Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
54. Keji


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


Ridwan mengucap salam pada mas Trisno, penjaga sekolah sekaligus pengurus kebun sekolah di SD Negri Waru Dua di mana Ridwan mulai mengajar.


Mas Trisno yang sedang membersihkan rumput-rumput liar di sekitar lahan parkir yang mulai kembali tumbuh di sana tampak menoleh dan langsung tersenyum cerah begitu melihat Pak Guru baru di sekolahnya.


Pak Guru yang muda, tampan dan kharismatik. Mas Trisno yang merasa tangannya kotor karena sedang membersihkan rumput akhirnya hanya membungkuk saja memberi salam pada Ridwan sambil tentu saja menjawab salam Ridwan juga.


"Monggo Mas Trisno."


Kata Ridwan.


Mas Trisno mengangguk.


"Monggo... Monggo pak Guru."


Kata Mas Trisno.


Ridwan lantas melanjutkan jalannya ke arah kantor Guru.


Suasana sekolah belum terlalu ramai karena memang hari masih cukup pagi. Hanya petugas upacara bendera yang terlihat sedang sibuk menyiapkan kegiatan upacara di lapangan sekolah.


Sebagai Sekolah favorit, SD Negeri waru dua memang sangat menekankan cinta tanah air, salah satunya adalah masih rutinnya dilaksanakan kegiatan upacara bendera setiap hari Senin.


Para petugas upacara yang memakai seragam putih-putih, terlihat membungkuk pada Ridwan yang melintas.


Seorang Guru perempuan tampak juga bersama mereka, ia sibuk membantu anak-anak memasang kabel.


Melihat itu, Ridwan akhirnya memutuskan mendekat. Posisi Ibu Guru yang membelakangi Ridwan membuat Ridwan harus melangkah melewatinya lebih dulu agar bisa berada di depannya karena takut mengagetkan jika tiba-tiba muncul di belakang.


"Boleh saya bantu Bu?"


Tanya Ridwan begitu sudah ada di depan Ibu Guru yang saat mendengar suara Ridwan tampak menengadahkan wajahnya.


Ridwan tersenyum, kala tahu Ibu Guru yang sibuk membantu anak-anak itu adalah Bu Guru Iis.


"Oh Pak Ridwan, nggih Pak, Monggo, baru saja saya mau minta anak-anak panggil mas Trisno."


Ujar Bu Guru Iis.


Ridwan tersenyum.


"Nggih Bu, biar saya saja."


Kata Ridwan berjongkok dan menggantikan posisi Bu Guru Iis.


"Tas nya, biar saya yang pegang."


Kata Bu Guru Iis pada Ridwan yang terlihat bingung akan meletakkan tas nya di mana karena kanan kiri mereka tidak ada meja.


Ridwan pun akhirnya memberikan tas nya pada Bu Guru Iis untuk dipegangi.


Melihat Pak Guru dan Bu Guru mereka saling bantu, anak-anak tampak senyum-senyum memperhatikan, Bu Guru Iis yang pertama menyadari tatapan anak-anak murid mereka sedikit jahil langsung pura-pura membuat jarinya dibentuk seperti akan menyentil mereka, hingga mereka tertawa kecil sambil kembali menyibukkan diri mengurus lainnya.


Tak selang berapa lama, kabel sudah bisa dipasang, Ridwan berdiri, ia lalu meminta salah satu anak untuk mencoba suara salon apakah sudah berfungsi atau tidak.


Anak yang mendapat tugas langsung berlari cepat mengambil mic, lalu...


"Tes satu, satu, satu..."


Kata anak itu.


"Satu dua tiga laaa, satu satu satu... kapan selesainya."


Celoteh temannya, membuat anak lain tertawa.

__ADS_1


Ya, masa anak-anak di sekolah, nyatanya adalah masa paling menyenangkan bukan?


Masa belajar, bermain, dan tak terlalu banyak yang harus dipikirkan.


"Terimakasih Pak Guru."


Kata Bu Guru Iis tersenyum seraya menyerahkan tas milik Ridwan kembali.


Ridwan tersenyum membalas, ia juga tak lupa mengangguk.


"Biasanya saya tidak kesulitan, entah kenapa hari ini sulit dipasang kabelnya."


Kata Bu Guru Iis.


"Anda luar biasa ya, padahal perempuan biasanya enggan mengurus hal semacam itu."


Timpal Ridwan.


Bu Guru Iis tertawa sekilas lalu,


"Mungkin karena saya kurang normal."


Kata Bu Guru Iis bercanda, membuat Ridwan jadi ikut tertawa.


**--------------**


Semetara itu, di rumah Pak Haji Syamsul terlihat masih begitu tegang.


Pak Haji Syamsul meminta Mbak Faizah memanggil Mbak Wening yang baru datang.


Anisa gusar di tempatnya, entah apa yang akan Abahnya lakukan saat ini. Anisa sungguh-sungguh tak tahu.


Mbak Faizah muncul dari ruang belakang dengan Mbak Wening yang mengikuti langkahnya.


Mbak Wening yang sejatinya tak tahu ada masalah apa melihat semua orang di dalam ruangan itu terlihat tegang jadi ikut tidak tenang.


Kata Pak Haji Syamsul pada Mbak Wening,


Mbak Wening menatap Anisa yang tak berani mengangkat wajahnya saat ini, gadis itu menangis tersedu-sedu dalam keadaan yang benar-benar menyedihkan.


Mbak Wening lantas duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut.


Mbak Faizah sendiri juga kembali duduk di tempatnya semula yang dekat dengan Abahnya.


"Wening."


Panggil Pak Haji Syamsul,


"Eng... Enggih Pak Haji."


Mbak Wening terlihat sangat gugup, sejak ia bekerja di rumah Pak Haji Syamsul, ia memang bisa dikatakan tidak pernah bicara secara langsung dengan Pak Haji.


Pak Haji orangnya sangat tertutup, dan ia juga bukan tipe orang yang ramah.


Jangankan Mbak Wening yang bisa dikatakan adalah orang baru, Mbok Rat saja yang merawat anak-anak Pak Haji Syamsul tidak pernah merasa bisa dekat dengan Tuannya itu.


Sejak dulu, para pekerja di rumah maupun ditoko emas, semuanya lebih bisa dekat dengan bu Hajinya.


Bu Haji orangnya selain luwes dengan siapa saja, dia juga memang tidak pilah pilih jika ramah pada orang.


"Sudah berapa lama kamu kerja di sini? Sudah ada satu tahun? Atau belum?"


Tanya Pak Haji.


Mbak Wening menggeleng.

__ADS_1


"Dereng Pak Haji, belum ada satu tahun."


Jawab Mbak Wening.


Pak Haji mengamati Mbak Wening dengan tatapannya yang masih tajam meskipun usianya tak lagi muda.


Ia tampak mencoba menelisik, apakah Mbak Wening memiliki kesengajaan masuk ke dalam rumahnya karena tahu adiknya mendekati Anisa.


"Adikmu, siapa namanya?"


Tanya Pak Haji.


Mbak Wening sejenak terkesiap mendengar Pak Haji Syamsul justeru kemudian menanyakan perihal Ridwan.


"Adik saya? Ridwan Pak Haji."


Kata Mbak Wening kemudian, tetap menyebut nama Ridwan karena ditanya.


"Ridwan, lulusan apa dia? Benar dia lulusan pesantren?"


Tanya Pak Haji.


Mbak Wening mengangguk,


"Ridwan masuk pesantren sejak lulus SMP Pak Haji, sekarang dia jadi ustadznya Nona Suci."


Kata Mbak Wening,


Mbak Faizah mendengus, tampaknya Mbak Faizah begitu menyesal karena mengundang Ridwan masuk ke dalam rumahnya.


"Laki-laki hanya lulusan pesantren dan hanya mengajar ngaji pada anak-anak, apa hanya itu pekerjaannya?"


Pak Haji Syamsul begitu merendahkan.


Mbak Wening yang mendengar hal itu jelas saja telinga dan hatinya langsung panas, Anisa bahkan menatap Abahnya, ia jelas ingin protes,


"Abah..."


Anisa suaranya tergetar,


"Diam! kamu diam saja!"


Marah Pak Haji Syamsul pada Anisa.


Pak Haji Syamsul kemudian meraih surat Ridwan jaman dulu yang tergeletak di atas meja, ia lalu melemparkannya ke depan Mbak Wening.


"Adikmu saat akan masuk Pesantren mendekati Anisa, bisa-bisanya hanya mau jadi lulusan pesantren memberikan harapan pada Anisa?"


Pak Haji Syamsul membuka suaranya lagi,


Mbak Wening yang jelas tak tahu menahu soal itu jelas ia tampak terkejut, ia menatap surat yang ada di depannya,


"Jangan-jangan kamu masuk ke rumah ini juga atas permintaan Ridwan, begitu juga saat Ibu ketua pengajian kemarin datang menceritakan soal Ridwan juga pasti karena akal-akalan kalian juga bukan? Supaya Ridwan bisa masuk ke dalam keluarga kami, bisa mendekati Anisa dan kemudian menikahi Anisa?"


Mbak Faizah menambahkan kata-kata Abahnya,


Mbak Wening saking panasnya mendengar kalimat mbak Faizah jadi berdiri,


"Astaghfirullah... apa maksud dengan semua tuduhan keji ini?! Kami memang orang miskin, tapi kami jelas tidak serendah itu!"


Mbak Wening suaranya meninggi,


Anisa yang tak tahan akhirnya beranjak dari sana sambil menangis menuju kamarnya.


Lalu...

__ADS_1


**----------**


__ADS_2