
Hari-hari tentu saja berjalan begitu cepat untuk Ridwan dan Iis yang sehari-hari selalu disibukkan dengan berbagai macam kegiatan.
Apalagi untuk Ridwan, yang hampir dalam satu hari jadwal kegiatannya sangat padat, tentu saja dua puluh empat jam bahkan terlalu singkat untuk perputaran satu hari.
Saat Ridwan bangun sangat pagi di jam dua dini hari, lalu setelah itu ia akan terus sibuk hingga jam delapan bahkan kadang jam sembilan malam, pastinya jam istirahat pun benar-benar sedikit saja.
Tapi...
Hal yang berbeda dirasakan oleh Anisa.
Gadis itu, yang tak pernah memiliki kesibukan, yang semula ada tugas menjadi kasir di toko emas Abahnya kini tidak lagi karena memang keputusan Abah yang tidak memperbolehkan Anisa keluar rumah sebelum pernikahannya, membuat Anisa benar-benar jadi macam burung yang hidup dalam sangkar emas saja.
Tak ada satupun yang bisa ia lakukan selain menunggu pergantian hari, berharap semuanya cepat berlalu, berharap cepat menikah lalu pergi yang jauh dari masa lalu.
Dan...
Hingga akhirnya, saat yang ditunggu Anisa pun tiba.
Hari pernikahannya akan diadakan hari ini.
Jam dua dini hari, Anisa tak biasanya telah bangun dari tidurnya, ia mandi dengan air hangat dari shower.
Setelah mandi, Anisa melakukan sholat malam, tentu saja, sesuatu yang jarang ia lakukan.
Setelah sholat, barulah kemudian ia mulai mempersiapkan diri untuk nantinya dirias selepas subuh.
Anisa melangkah mendekati kaca jendela kamarnya di lantai atas, mengintip dari balik tirai kamarnya.
Menatap langit dini hari yang terlihat bening, pendar terang lampu di halaman rumah dan masih tampak cukup ramai orang yang sedang mempersiapkan tempat untuk nantinya dilaksanakan akad nikah untuk Anisa dan Wisnu.
Anisa menghela nafas,
__ADS_1
Jam sembilan pagi nanti, akad nikah akan digelar, yang itu berarti, Anisa akan segera menjadi isteri seorang laki-laki bernama Wisnu.
Dan...
Jika telah demikian, maka haram lah bagi Anisa memiliki rasa apapun untuk laki-laki manapun lagi.
Anisa tangannya terlihat meremas tepi tirai kaca jendela, seolah mewakili perasaannya saat ini yang begitu campur aduk.
Ah...
Andai...
Andai Umi masih hidup, andai Umi saat ini masih berada di sisinya, mungkin Anisa bisa merasakan beban perasaannya saat ini tak akan terlalu berat.
Anisa bisa sedikit membaginya dengan Umi, karena Umi pasti akan mendengarkan apapun keluh kesah Anisa.
Umi juga pasti akan menguatkan Anisa untuk bersiap menjalani bahtera rumah tangga yang sejujurnya tak sepenuhnya ia impikan karena bersama laki-laki yang belum bisa ia cintai.
Ya...
Anisa ingin bebas, ingin pergi yang jauh, tapi tanpa harus bermasalah, dan menerima Wisnu adalah satu-satunya alasan yang paling memungkinkan untuk Anisa lakukan.
Anisa lantas beralih menyapukan pandangannya ke sepenjuru kamarnya yang kini telah dihias selayaknya kamar pengantin pada umumnya.
Kamar dengan nuansa putih itu, terlihat begitu cantik dan indah dengan hiasan banyak bunga hidup.
Aroma bunga hidup yang begitu wangi, juga memenuhi sepenjuru kamar Anisa.
Anisa menghela nafas lagi, tatkala tatapan matanya kini ke arah tempat tidur, yang dibalut kain sprei putih, dihias kelambu putih, berhias ronce bunga mawar dan melati.
"Selamat tinggal hidup lama Anisa Larasati."
__ADS_1
Lirih Anisa pada dirinya sendiri.
**------------**
Jam tiga dini hari, saat di mana Ridwan kini sedang membaca Alquran di kamarnya.
Suara Ridwan yang merdu, dengan nada bacaan seperti iman-imam masjidil haram, membuat bacaan Ridwan benar-benar terdengar begitu mendamaikan hati siapapun yang mendengarnya.
Ridwan terus membaca Alquran hingga kemudian terdengar suara bedug subuh di masjid.
Setelah mendengar adzan shubuh dikumandangkan, Ridwan pun akan cepat bersiap ke masjid.
Ya...
Meskipun pagi ini terasa sangat dingin, tapi Ridwan tentu saja harus tetap memaksakan diri berangkat jamaah ke masjid.
Bukan...
Bukan karena nilai pahala jamaah di masjid yang sampai dua puluh tujuh sedangkan jika di rumah sholat sendirian hanya dapat satu.
Tapi...
Tapi Ridwan melakukannya karena itu adalah kewajibannya sebagai laki-laki muslim.
Sudah menjadi salah satu kewajiban seorang laki-laki muslim pastinya, untuk selalu berjamaah agar bisa menghidupkan masjid yang ada di sekitar rumah.
Karena, sungguh menyedihkan pastinya, bilamana masjid di jaman sekarang hanya bentuknya saja yang indah, megah dan mewah, namun kenyataannya, ketika datang waktu sholat, jamaah yang hadir sungguh hanya berapa gelintir orang saja.
Ini tentu bukan hanya menyedihkan jika dilihat oleh sesama muslim, namun pastinya yang juga memalukan bilamana dilihat oleh orang-orang dari bukan kalangan muslim.
**----------**
__ADS_1