
Adzan Asar berkumandang saat Iis akhirnya pulang ke rumahnya.
Ibu terlihat sedang mengobrol di depan rumah dengan si mbah yang biasa mengambil rongsok di rumah Iis.
Si Mbah yang sehari-hari memang mencari barang-barang bekas itu memang kerap keliling di sekitar wilayah Iis tinggal, karena iba, akhirnya Ibunya Iis sengaja mengumpulkan barang bekas sendiri.
Terutama limbah plastik yang berasal dari wadah air gelasan yang memang lumayan cepat banyak karena bekas minum anak-anak les.
"Assalamualaikum..."
Iis mengucap salam, lalu menyalami Ibu dan si mbah pemulung.
Iis yang tampak menenteng kresek berisi dua bungkus keripik oleh-oleh dari Ibunya Ridwan akhirnya membaginya dengan si mbah pemulung.
"Keripik tempe Mbah, enak, bisa untuk lauk."
Kata Iis,
Si Mbah pemulung tentu saja menyambut pemberian Iis dengan senang hati.
"Jamu... Jamuuuu..."
"Jamune Bu'eee..."
Seorang mbak penjual jamu keliling menggunakan sepeda tampak lewat depan rumah,
"Weh itu jamu Mbak Minten, Bu."
Kata Iis, yang kemudian memanggil mbak tukang jamu,
"Tumbas Mbak Minteeen..."
"Oo nggih Bu Guruuu, asiap to yo..."
Sahut Mbak Minten yang wajahnya ayu khas perempuan jawa dengan senyuman yang selalu terkembang.
Mbak Minten yang berhenti dekat pintu pagar bambu halaman rumah Iis turun dari sepeda ontelnya, senyumnya semakin terkembang dari bibirnya yang merah merekah.
"Kunir asem Mbak..."
Kata Iis seraya mendekat,
"Pake pahitan mboten?"
Tanya Mbak Minten.
"Nggih Mbak, boleh dikasih sedikit."
Jawab Iis.
Mbak Minten mengangguk, lalu tangannya langsung tampak cekatan meraih gelas kecil dari wadah,
Tampak dilumurinya dengan tetesan jeruk nipis sebentar, baru setelah itu meracik pesanan jamu Iis.
"Ibu sama si mbah mau jamu sekalian to?"
Tanya Iis ke arah Ibu dan si mbah pemulung yang tampak sedang pamit pada Ibu.
"Ibu minta temulawak saja Is, dibungkus."
Jawab Ibu, Iis mengangguk, lalu...
"Si mbah sekalian mbah, jamu."
Kata Iis,
Si Mbah pemulung tampak menggeleng.
__ADS_1
"Tidak usah Bu Guru, ini sudah banyak merepotkan."
Kata si Mbah,
"Oalah Mbah, tidak apa-apa, ini jamu biar sehat, nopo dibungkus mawon?"
Tanya Iis,
"Nggih Mbah, betul ini kata Bu Guru Iis, supaya sehat, minum jamu."
Mbak Minten jelas saja setuju dengan Iis,
Mbak Minten memberikan gelas jamu kunir asem pesanan Iis, tampak Iis menerimanya, lalu berjalan ke arah batu besar dekat pagar bambu rumahnya untuk duduk baru kemudian meminumnya.
Mbah pemulung yang sebetulnya malu-malu tapi ingin juga minum jamu, akhirnya menghampiri Mbak Minten juga, ia lantas minta dibuatkan jamu untuk badan pegal-pegal.
"Jamunya masih hangat, Mbak Minten baru berangkat nopo Mbak?"
Tanya Iis yang telah selesai meminum jamunya.
"Enggih Bu Guru, yang keliling pagi tadi kan sudah habis, ini bikin lagi, keliling lagi."
Tutur Mbak Minten.
"Ealah, berapa kali keliling sehari?"
Tanya Mbah pemulung.
"Cuma dua kali Mbah, pagi sama sore. Kalau pagi, saya kelilingan dari jam tujuh sampai jam sembilan, habis itu rewang si mbok jualan lauk di rumah, baru habis dzuhur saya olah-olah jamu untuk kelilingan sore, kadang juga tidak olah-olah kalau jualan lagi sepi. Yo namanya orang jualan itu risikonya kadang sepi, tapi juga Alhamdulillah yo tidak jarang juga rame sekali."
Kata Mbak Minten.
"Rejeki berapa saja disyukuri wae."
Kata si Mbah pemulung.
"Enggih Mbah, alhmdulillah, saya sih berapapun selalu disyukuri."
"Monggo Mbah,"
Mbak Minten memberikan jamu pesanan Mbah pemulung yang telah selesai diseduhkannya.
Iis lantas meminta dibungkuskan yang untuk Ibunya, baru kemudian ia membayar semuanya.
**-------------**
Di halaman rumah Ridwan, tampak Ajeng terus tertawa riang memakai sepeda barunya memutari halaman rumah yang memang masih lumayan luas.
Mbak Wening tampak tertawa bahagia melihat anaknya begitu senang mendapatkan hadiah sepeda.
Ya, sudah cukup lama memang Ajeng sebetulnya minta beli sepeda untuk berangkat sekolah dan les sendiri.
Seperti beberapa temannya yang lain, yang sudah bisa berangkat sekolah sendiri tanpa harus diantarkan orangtuanya.
Memang, ada juga yang berangkat dan pulang sekolah tidak perlu diantar dan hanya jalan kaki saja.
Tapi namanya anak-anak, tetap ada keinginan untuk bisa beli yang dimiliki teman, apalagi Ajeng termasuk selalu juara kelas, tentu meminta hadiah sesekali pada Ibunya adalah lumrah.
Dan kini, Mbak Wening tampak sampai berkacak saking bahagianya akhirnya bisa membelikan Ajeng sepeda sebagaimana yang diinginkan.
Sebagai orangtua tunggal, Mbak Wening tentu saja merasa ini adalah sesuatu yang sangat membahagiakan untuk dirinya karena merasa akhirnya ia mampu memberikan sesuatu untuk Ajeng meskipun anak itu tak memiliki seorang Ayah.
Tentu, ini adalah pencapaian tersendiri untuk Mbak Wening yang notabene bukan lulusan sekolah tinggi dan hanya bisa cari uang seadanya yang ia bisa kerjakan saja.
"Wiiis Ajeng, ayuk mandi, sebentar lagi harus berangkat les lho."
Kata Mbak Wening,
__ADS_1
"Enggih Buuu..."
Sahut Ajeng yang lantas mengayuh sepedanya mendekati teras, lalu memberhentikannya di sana.
"Ajeng berangkat les pake sepeda boleh Bu?"
Tanya Ajeng sambil menghampiri Mbak Wening,
"Boleh, yang penting hati-hati, pulangnya langsung pulang ke rumah, jangan main."
Kata Mbak Wening wanti-wanti,
"Asiiik..."
Ajeng bersorak riang, ia lantas melompat-lompat masuk ke dalam rumah,
"Embaah, sepeda Ajeng baru, Ajeng akan tambah rajin ngajinya ya Mbah."
Ujar Ajeng begitu berpapasan dengan embahnya di ruang dalam,
"Oh senang sekali Mbah mendengarnya, Alhamdulillah kalau begitu, kita memang harus bertambah rajin ibadahnya saat diberikan rezki lebih oleh Allah."
Kata Mbah.
Ajeng mengangguk,
"Iya Mbah, okey."
Ajeng mengacungkan dua ibu jarinya.
"Sudah sana mandi, sholat lalu berangkat les."
Ujar Mbah pula, Ajeng mengangguk cepat, lalu berlari ke belakang untuk segera mandi.
Masih terdengar Ajeng menyanyi di belakang, sambil diiringi suara ribut ayam Mbak Wening yang pasti sambil diganggu Ajeng.
Biasanya sebelum mandi, Ajeng memang selalu saja punya waktu untuk mengganggu ayam-ayam Ibunya, dengan mengejarnya ke sana ke mari.
"Kring kring ada sepeda, sepedaku roda dua, kudapat dari Ibu, karena rajin membantu."
Begitu Ajeng bernyanyi sambil berlarian meledek ayam lebih dulu sebelum mandi.
Sementara itu, Ridwan tampak baru selesai sholat asar, ia keluar dari kamar dengan penampilan yang juga telah rapi.
Memakai celana kain berwarna hitam dan juga kemeja Koko berwarna maroon serta peci hitam.
"Ridwan berangkat ngajar di tempat Pak Haji Imron dulu, Bu."
Kata Ridwan seraya menghampiri Ibunya yang baru mengeluarkan kacang panjang dari kulkas baru.
"Ati-ati Wan."
Kata Ibu begitu Ridwan menyalami dan mencium punggung tangannya.
"Nggih Bu."
Ridwan mengangguk, lalu berjalan keluar rumah.
"Sudah tahu belum dia Anisa mau menikah?"
Lirih Mbak Wening sambil memisah-misahkan bungkusan keripik sesuai pesanan.
Hasil membungkus dibantu Iis.
"Wis biar saja, kalau tahu juga mau apa, wis jadi keputusan Ridwan untuk tidak lagi berhubungan dengan Anisa."
Sahut Ibu.
__ADS_1
Mbak Wening mantuk-mantuk saja.
**--------------**