Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
143. Pinangan Pertama


__ADS_3

Ibunya Iis tampak membawa nampan dengan dua cangkir teh hangat, Iis cepat menyambut Ibu dan membantunya mengambil alih nampan dengan dua cangkir wedang teh untuk menyuguh tamu.


"Hujan masih turun deras, Pak Ridwan dibikinkan mie rebus ya, enak ini kalau hujan begini makan mie rebus, sama Ibu buatkan gorengan, ya..."


Ibunya Iis semangat.


"Aduh Bu, tidak usah repot-repot Bu, saya hanya sebentar."


Kata Ridwan.


"Lho jangan begitu, tidak baik menolak tawaran orangtua, wis ngobrol saja, sambil nunggu hujan reda."


Ibunya Iis lantas beranjak cepat masuk ke ruang dalam lagi,


"Wah Bu, saya jadi tidak enak."


Kata Ridwan pada Iis yang meletakkan cangkir wedang teh milik Ridwan di depan laki-laki itu.


"Tidak apa Pak, saya juga beberapa kali makan di tempat panjenengan, anggap saja gantian."


Ujar Iis tertawa.


Iis memang gadis yang mudah tersenyum dan juga tertawa. Ia ceria dan jarang sekali terlihat murung. Bahkan selama Ridwan kenal, belum pernah sama sekali ia melihat Iis murung kecuali saat pulang dari rumah Wisnu yang mereka bertemu Anisa di sana.


Ridwan yang melihat Iis tertawa akhirnya hanya tersenyum,


"Hanya mie rebus dan gorengan, suguhan ala warkop saja Pak."


Kata Iis lagi, membuat Ridwan jadi tertawa kecil, dan secara tidak langsung, percakapan ringan itu akhirnya membuat suasana di antara mereka menjadi sangat cair.

__ADS_1


"Ah begini Bu Guru Iis,"


Kata Ridwan akhirnya, setelah tawanya reda dan kemudian menyeruput teh hangat buatan Ibunya Iis.


Aroma melati dari kepulan asap wedang teh tercium khas.


"Panggil Iis saja Pak Ridwan, kecuali kalau di sekolahan, di rumah kita itu teman."


Kata Iis.


Ridwan menatap Iis sekilas, namun begitu hatinya tiba-tiba tergetar, Ridwan segera menunduk dan memilih menatap teh di depannya.


Astaghfirullah...


Ridwan beristighfar.


"Kalau Pak Ridwan panggil Bu Guru lagi, saya masuk saja."


Kata Iis lagi menahan tawa.


Kejahilan Iis tiba-tiba saja muncul ingin mengerjai Ridwan yang tampak mudah sekali gugup dan salah tingkah.


"Bu... Ah, maaf, aduh..."


Ridwan benar-benar gelagapan.


Iis mengulum senyum, tampak ia berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tertawa.


"Iis... Panggil Iis."

__ADS_1


Kata Iis.


Ridwan yang gugup setengah mati akhirnya mengalah, karena khawatir Iis nanti akan masuk ke dalam dan tak mau menemuinya, sedangkan ia belum menyampaikan tujuannya datang di mana Iis akan dimintai tolong masuk ke dalam susunan kepengurusan yayasan yang baru.


Selain Yayasan sungguh membutuhkan sekretaris, sosok seperti Iis tentu tak akan terlalu banyak di dunia ini.


Ridwan tidak ingin kehilangan kesempatan bekerja bersama Iis, untuk memajukan yayasan yang didirikan Pak Suhadi untuk umat dan diamanahkan pada Ridwan.


Ridwan menarik nafas dalam-dalam, berusaha menguatkan diri, baru kemudian,


"Baiklah Iis..."


Ridwan akhirnya menurut memanggil Iis hanya dengan nama saja.


Iis tampak tersenyum, meski sebetulnya ia ingin tertawa karena berhasil mengerjai Ridwan.


"Is, ini terkait soal Yayasan yang didirikan Pak Suhadi dan akan menjadi tanggungjawab saya mengurus. Yayasan saat ini kehilangan orang yang mengisi tempat sebagai sekretaris. Dari pihak pembina dan pengawas yayasan meminta saya memilih seseorang yang bisa mengisi posisi tersebut, dan saya pikir Iis adalah yang bisa melakukan tanggungjawab itu dengan baik."


Kata Ridwan.


"Sa... Saya?"


Iis menunjuk dirinya sendiri, tak menyangka jika Ridwan datang untuk memintanya masuk yayasan yang akan ia kelola.


"Iya Is, mohon saya dibantu mengurus dan memajukan yayasan ini. Saya rasa, Iis adalah pilihan yang terbaik."


Kata Ridwan.


**----------**

__ADS_1


__ADS_2