Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
30. Jangan Sombong


__ADS_3

"Besok sabtu minggu ada acara Bu?"


Tanya Pak Guru Hasan.


Iis yang semula sedang menyiapkan buku yang akan ia bawa ke kelas menengadahkan wajahnya sebentar ke arah Pak Guru Hasan.


"Memangnya ada apa to Pak?"


Tanya Iis heran, tidak biasa-biasanya Pak Guru Hasan kepo soal kegiatan Iis di akhir pekan.


"Tidak apa-apa Bu, ingin tahu saja, Bu Guru Iis tahu rumah Pak Guru baru kita tidak? Katanya masih satu desa dengan Bu Iis."


Ujar Pak Guru Hasan.


Iis yang sebentar lagi akan mengajar tampak tersenyum,


"Iya Pak, memang satu desa, tapi beda RW, jadi cukup jauh."


"Tapi berarti tahu di mana dong..."


Iis menghela nafas,


"Pak Guru Hasan mau silaturahmi ke tempat Pak Ridwan?"


Tanya Iis.


Pak Guru Hasan nyengir,


"Ya penasaran saja, koneksi dia siapa, bisa langsung diterima, sementara saudara saya saja tidak bisa."


Kata Pak Guru Hasan.


Iis yang mendengar alasan Pak Guru Hasan demikian terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Saya mau mengajar dulu Pak, permisi."


Kata Iis, yang lantas bergegas meninggalkan kantor Guru untuk menuju kelas di mana ia akan mengajar.


Pak Guru Hasan...


Iis sebetulnya tidak terlalu kaget dengan sikap Pak Guru Hasan yang demikian, karena memang meskipun Pak Guru Hasan ini seorang laki-laki, tapi sifatnya sedikit lebih mirip perempuan.


Selain kadang ia terlalu banyak bicara, ia juga gampang iri dengan keberhasilan orang lain.


Iis menghela nafas, sepertinya Pak Guru Ridwan nantinya harus sedikit lebih hati-hati menghadapi Pak Guru Hasan.


Sudah jelas dilihat dari cara dia berbicara yang seolah menuduh Pak Guru Ridwan bisa masuk sekolah mereka sebagai tenaga pendidik adalah karena koneksi saja itu menandakan ia tidak suka dengan kehadiran Pak Guru Ridwan di tengah mereka.


Sepeninggal Iis, tampak Pak Guru Hasan kembali ke mejanya sendiri.


Ia baru akan memeriksa kertas ulangan dari murid-muridnya, saat Mas Trisno mengetuk pintu ruang guru dan kemudian masuk ke dalam.


"Ada apa No?"


Tanya Pak Guru Hasan.


"Oh ini Pak, tadi pagi Pak Kepsek meminta saya saya menyiapkan meja dan kursi baru untuk Pak Guru Ridwan."


Kata Mas Trisno.


"Lho kenapa harus ganti yang baru? Itu kan yang lama juga tidak terpakai."


Pak Guru Hasan keberatan,


"Tapi ini kan perintah dari Pak Kepala Sekolah, Pak "


Ujar Mas Trisno,


Pak Guru Hasan terlihat memasang wajah kurang suka, tapi toh Mas Trisno jelas tak peduli, di sini dia bekerja pemimpin tertingginya tentu adalah kepala sekolah.

__ADS_1


Mas Trisno kemudian menggeser meja lama yang terletak di sebelah meja Bu Guru Iis, meja yang sudah kurang layak karena banyak yang keropos, terutama di bagian laci.


Setelah menggeser dan mengeluarkannya tanpa dibantu sama sekali oleh Pak Guru Hasan yang pura-pura sibuk saja, Mas Trisno ganti memasukkan meja yang baru ke dalam ruang guru untuk diletakkan di tempat semula.


Setelah selesai, Mas Trisno lantas permisi keluar lagi.


Pak Guru Hasan tampak hanya mengangguk dan tersenyum masam saja melihat Mas Trisno saat pamit keluar padanya.


**----------**


"Senin besok mulai mengajar, kamu lebih baik siapkan diri Wan agar tidak sampai nantinya malah kelabakan."


Kata Ibu saat Ridwan selesai sholat dzuhur dan kemudian bersiap menjemput Ajeng ke sekolah.


Ajeng hari ini sebetulnya sudah dilarang masuk sekolah, tapi Ajeng tetap bersikeras masuk karena ada ekstra kulikuler Pramuka kesukaannya.


"Enggih Bu, nanti ada waktu dua hari, Ridwan akan siapkan materinya."


Kata Ridwan.


"Lagipula, kita kan ikut kurikulum yang ada, jadi Ridwan pokoknya ya manut saja dan melakukan yang terbaik."


Tambah Ridwan pula.


"Mengajar cucunya Pak Haji Syamsul mulai kapan?"


Tanya Ibu.


"Setiap sabtu dan minggu sore Bu, sebelum Ridwan mengajar di tempat Pak Haji Imron."


"Sabtu berarti sama dengan jadwal les Ajeng?"


Tanya Ibu pula.


Ridwan mengangguk, lalu menyalami Ibu.


"Enggih Bu, nanti jadi bisa sekalian antar Ajeng les, Ridwan mengajar ngaji cucunya Pak Haji Syamsul, pulangnya bisa sama-sama Mbak Wening dan Ajeng juga."


Ibu mantuk-mantuk.


"Tek jemput Ajeng dulu nggih Bu."


Pamit Ridwan.


"Iya, hati-hati Wan bawa motornya."


Pesan Ibu.


Ridwan mengangguk, lalu bergegas keluar dari rumah dan naik ke motor pemberian Pak Haji Imron.


Hari ini matahari bersinar cukup terik, di area sawah bahkan terlihat begitu panas.


Ridwan menyusuri jalanan desa yang kanan kirinya kini terhampar sawah yang sebagiannya sudah mulai dipanen, jika terkadang Ridwan melalui jalanan yang di sisi kanan jalannya banyak rumah dan ada yang sedang duduk atau kebetulan sedang beraktifitas di depan rumah, Ridwan pun menyapa mereka atau sekedar menyunggingkan senyuman ramah.


Di beberapa rumah Ridwan juga melihat banyak padi yang di jemur di atas terpal-terpal yang digelar di depan rumah.


Motor melaju ke arah sekolah Ajeng, di mana Ajeng bersekolah di SDN Waru satu.


Sampai di sana, Ajeng terlihat sudah duduk di batu-batu taman depan sekolahnya.


Suasana sudah agak sepi, karena sepertinya kegiatan ekstrakurikuler sudah selesai dan anak-anak sudah mulai pulang satu persatu.


Ajeng menyambut kedatangan Pamannya dengan suka cita, yang bersamaan dengan itu tampak Suci dan teman-temannya baru keluar dari area sekolah sambil membawa buku perpustakaan.


Mereka menatap Ajeng yang kini naik ke boncengan motor Paman Ridwan.


"Itu Pak Ustadz Ridwan, ayo salim."


Tiba-tiba Suci bicara pada teman-temannya, sambil kemudian berlari ke arah Ridwan dan menyalaminya.

__ADS_1


Ajeng melihat Suci dan teman-temannya yang menyalami Ridwan,


"Pak Ustadz, besok mengajinya jam berapa?"


Tanya Suci.


"Besok selepas sholat asar ya."


Jawab Ridwan sembari tersenyum.


"Siap Pak Ustadz."


Kata Suci yang diikuti teman-temannya juga.


"Ajeng ikut ngaji juga tidak?"


Tanya Suci.


Ajeng menggeleng.


"Ajeng mah ngajinya sama Paman setiap hari, tidak usah nunggu besok, nanti malam juga bisa."


Sahut Ajeng.


Mendengarnya Suci dan teman-temannya jadi diam saja, ekspresi khas anak-anak yang bingung mau jawab apa saat ada temannya yang menyombongkan diri.


"Sudah ya anak-anak, pulangnya pada hati-hati ya, jangan mampir ke mana-mana, kalau mau main pamit dulu pada orangtua di rumah."


Kata Ridwan berpesan.


Suci dan teman-temannya pun mengangguk.


"Enggih Pak Ustaaadz."


Ridwan tersenyum,


"Pak Ustadz pulang dulu ya, assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Jawab Suci dan teman-temannya.


Ridwan melajukan motornya meninggalkan Suci dan teman-temannya yang kini tampak melambaikan tangannya.


Ajeng sempat menoleh memandangi mereka, lalu tersenyum bangga sendiri karena Pak Ustadz yang dikagumi teman-temannya itu adalah Pamannya.


"Ajeng, lain kali jangan suka begitu ya jawabnya kalau diajak ngaji, atau diajak apapun misal Ajeng bisa melakukannya lebih banyak atau lebih sering atau lebih mampu dari yang lain."


Ridwan menasehati sambil melajukan motornya pelahan menyusuri jalanan desa untuk pulang.


"Memangnya kenapa Paman? Kan Ajeng memang bisa ngaji sama Paman nanti dan kapan saja."


"Iya, memang Ajeng bisa, tapi kalau Ajeng begitu nanti Ajeng akan jadi anak yang sombong. Ajeng tahu? Jika sombong adalah sifat yang paling dibenci oleh Allah?"


Ajeng mendengar Ridwan bicara tampak diam,


"Iblis itu alim sekali, ilmunya tinggi, ia bahkan pernah jadi pemimpinnya malaikat. Tapi, dia sombong, maka itu Allah murka padanya."


Kata Ridwan.


"Ajeng jangan lagi seperti tadi ya, kalau ada yang ajak ngaji, jawab saja, iya Ajeng juga ngaji, tapi kita rumahnya jauh, jadi kita ngaji di tempat sendiri-sendiri."


Ajeng lalu mengangguk,


"Ajeng mengerti?"


Tanya Ridwan melirik Ajeng dari spion motonya.


Tak terlalu terlihat, tapi Ridwan yakin keponakannya yang sebetulnya baik, cerdas dan penurut itu mengerti.

__ADS_1


Dan nyatanya Ajeng memang mengangguk di belakang Ridwan.


**------------**


__ADS_2