Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
69. Hari-hari Keberuntungan


__ADS_3

Anisa keluar dari kamar, ia tiba-tiba haus setelah menelfon Iis dan harus ada acara menangis lagi.


Rasanya sungguh sesak dadanya mengingat siapa yang harus ia hadapi adalah orangtua dan saudaranya.


Anisa berjalan menuju dapur rumah Wisnu yang kini untuk sementara waktu akan ia tempati.


Tentu saja, Anisa tak berencana tinggal selamanya di sana, ia sedang berpikir keras, ke mana nantinya ia harus pergi dan apa yang akan ia lakukan untuk bertahan hidup begitu ia melepaskan semua fasilitas orang tuanya.


Anisa menghela nafas, kakinya diseretnya menuju kulkas dan mengambil air dari dalam botol untuk kemudian ia minum.


"Mbak Nisa..."


Tiba-tiba terdengar suara asisten rumah tangga rumah Wisnu muncul dari pintu dapur, Anisa menoleh karena sedikit terkejut,


"Ah iya Mbok."


Kata Anisa.


"Mau dibuatkan makanan atau cemilan Mbak?"


Tanya si mbok lagi.


Anisa menggeleng pelan,


"Mboten usah mbok, saya cuma haus,"


Ujar Anisa.


"Oh nggih sampun."


Sahut si mbok kemudian.


Anisa meletakkan gelas air minumnya di wastafel, lalu ia kembali keluar dari dapur untuk ke kamar lagi.


Jam di dinding baru berkisar jam sembilan malam, tapi rasanya mata Anisa sudah sangat mengantuk.


Anisa masuk ke kamar, lalu menutup pintu dan menguncinya.


Dimatikannya lampu kamarnya, hingga kamar itu tampak gelap. Hanya pendar lampu taman depan rumah yang juga ada di depan kamar saja yang cahayanya akhirnya masuk ke dalam dan menjadikan kamar samar-samar.

__ADS_1


Anisa berbaring di atas tempat tidur, ia ingat Umi nya.


Andai Umi masih ada.


Andai Umi masih hidup.


Mungkin Anisa tak akan mengalami masalah seruwet ini.


Paling tidak, Umi pasti akan mau mendengarkan apa yang Anisa katakan.


Paling tidak Umi juga akan lebih menggunakan hatinya, daripada bersikap arogan sebagaimana Abah dan Mbak Faizah.


Anisa merasa dadanya begitu sesak, dan air matanya pun kembali luruh.


Sungguh ini begitu berat bagi Anisa sebetulnya, cintanya yang baru akan kembali bersemi, cinta yang membuatnya merasa ada harapan bisa hidup lebih baik dan bisa bahagia, ternyata sekarang langsung kandas tak tersisa.


Anisa bahkan tak bisa membayangkan betapa Mbak Wening pasti telah membencinya begitu rupa, dan kebencian itu pasti juga telah dirasakan Ibunya dan juga Ridwan.


Untuk Anisa, membayangkan saja ia sudah begitu takut, apalagi jika benar-benar tahu yang sebenarnya.


Ya Allah, kenapa Abah dan Mbak Faizah begitu tenggelam dalam kesombongan?


Apakah Abah dan mbak Faizah tak juga menyadari jika di atas langit selalu ada langit lain, yang bahkan terkadang langit tertinggi justeru tidak sombong dan biasa saja?


Anisa menyeka air matanya.


Kini mata dan hatinya telah sama lelahnya, Anisa ingin sekali mengistirahatkan jiwanya jika saja bisa.


Tapi...


Bagaimana caranya?


Bagaimana caranya?


**----------**


Pagi harinya Ridwan berusaha tetap melakukan aktifitas seperti biasa, ia bangun malam, tadarus hingga subuh, lalu jamaah subuh, setelah itu menyapu halaman rumah dan pekarangan, baru ia sarapan dan pergi mengajar.


Sore pun ia begitu, mengajar anak-anak mengaji, lalu jamaah maghrib hingga Isya baru kemudian istirahat.

__ADS_1


Ridwan berusaha mengabaikan luka hatinya yang begitu dalam atas peristiwa Anisa, dan ia tetap berusaha fokus dengan semua yang menjadi tanggungjawabnya.


Ridwan juga tetap melaksanakan amanah warga untuk menegur pemilik kontrakan dan juga orang yang mengontrak membawa laki-laki yang bukan mahrom untuk tinggal bersama.


Bersyukurnya, begitu Ridwan yang bicara, pemilik kontrakan akhirnya menerima saran Ridwan dan begitu juga yang mengontrak.


Sungguh benar memang bahwa hal baik yang diajarkan agama sudah semestinya juga disampaikan dengan cara yang baik.


Ridwan sangat menyadari jika tidak semua orang suka diberi nasehat, apalagi teguran atas apa yang menyenangkan baginya.


"Saya mewakili warga tidak merasa keberatan dengan panjenengan usaha kontrakan, malah kami mendoakan kontrakan panjenengan selalu laris, terisi penuh, karena bagaimanapun saat banyak kontrakan dan kontrakan itu banyak yang mengontrak, pastinya warung dan kios yang buka di sekitarnya akan ikut ramai."


"Tapi, untuk biar sama-sama menjaga keberkahan itu tetap berjalan, kita semua harus sama bersinergi dengan menjaga apa yang tidak diperbolehkan agar jangan sampai dilakukan, karena takutnya nanti Allah harus memberikan teguran dengan bencana, tentu kita semua tidak menginginkannya."


"Namun, jika memang panjenengan, baik yang memiliki kontrakan maupun yang pihak pengontrak ingin tetap menjalani hal yang demikian, mungkin alangkah lebih baik jika kontrakannya bukan yang di sini. Atau mungkin bisa disahkan dulu saja secara agama, supaya nantinya bisa tinggal dan berbaur dengan kami warga di sini menjadi saudara."


Kata Ridwan saat mewakili para warga menemui pemilik kontrakan yang dianggap meresahkan.


Ridwan yang kemudian bicara banyak dari hati ke hati, akhirnya berhasil membuat laki-laki yang ikut tinggal di kamar pasangannya keluar dan memutuskan pulang dengan sendirinya.


Tidak ada pertengkaran dan perdebatan yang menguras emosi.


Dan...


Gara-gara peristiwa itu, Ridwan tiba-tiba digadang-gadang jadi ketua RT untuk wilayah Ridwan tinggal.


"Kalau Nak Ridwan bersedia, saya dengan senang hati akan mundur jadi ketua RT."


Kata ketua RT, membuat semua jadi heboh.


Ya...


Ridwan melewati hari-hari sejak direndahkan Pak Haji Syamsul dengan elegan.


Ia tetap berprestasi dan makin dipuji oleh banyak orang. Pelan tapi pasti juga ia makin banyak tawaran ceramah kecil di sana sini, meskipun hanya untuk acara sederhana seperti lamaran dan juga khitan atau ulang tahun.


Banyak pintu rezeki kemudian terbuka satu persatu, Ridwan sepertinya mulai akan segera menikmati hari-hari keberuntungannya.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2