
Anisa menghela nafas di dalam kamar, lelah sudah ia menangis hari ini.
Ya, meskipun sebetulnya Anisa tahu bahwa apa yang terjadi pada dirinya dan Ridwan pasti akan berakhir, namun nyatanya, mendapati kenyataan bahwa semuanya sungguh-sungguh berakhir ternyata tetap menyakitkan hatinya.
Basah kuyup bantal tidurnya oleh air mata yang seperti enggan berhenti tercurah dari kedua mata beningnya.
"Kita harus ikhlas, kita memang tak ditakdirkan berjodoh."
Kalimat itu sungguh meruntuhkan seluruh dinding hati Anisa.
Runtuh, seruntuh-runtuhnya.
Di luar sana, hari telah berganti malam, Anisa telah menghabiskan waktu yang begitu panjang untuk menangis.
Gadis itu lantas teringat bahwa ia telah meninggalkan waktu sholat dari saat Asar.
Anisa kini bangun dari posisinya, kamarnya yang gelap kini menuntutnya untuk menyalakan lampu agar ruangan terlihat terang.
Anisa pun turun dari tempat tidur, dibawanya langkahnya menuju samping pintu kamar untuk menyalakan lampu.
Jarum jam dinding telah menunjuk angka sembilan malam ketika akhirnya kini lampu menyala terang dan mata Anisa tanpa sengaja melihat ke arah jam.
Anisa lantas keluar dari kamar, namun betapa terkejutnya ia, manakala dilihatnya di kursi dekat pintu kamar Anisa tampak Wisnu tertidur dalam posisi duduk.
Laki-laki itu tampak tidur karena kelelahan, duduk bersandar sambil tidur pulas.
Di samping kursi di mana ada meja kayu kecil berbentuk bundar, tampak nampan berisi satu piring nasi dan satu mangkuk sayur sop iga serta pisin kecil ayam goreng dan perkedel kentang.
Anisa menatap haru Wisnu yang duduk di sana sambil tertidur dengan di sampingnya terdapat makanan yang pasti tadi adalah disediakan untuk Anisa.
Tanpa terasa Anisa pun berurai air mata lagi, hatinya sungguh tergetar dengan apa yang dilakukan Wisnu untuknya.
Ya Wisnu...
Siapa lagi yang bisa melakukan semua ini untuk Anisa sebaik Wisnu? Siapa lagi yang mau melakukan semua ini untuk Anisa selain Wisnu?
Ridwan?
Anisa menggeleng pelan dengan curahan air mata.
Tidak, Ridwan bahkan tak kuasa melakukan apapun untuk Anisa.
Ia belum apa-apa telah disakiti sedemikian dalam oleh Abah dan Kakaknya, jadi apa yang bisa Anisa harapkan lagi dari Ridwan?
Sungguh jika Ridwan masih bisa memaafkan keluarga Anisa pun itu sudah jauh lebih baik, tak menaruh dendam itupun sudah luar biasa.
Anisa kini menyadari segalanya tak sesuai harapan karena mungkin memang ia dan Ridwan yang tak ditakdirkan untuk bersama.
Ia dan Ridwan tak ditakdirkan untuk berjodoh di dunia apalagi di akhirat.
__ADS_1
Anisa menyeka air matanya yang telah membasahi pipinya lagi.
Astaghfirullah...
Anisa pun tak lupa mengucap istighfar dalam hati karena terlalu larut dalam kesedihan hingga malah melupakan kewajiban yang seharusnya ia pentingkan.
Hingga...
Anisa baru akan meneruskan langkahnya menuju kamar mandi tatkala tiba-tiba Wisnu terbangun membuka matanya,
Keduanya pun saling berpandangan sejenak, sampai kemudian Wisnu akhirnya berdiri,
"Ah maaf Nisa, aku sebetulnya tadi mau mengantar makan..."
"Tidak apa Nu, aku tahu."
Sela Anisa tanpa harus menunggu Wisnu menyelesaikan kalimatnya.
Wisnu tampak tersenyum lega, karena melihat Anisa kini berdiri di hadapannya dalam posisi yang tidak selemah yang ia bayangkan.
Ya...
Sejujurnya, Wisnu takut dan khawatir Anisa yang pastinya sangat terguncang akan jatuh sakit atau bahkan sampai depresi lagi.
Tapi, melihat sosok Anisa malam ini yang bisa berdiri dan bahkan bicara dengan nada suara yang masih sama, untuk Wisnu itu adalah hal yang sangat melegakan.
Kata Anisa antara malu dan menyesal juga,
Wisnu mengangguk mengerti,
"Ya Nis, ngg... tapi ini makanannya sudah dingin, kamu mungkin ingin makan yang lain? Aku bisa belikan lainnya jika kamu mau."
Kata Wisnu.
Anisa menggeleng pelan,
"Tapi kamu harus makan Nis."
Wisnu belum apa-apa langsung panik, hal itu malah membuat Anisa jadi tersenyum,
"Aku belum bilang aku tidak ingin makan Nu."
Ujar Anisa.
"Kamu menggeleng, bukankah itu juga pertanda kamu mengatakan tidak untuk makan?"
Anisa pun kembali tersenyum mendengar kata-kata Wisnu,
"Maksudnya aku tidak perlu makanan lain Nu, aku akan makan yang sudah ada saja, nanti gampang aku angetin sendiri sehabis aku sholat."
__ADS_1
"Ah begitu, ya kamu sholat saja, biar aku yang angetin, sholat lah Nis."
Wisnu kemudian tergopoh-gopoh mengambil nampan yang untuk mengantar makan malam Anisa.
Wisnu membawanya pergi dari hadapan Anisa yang jadi terdiam dan hanya mampu menatap Wisnu dengan perasaan yang semakin campur aduk.
"Dia laki-laki yang jauh lebih baik dari aku dalam segala hal."
Suara Ridwan seolah kembali terngiang di telinga Anisa.
**--------------**
Nisa, percayalah, aku dan Pak Ridwan tidak ada hubungan apapun. Kami adalah rekan kerja sesama Guru di sekolah yang sama. Ikutnya aku ke tempat mu hari ini adalah murni hanya sebuah kebetulan. Maaf jika apa yang terjadi kemudian membuatmu jadi salah faham.
Iis menulis dan kemudian mengirimkan pesan pada Anisa.
Pesan yang kata-katanya terus menerus ia hapus dan ketik ulang karena selalu merasa ada yang kurang tepat dan takut akan menambah masalah lagi.
Iis menghela nafas, tampak ia duduk di sisi tempat tidurnya dengan perasaan gelisah tak menentu sejak siang tadi ia pulang dari rumah Wisnu di mana di sana ia tanpa sengaja bertemu dengan Anisa.
Tanpa sengaja jadi terlibat masalah Anisa dengan Ridwan, rasanya sungguh seperti mimpi buruk karena posisi Iis yang jadi terkesan serba salah.
Iis bahkan masih mengingat tatapan dan nada suara Anisa yang seolah begitu benci dengan kehadiran Iis di sana dengan Ridwan, yang seolah menganggap Iis seperti sahabat yang sangat jahat dan tega memukul Anisa dari belakang.
Astaghfirullah...
Iis pun beristighfar.
Seberapapun sebetulnya Iis juga berharap cinta Ridwan, tapi sampai hari ini, Iis masih berusaha menahan diri karena Iis tidak ingin berlaku jahat pada Anisa.
Bahkan, seandainya Ridwan yang lebih dulu mendekati Iis pun, lalu Anisa masih mengharapkan Ridwan pun, Iis juga tak akan sanggup menerima, betapapun Iis ingin melakukannya.
Meski bukan dosa bagi Iis jika ia menerima cinta Ridwan karena ia belum terlibat pernikahan dengan Anisa, tetap saja bagi Iis itu adalah salah.
Anisa adalah sahabat yang juga Iis telah anggap sebagai saudara perempuannya, sama seperti yang Anisa katakan bahwa ia menganggap Iis bukan hanya sekedar sahabat namun juga saudara.
Ya...
Saudara.
Iis sungguh tahu makna saudara itu adalah sangat dekat, di mana tidak mungkin baginya sampai melakukan hal yang akan mencederai hubungan sebaik itu.
Tidak...
Tentu saja tidak mungkin.
Iis cukup tahu diri, dan ia adalah perempuan yang sangat menghormati perempuan lain, menghargai hak-hak perempuan lain. Apalagi jika perempuan lain itu adalah Anisa.
**---------------**
__ADS_1