
Adzan Maghrib berkumandang terdengar di antara riuh deras guyuran air hujan di atas atap ketika Iis baru selesai mandi.
Sepulang dari mengantar Ajeng, Iis memang disuruh Ibu untuk mandi air hangat supaya tidak sampai masuk angin.
"Minum teh dulu ini Is, sudah ibu campurkan madu dan irisan lemon juga."
Ujar Ibu pada Iis yang selesai mandi tampak akan menuju kamarnya.
"Nggih Bu, sebentar, Iis tadi lupa hp lagi dichas belum di mode pesawat."
Kata Iis, karena suara petir di luar sana semakin terdengar cukup intens.
Ibu pun mengangguk,
"Ya, nanti diminum ini Ibu sudah siapkan, kalau mau langsung makan juga tidak apa-apa, Ibu sholat dulu ya."
Ujar Ibu lagi.
"Nggih Bu,"
Sahut Iis, yang lantas melanjutkan jalannya ke kamar untuk mengganti mode pesawat pada hp nya.
Setelah mengganti hp ke dalam mode pesawat, Iis kembali keluar dari kamar, untuk lantas ke ruang makan untuk minum air teh hangat yang telah diberi irisan lemon dan juga madu.
Lauk masakan Ibu sudah tampak tertata di atas meja, dari dadar telur, hingga bihun goreng.
Iis lantas teringat akan pembicaraannya dengan Ibunya Ridwan, tentang kelak jika ia akan menikah dengan Ridwan.
Ya...
Menikah.
Di mana nanti mereka kira-kira akan tinggal?
Jika melihat kondisinya di mana Ibunya Iis yang tinggal sendirian, tentu saja sudah semestinya mereka lebih baik tinggal di sini saja.
Tapi, bagaimana jika Ridwan lebih ingin tinggal dengan Ibunya?
Bukankah kewajiban anak laki-laki atas Ibunya adalah sampai ia mati kelak?
Tak peduli apakah ia sudah menikah atau belum, kewajiban anak laki-laki adalah berbakti pada Ibunya.
Tapi...
Jika benar Iis harus tinggal dengan Ridwan di rumah Ibunya Ridwan, bagaimana nasib Ibunya Iis?
__ADS_1
Apakah Ibunya nanti tidak jadi bersedih?
Bagaimana jika Ibunya Iis nanti sakit, sementara Iis sudah tidak bisa tinggal untuk menemani beliau?
Iis menyeruput wedang teh hangat buatan Ibunya, satu tegukan teh hangat bercampur madu dan irisan lemon itu begitu terasa segar, baik aroma dan rasanya.
Sungguh berat orangtua yang memiliki satu anak perempuan, jika anaknya menikah, lalu bagaimana dengannya? Siapa yang akan berbakti padanya? Malang nian jika nasibnya tidak diperhatikan.
Iis menghela nafas, kedua tangannya menggenggam mug isi wedang teh yang kini habis separuh.
Rasa hangat dari wedang teh di dalam mug terasa menjalar ke telapak tangan.
Ah, tentu saja, Iis akan mencoba membicarakannya dengan Ridwan nantinya soal ini.
Sebagai perempuan yang terlahir di jaman sekarang, ia tentu ingin tidak hanya pasif. Ia ingin lebih terbuka dan membangun komunikasi yang baik dengan calon suaminya.
Iis ingin menjadi sholehah dengan tata cara yang benar, bukan hanya dengan meraba-raba, apalagi hanya karena katanya-katanya.
Apapun yang ia tak mengerti, ia ingin menanyakannya langsung pada orang yang lebih tahu ilmunya.
Dan Alhamdulillah tentunya, karena Iis bisa langsung bertanya pada laki-laki yang merupakan calon imamnya juga.
Iis menyeruput wedang teh nya lagi, saat lamat-lamat mulai terdengar Ibu di dalam kamar mulai membaca Alquran.
Karena Ibu sudah mulai mengaji, Iis pun berdiri dan menutup mug berisi teh miliknya yang tinggal secuil lagi.
**-------------**
Ridwan yang berhubung hujan turun sangat deras akhirnya diminta Ibu untuk tetap tinggal di rumah dan sholat berjamaah mengimami Ibu dan Ajeng saja.
Selepas sholat, Ridwan kemudian mendampingi Ajeng mengaji di ruang depan rumah.
Ibu sendiri mengaji di ruang tengah, di kursi kayu panjang depan TV yang pastinya TV nya tidak dinyalakan, karena kalau dinyalakan, berarti ngajinya setengah hati. Hihihi...
"Jangan diputus di tengah ayat Ajeng, kalau tidak kuat nafasnya, maka baca ulang di mana sebelum Ajeng memutus ayatnya,"
Kata Ridwan mengingatkan Ajeng,
"Ah iya, Ajeng lupa terus."
Ujar Ajeng,
"Ayuk ulangi."
Kata Ridwan,
__ADS_1
Ajeng pun kembali membaca ayat dua puluh enak surah al kahfi yang ia baca. Ridwan mendengarkan baik-baik, agar tak sampai ada salah pengucapan maupun juga hukum bacaannya.
"Walaa Yusyriku fii hukmihii ahadaa."
Ajeng terdengar mengulang,
Bersamaan dengan itu terdengar suara sepeda motor yang seperti memasuki halaman rumah, lalu kemudian berhenti di depan rumah.
Ridwan yang merasa itu pasti Mbak Wening yang baru pulang kemudian meminta Ajeng untuk melanjutkan ngajinya, sementara Ridwan beranjak sebentar dari sana untuk keluar dari rumah menemui Mbak Wening dan orang yang mengantar.
Ridwan membuka pintu rumah, dan tampak kemudian Mbak Wening yang kini sedang berdiri di teras dengan sebagian tubuh basah kuyup.
Laki-laki yang mengantar juga berdiri di teras, namun tidak sampai naik.
Kedua orang itu terlihat salah tingkah manakala Ridwan tiba-tiba muncul dan berdiri di tengah bingkai pintu, sementara suara Ajeng mengaji masih terdengar.
"Mas, maaf tadi saya telat jemput, jadi ini Mbak nya baru sampai rumah, anak saya soalnya tadi ke rumah, jadi saya antar pulang dulu."
Kata si laki-laki yang tak lain adalah Mas Amin tersebut.
Ridwan mengangguk sambil memaksakan satu senyuman, lalu menoleh pada Mbak Wening agar kakaknya itu segera masuk rumah karena bajunya yang basah itu jadi memperlihatkan bentuk lekuk tubuhnya.
Mbak Wening yang paham Ridwan sepertinya kesal ia baru pulang akhirnya daripada berdebat di teras memilih menurut saja.
Ia hanya tetap menyempatkan diri mengucap terimakasih kepada Mas Amin, baru setelah itu Mbak Wening benar-benar masuk rumah.
Ajeng yang sedang mengaji menoleh ke arah Ibunya yang tampak masuk rumah dalam keadaan bajunya basah.
"Ssst lanjutkan... lanjutkan ngajinya."
Kata Mbak Wening pada Ajeng yang mengaji tapi matanya mengekor mengikuti Ibunya.
"Pamit dulu Mas."
Mas Amin yang tak enak menyalami Ridwan yang berdiri di teras seperti Bapak-bapak yang mendapati anak gadisnya pulang terlambat dan pulang diantar laki-laki.
Ridwan mengangguk saja, Mas Amin lantas berjalan tergesa naik ke atas motor, dan kemudian langsung tancap gas pergi.
Ridwan menghela nafas, menatap sejenak rinai hujan yang seolah tak juga ingin reda.
Hingga, Ridwan sayup mendengar Ajeng salah membaca lagi di ayat dua puluh sembilan, Ridwan pun akhirnya segera masuk rumah lagi.
"Hmm... Ulangi Ajeng, bacaannya kok begitu."
Ridwan menutup pintu rumahnya, lalu kembali duduk di sebelah Ajeng untuk melanjutkan Ajeng mengaji.
__ADS_1
Di dalam, Mbak Wening tampak mengambil kain jarik untuk kemudian akan ia bawa ke kamar mandi, tentu saja ia harus mandi agar tak sampai masuk angin.
**------------**