Wening bersiap mengolah pisang-pisang yang baru saja mereka panen.


Mbak Wening berencana akan membuat keripik dulu. Setelah nanti keripik selesai, baru Mbak Wening besok akan membuat beberapa bolu pisang.


Selain bolu pisang, olahan lain yang dipesan Ibunya adalah pipis sagu dengan isian pisang.


"Kalau bolu sama kue pipis nanti kan bisa dikirim-kirimkan pada tetangga, dan juga dibagikan pada anak-anak murid mengaji Ridwan yang setiap sore berangkat.


Ibu juga terlihat ikut membantu di dapur mengolah pisang menjadi keripik, sementara Ajeng masih belum pulang karena sibuk main dengan teman-temannya.


"Wan, nanti kalau habis kamu sholat asar, coba cari Ajeng suruh pulang biar mandi, katanya mau berangkat mengaji, tapi kalau main tidak."


Kata Mbak Wening pada Ridwan.


"Oh ya Mbak, nanti tek cari,"


Sahut Ridwan.


"Paling lagi lihat orang panen."


"Kata Ibu,"

__ADS_1


Hihihi...


**------------**


__ADS_2