
Mbak Wening di kamar sedang cekikikan sendiri dengan hp nya di kamar, saat di luar terdengar suara motor memasuki halaman depan rumah dan berhenti.
"Ning... Coba lihat itu ada siapa..."
Kata Ibu dari arah dapur karena baru selesai dari halaman belakang memindahkan cucian lagi ke jemuran mumpung gerimis telah reda.
Tapi, Mbak Wening yang sedang sibuk sendiri bicara di telfon tentu saja tak mendengar, ia malah tetap asik ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon saja.
"Haduuh dasar ini anak, ngobrol sama siapa sampai cekikikan terus."
Ibu akhirnya terpaksa berjalan sendiri ke ruang depan.
Tepat saat ia akan melihat siapa yang datang, terdengar suara Ajeng di luar rumah.
Lho, kol suara Ajeng. Batin Ibu,
Ibu langsung mempercepat langkahnya, khawatir tentu saja ada apa-apa dengan cucunya.
Dan benar saja, sampai di pintu depan, begitu dibuka, tampak Ajeng sedang kesulitan turun dari motor.
Kakinya yang juga ternyata terkilir mulai terasa sakitnya, belum lagi yang lecet-lecet.
Iis kini berusaha mengangkat Ajeng turun dari boncengan, agar Ajeng tak usah turun sendiri karena memang sakit.
"Oalah... kenapa ini, ya Allah, Ajeng... Ajeng..."
Ibu sampai harus mengangkat kainnya sedikit ke atas untuk terburu-buru turun dari teras.
"Niiiing... Weniiiiing, ini lhooo anak mu iniiii..."
Kata Ibu dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya.
"Pegangan Bu Guru, Jeng."
Kata Iis pada Ajeng.
Tampak Ajeng merangkul bahu Bu Guru Iis, Ibu yang sudah mendekat membantu memegangi tubuh Ajeng agar tidak jatuh.
"Kenapa ini Bu Guru?"
Tanya Ibu.
"Jatuh Bu, Ajeng jatuh dengan sepedanya ke parit tikungan depan sana."
__ADS_1
"Ya Allah..."
Ibu tampak begitu kaget mendengarnya, bersamaan dengan itu Mbak Wening muncul dari pintu depan rumah.
Mbak Wening tentu saja langsung histeris begitu melihat Ajeng yang kesulitan berjalan sampai harus dipotong Bu Guru Iis.
Mbak Wening cepat menjemput Ajeng dan mengambil alih Ajeng dari tangan Bu Guru Iis yang terlihat tidak terlalu kuat sebetulnya mengangkat Ajeng.
Mbak Wening lantas membawa Ajeng ke dalam rumah, dan langsung ke kamar untuk dibaringkan di tempat tidurnya. Ajeng merintih kesakitan tapi tidak menangis.
"Sakit Bu,"
Kata Ajeng pada Mbak Wening yang kini sibuk melepaskan sepatu dan kaos kaki Ajeng yang basah, lalu rok dan juga bajunya serta jilbabnya.
Iis yang balik lagi ke motor untuk mengambil tas sekolah Ajeng yang basah, kini buru-buru menyusul Mbak Wening dan Ibunya Ridwan masuk ke dalam rumah.
"Jatuh dengan sepedanya di parit dekat tikungan kata Bu Guru, Ning."
Terdengar suara Ibu di kamarnya Ajeng dan Mbak Wening, Iis lantas memberanikan diri untuk mendekat ke sana lalu menyingkap tirai kamar Ajeng.
Ibunya Ridwan yang berdiri dekat tirai pintu kamar Ridwan menoleh begitu Iis melongok sambil membawakan tas Ajeng yang sebagiannya juga basah.
Mbak Wening terlihat sibuk akan memberikan obat merah pada luka lecet di tubuh Ajeng, melihatnya Iis langsung buru-buru menahan,
Kata Iis yang lalu,
"Nuwun sewu nggih Bu,"
Iis sedikit membungkuk saat melewati Ibunya Ridwan, untuk kemudian mendekati tempat tidur di kamar yang kini Ajeng berbaring di sana.
Iis lantas mengambil alih merawat luka Ajeng, sementara di depan terdengar suara motor lain memasuki halaman juga.
Ibu dan Mbak Wening sama mengenali suara motor itu adalah suara motor Ridwan, maka cepat Ibu yang keluar,
"Tadi Pak Ridwan saya minta untuk menunggu sepeda Ajeng berhasil diangkat dari semak-semak dekat parit."
Kata Iis sambil memberikan obat merah pada luka Ajeng.
Mbak Wening melihat ketelatenan dan kesabaran Iis, serta ketulusan Iis yang terlihat benar-benar perhatian pada Ajeng membuat Mbak Wening tambah-tambah menyukai sosok Bu Guru yang satu ini.
Lalu...
"Ajeng nya bagaimana Bu?"
__ADS_1
Terdengar suara Ridwan dan suara langkahnya mendekati kamar, yang lantas tampak tak lama kemudian masuk ke kamar Ajeng dan Mbak Wening juga.
"Ini yang terkilir mungkin dicarikan tukang urut dulu nopo nggih?"
Iis menatap Mbak Wening,
Ridwan berjalan mendekat, karena posisi Mbak Wening berada di dekat kepala Ajeng, Ridwan akhirnya memilih berdiri di dekat Iis agar bisa melihat wajah Ajeng dan juga luka yang kini tengah di tutup memakai hansaplast oleh Iis.
"Tapi lukanya tidak parah ya Bu?"
Tanya Ridwan.
Iis menggeleng,
"Hanya lecet-lecet saja Pak, tapi nanti mungkin bisa ke dokter kalau Pak Ridwan khawatir."
Kata Iis,
Ajeng menggeleng,
"Tidak mau ah, ke dokter tidak mau, nanti minum obat."
Ajeng cepat-cepat menolak.
"Kamu ini kenapa lho sampai terjun ke parit, Ajeng... Ajeng... Kalau tidak ada Bu Guru Iis bagaimana?"
Mbak Wening geleng-geleng kepala.
"Kalau saya tidak lewat, Pak Ridwan kan tidak lama lewat juga, Mama Ajeng."
Kata Iis,
"Ah iya kalian memang kayaknya berjodoh."
Sahut Mbak Wening asal tanpa melihat ekspresi keduanya yang langsung tampak salah tingkah,
Apalagi ketika Ibu juga masuk membawa satu gelas teh untuk Iis dan satu gelas air putih hangat untuk Ajeng, tiba-tiba saja Ajeng juga nyeletuk,
"Ajeng mau kalau Bu Guru Iis jadi Bibi Ajeng,"
Dan tentu saja Iis langsung terbatuk-batuk, dan Ridwan makin salah tingkah.
Mbak Wening meraih gelas air putih milik Ajeng untuk diberikan pada Iis yang terbatuk gara-gara mendengar kata-kata Ajeng.
__ADS_1
**--------------**