
Ridwan sepanjang perjalanan pulang terus memikirkan permintaan Ibunya Iis.
Sebagaimana saat ia diminta mengemban wasiat Almarhum Pak Sahudi, hari ini ia juga sama takutnya.
Takut nantinya ia tak bisa berlaku sesuai harapan Ibunya Iis.
Sibuk berpikir sepanjang jalan, Ridwan akhirnya sampai di rumah, dan tampak Mbak Wening yang baru akan masuk rumah.
Mendengar suara motor Ridwan datang tentu saja Mbak Wening langsung menghentikan langkahnya, ia memandangi sang adik yang kemudian memasuki halaman rumah dengan motornya.
Mbak Wening tampak tersenyum menyambut, dan makin tersenyum manakala Ridwan turun dari motor dan membawa satu kantong ukuran sedang yang sepertinya adalah kotak ayam goreng Mbok Sakini yang masyhur itu.
Ridwan menghampiri Mbak Wening sembari membuka helm, Mbak Wening membantu mengambil alih membawakan kantong berisi kotak yang dibawa Ridwan.
"Ayam goreng Mbok Sa..."
"Sudah Mbak duga, hihihi..."
Mbak Wening langsung menyalip kata-kata Ridwan, membuat Ridwan tersenyum ke arah Kakaknya.
"Dari mana barusan Mbak?"
Tanya Ridwan pada Mbak Wening sambil mengikuti kakaknya masuk ke dalam rumah.
"Oh itu, tadi mengantar Mbok Yem pulang, bareng sama tukang urutnya Ajeng."
Jawab Mbak Wening.
"Oh, kaki Ajeng masih bengkak Mbak? apa boleh diurut?"
Tanya Ridwan lagi.
"Tadi yang diurut yang tidak bengkak to, yang bengkak disuruh pakai kentang, itu kan pergelangan kaki, besok pagi coba cari kentang di warung."
Ujar Mbak Wening, lalu...
"Buuu... Ini Ridwan wis mulih."
Kata Mbak Wening sambil berjalan masuk ke arah ruang makan, tampak Ibu yang semula ada di dapur sedang merebus daun singkong untuk makan malam terlihat masuk ruang dalam.
"Bu..."
Ridwan menghampiri Ibunya, bersalaman dan mencium tangannya.
__ADS_1
"Sudah selesai rapatnya?"
Tanya Ibu.
"Sampun Bu."
"Lancar kan?"
Tanya Ibu lagi. Ridwan mengangguk,
"Alhamdulillah."
Jawab Ridwan.
"Bu, ini Ridwan beli lauk ayam goreng warung lesehan yang dekat masjid Agung, yang dulu sekali kita pernah makan di sana, yang kata Ibu enak sekali itu."
Ujar Mbak Wening.
"Oh Ibu suka ayam goreng warung itu to? Kebetulan tadi Iis mengingatkan agar sekalian bungkus buat di rumah,"
Kata Ridwan tanpa sadar menyebut nama Iis, yang membuat Ibunya dan Mbak Wening menoleh ke arahnya dengan tatapan dan senyuman lucu.
"Oh, itu... Iis juga soalnya beli untuk Ibunya, maksudnya Ridwan apa, anu... Ridwan..."
Kata Mbak Wening akhirnya memutus kalimat Ridwan yang berantakan karena gugup.
Ibu tersenyum melihat Ridwan yang jadi wajahnya bersemu merah.
"Wis, mandi dulu saja, sebentar lagi Maghrib lho, kamu harus ke masjid kan Wan."
Kata Ibu akhirnya.
Ridwan pun cepat mengangguk.
Ah memang lucu sekali, saat digoda teman-temannya atau digoda orang lain, rasanya Ridwan tidak apa-apa, bahkan bisa menggoda balik.
Tapi, jika di depan Ibu dan Mbak Wening, rasanya Ridwan benar-benar gugup setengah mati.
Melihat Ridwan berjalan ke kamar, Mbak Wening yang tampak cekikikan di tabok oleh Ibunya.
"Ojo ngguyuni adine dewe."
Kata Ibu pada Mbak Wening yang sudah mengeluarkan semua kotak ayam dari kantong.
__ADS_1
"Sopo sing ngguyuni sih Bu,"
"Lha itu, cekikikan."
Kata Ibu, membuat Mbak Wening nyengir,
"Wening tuh lagi ikut seneng lho itu Ridwan sepertinya bakal jodoh dengan Bu Guru Iis."
Mbak Wening menatap Ibunya,
"Wong Ibu juga kan seneng kalau Ridwan sama Bu Guru Iis,"
Kata Mbak Wening yang membuat Ibu tampak tersenyum saja, meski hatinya mantuk-mantuk, hihihi...
**--------------**
Sementara itu, di rumah Iis, di kamar Ibunya, tampak Iis duduk di sisi tempat tidur menemani Ibunya menghabiskan bubur ayam yang ia belikan.
Iis ingin sekali bicara pada Ibunya agar jangan lagi-lagi berkata aneh-aneh pada Ridwan karena Iis tidak enak.
Tapi...
Melihat Ibunya duduk sambil makan bubur ayam, rasanya Iis bukannya bisa bicara, yang ada malah ia berlinang air mata.
Kata-kata Ibunya pada Ridwan yang ia curi dengar tentang kondisi kesehatannya yang sering memburuk dan membuatnya takut jika kapanpun bisa meninggal, membuat Iis begitu sedih.
Ia tak tahu jika selama ini Ibunya memikirkan hal semacam itu, ia juga tak menyangka Ibunya akan sejauh itu menghawatirkan dirinya.
"Kamu kenapa Is? Kok tiba-tiba nangis?"
Tanya Ibu heran, Iis yang mendengar Ibunya tiba-tiba bertanya tampak meraih tangan Ibunya.
"Ibu yang sehat, panjang umur, dan tetaplah bersama Iis dalam waktu yang lama."
Kata Iis sambil makin bercucuran air mata.
Ibu pun jadi ikut berlinang air matanya, hatinya tergetar.
"Ibu jelas berusaha sehat Is, Ibu ingin melihatmu menikah dan bisa menimang cucu dari kamu."
Ujar Ibu.
**-------------**
__ADS_1