
"Oalaaah, jadi ini kartunya dilepas lalu dipindahkan ke sini?"
Pak Karto tampak geleng-geleng kepala saat Pak Haji Imron akhirnya mengajak Pak Karto ke kamarnya sendiri.
Pak Haji Imron memang kaget sekali begitu ke kamar Ridwan untuk membicarakan soal berkas yang diserahkan Asisten Pak Bagas ternyata di sana juga menemukan Pak Karto yang padahal sudah dipesankan sendiri kamarnya.
"Lha wong tidak mau tanya ya kapan pintere to Pak Kartoooo... Pak Karto."
Kata Pak Haji Imron sambil terkekeh.
"Mboten Pak Haji, tadi itu wong mau tanya ke Pak Haji yo kita takut ganggu barangkali pak Haji sedang istirahat."
Kata Pak Karto beralasan.
"Aku yo tidak pernah tidur sore hari Pak Karto, panjenengan kok tidak tahu lho kalau saya itu selalu lebih memilih melakukan banyak kegiatan saat hari sudah sore."
"Hehe nggih barangkali mau nyoba tidur sore sesekali Pak Haji."
Kata Pak Karto tertawa.
"Wis Pak Karto, saya mau kembali ke kamar untuk sholat maghrib, Pak Karto istirahat yang cukup supaya fit lagi, karena besok setelah Mas Ridwan sudah selesai tandatangan akan langsung pulang."
Ujar Pak Haji Imron,
Pak Karto pun mengangguk.
"Nggih Pak Haji.
Pak Haji Imron kemudian keluar dari kamar Pak Karto, dan Pak Haji Imron pun langsung menuju kamarnya sendiri yang bersebelahan dengan kamar Ridwan.
__ADS_1
Pak Karto sepeninggal Pak Haji tampak celingak-celinguk melihat sekeliling, ia tampaknya masih sedikit terintimidasi dengan kejadian di tempat parkir.
Pak Karto yang sebetulnya sudah menuruti saran Ridwan untuk mandi, sholat, dan ruqyah mandiri nyatanya sekarang masih takut karena jelas sekali apa yang ia alami itu adalah kejadian di luar nalar.
Hingga...
Ting.
Dari pintu lift yang tak jauh dari kamar Pak Karto, tampak pintu lift itu terbuka, seorang anak kecil keluar dari lift bersama Ibunya yang cantik molek luar biasa.
Pak Karto tampak iseng-iseng berhadiah menatap Ibu dan anak yang kini berjalan ke arahnya.
Ibu dan anak itu terus berjalan tanpa memperdulikan Pak Karto, seolah mereka tak melihat Pak Karto ada di tengah pintu kamarnya.
Bahkan saat Pak Karto menyapa, Ibu dan anak itupun sama sekali tak menggubris.
Ah benar Pak Karto sampai mengelus dada melihat betapa angkuhnya perempuan itu, jelas sangat berbeda dengan perempuan-perempuan di kampung yang bahkan di sapa dari jauh saja mau menjawab.
Lho... Kok? Pak Karto jelas langsung bertanya-tanya.
Pak Karto memandangi Ibu dan anak yang kini makin dekat pintu kamar Pak Haji Imron, membuat Pak Karto memanggil si Ibu lagi dengan panik karena jelas-jelas itu kamar sudah ada yang menempati.
"Nyonya... Nyonya... Itu kamarnya sudah ad..."
Haiiish... Pak Karto mendesis dan akhirnya merasa harus menyusul si Ibu dan anak tersebut karena masih saja mengabaikan Pak Karto.
"Ada yang menem..."
Pak Karto belum menyelesaikan kalimatnya dengan sempurna, manakala dilihatnya si Ibu dan anak itu masuk ke kamar Pak Haji Imron begitu saja.
__ADS_1
Ya...
Di depan kedua mata kepala Pak Karto, Ibu dan anak itu masuk ke kamar Pak Haji Imron menembus pintu kamar hotel.
Pak Karto pun jelas saja langsung heboh, ia berteriak sambil lari tunggang langgang ke kamar Ridwan, di mana Ridwan sedang mengaji setelah melaksanakan sholat Maghrib.
"Han... Hantu lagi Mas."
Pak Karto panik luar biasa, membuat Ridwan terpaksa menghentikan kegiatan mengajinya.
"Hantu apalagi pak Karto?"
Tanya Ridwan menutup al Qur'an kecil yang memang sengaja ia selalu siapkan setiap kali bepergian.
"Hantu perempuan dengan anaknya Mas, masuk kamar Pak Haji, mereka menembus pintu. Astaghfirullah, saya baru kali ini melihat yang seperti itu dengan kedua mata sendiri, biasanya cuma di film atau dengar cerita saja, aduh ini hotel bintang lima kok seram sekali to."
Pak Karto terlihat begitu pucat. Jelas sekali jika ini pengalaman pertamanya melihat hantu.
Ridwan tersenyum,
"Pak Karto... Pak Karto... Ada-ada saja, makanya jangan melamun Pak Karto, atau jangan terlalu memikirkan mereka, itu akan membuat energi Pak Karyo jadi seperti memanggil mereka."
Kata Ridwan yang lantas keluar dari kamar nya untuk melongok ke arah kamar Pak Haji Imron yang tampaknya santai saja.
Sepertinya itu hanya hantu yang kebetulan Pak Karto bisa melihat mereka karena tak sengaja berada pada satu frekuensi.
Ridwan akhirnya masuk ke dalam kamar lagi, ia meminta Pak Karto untuk minum lalu lebih baik merileksasi diri dengan baca ayat Al-Qur'an sambil menunggu waktu Isya.
Kadangkala, manusia yang kondisi fisiknya sedang terlalu capek juga bisa membuat mereka gampang kosong pikirannya, dan akhirnya mudah berada di frekuensi yang sama dengan para hantu.
__ADS_1
**--------------**
**------------**