Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
127. Sudah Legawa


__ADS_3

"Pantesan dari tadi banyak mobil dari tempat rias pengantinnya Bu Hajjah Nurjanah ke rumah Pak Haji Syamsul,"


Kata Ibunya Iis begitu mendengar kabar bahwa besok malam ada acara lamaran Anisa dan Iis serta Ibunya diundang.


"Iis juga baru tahu hari ini Bu, karena tadi Anisa telfon mendadak."


Kata Iis.


"Oalah,"


Ibu tampak mencuci tangannya di keran cuci piring di mana Iis baru saja selesai mencuci semua perkakas dapur yang kotor.


Ibunya Iis memang suka juga memasak, tapi sayangnya, tiap kali memasak, semua peralatan dapur yang dipakai rasanya banyak sekali dan dapur seketika macam kapal pecah.


"Iis mau mandi trus sholat asar, barangkali ada anak-anak les yang berangkat sebelum Iis selesai sholat nggih Bu,"


"Iyo, itu biasanya anaknya Pak RT yang rajin sekali datang paling awal,"


Kata ibu, Iis tertawa.


"Enggih, itu si Jamal, dia rajin sekali memang."


Kata Iis yang lantas meraih handuk dari tempat jemur handuk di dekat pintu belakang rumah.


Halaman belakang rumah Iis hanyalah tanah seluas 2 x 5 meter persegi saja, jadi hanya ada jemuran dan beberapa pot bunga serta kursi panjang dari bambu saja di sana yang biasanya digunakan Ibu untuk memetik sayur atau kadang juga malah tidur siang.


Iis lantas masuk kamar mandi, sedangkan Ibu memilih berjalan ke depan rumah untuk menunggu di sana, barangkali nanti ada banyak anak-anak yang les di tempat Iis datang.


Satu kebanggaan tersendiri memang memiliki anak seperti Iis yang sekolah ada hasilnya.


Bukan hanya dia punya gelar akademik, namun ia juga ilmunya bisa bermanfaat.


Ya bermanfaat, selain untuk dirinya sendiri dengan akhirnya bisa bekerja, namun juga sekaligus bisa untuk mengajari anak-anak agar pinter.


Cukup banyak orangtua yang anaknya les di tempat Iis menyampaikan perkembangan yang lumayan besar pada anak-anak mereka.


Kalau toh tidak semua masuk rengking di kelas, tapi kebanyakan dari mereka yang semula sama sekali tidak paham jadi paham, dan yang paling membahagiakan adalah, yang tadinya tidak suka belajar jadi suka.

__ADS_1


Iis sebetulnya adalah sarjana sejarah, ia pun bekerja di sekolah dasar negeri waru dua juga menjadi guru sejarah, namun di tempat les yang dia buka sendiri di rumahnya, Iis juga mengajarkan banyak pelajaran lain.


Dari matematika, IPA bahkan juga bahasa jawa di mana banyak orangtua anak-anak jaman sekarang tidak bisa menjawab jika ditanya soal-soal pelajaran bahasa jawa, apalagi menulis hanacaraka.


Untuk bisa mengajarkan semua mata pelajaran itu dengan baik, Iis pun sambil belajar lagi, memperdalam lagi yang dulu juga ia telah belajar.


Kemampuan Iis membuat komunikasinya dengan anak didik terasa menyenangkan, membuat anak-anak didik Iis memang akhirnya jadi lebih mudah paham jika diterangkan oleh Iis.


Itu sebabnya, tidak heran jika dalam waktu singkat, sejak Iis membuka tempat les dan papan les dipasang di depan rumah, Iis sudah mendapat banyak murid.


Yang dari penghasilan menerima anak-anak les itu, Iis bisa membantu Ibunya mengisi token listrik, beli gas untuk masak, sampai beli beras dan bumbu-bumbu dapur.


sedangkan gajian dari sekolah yang belum seberapa jumlahnya karena Iis belum diangkat pegawai negeri, Iis akan tabung sebagian, dan sebagian yang lain Iis pakai sebagai pegangan sehari-hari.


Tapi...


Mungkin memang ini kelebihan orang yang bekerja menjadi Guru, tak mendapat gaji banyak tapi rasanya cukup saja dan berkah.


Ibunya Iis duduk di kursi ruang tamu, menunggu anak-anak les datang sambil lihat video di hp, pengajian dari almarhum Syeh Ali Jaber.


**---------------**


Ridwan mengucap salam di depan tempat mengajar di mana pak Haji Imron kebetulan tengah berada di sana berbincang dengan seorang laki-laki yang Ridwan merasa tak begitu asing tapi entah pernah lihat di mana.


"Waalaikumsalam..."


Jawab pak Haji Imron.


Ridwan lantas menjabat tangan Pak Haji Imron, dan sebagai orang yang lebih muda, tampak Ridwan juga mencium punggung tangan beliau sebagai bentuk sikap menghormati orang lebih tua yang memang diajarkan Nabi.


Sejatinya, bukan hanya menjabat tangan dan berbicara dengan suara lemah lembut, bahkan di kala kita berjalan pun, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam mengajarkan untuk jangan mendahului, jika memang dalam posisi terburu-buru, maka hendaknya yang lebih muda mengucap permisi untuk berjalan mendahului.


"Saya pamit sekarang Pak Haji,"


Orang yang tadi bersama pak Haji Imron terdengar pamit.


Ridwan bahkan tak sempat mengajaknya bersalaman karena begitu pamit, laki-laki itu seperti tergesa-gesa menuju motornya dan kemudian pergi.

__ADS_1


Sungguh sikap yang aneh, Ridwan sampai heran dibuatnya.


Pak Haji Imron tampak menggelengkan kepalanya melihat kelakuan laki-laki tadi, lalu berujar pada Ridwan,


"Tidak usah diambil hati, kadang ada manusia yang suka ikut-ikutan majikannya, padahal ia tentu saja tak memiliki masalah apapun."


Ujar pak Haji Imron, yang kemudian terlihat tangan kirinya memegang kertas undangan.


Ridwan yang belum mengerti apa maksud dari perkataan Pak Haji Imron dan juga karena ia belum bisa mengingat sosok laki-laki aneh tadi, akhirnya terpaksa bertanya,


"Nuwun Sewu Pak Haji, memangnya tadi itu sinten nggih Pak?"


Mendengar pertanyaan Ridwan, tentu saja Pak Haji Imron jadi tertawa,


"Oalah, saya pikir Nak Ridwan ingat siapa laki-laki itu,"


Pak Haji Imron terkekeh.


Lalu Pak Haji Imron pun menyerahkan kertas undangan yang dipegangnya kepada Ridwan.


"Pak Haji Syamsul, mengundang saya."


Kata Pak Haji Imron kemudian ketika Ridwan telah mulai membaca tulisan yang terukir di atas kertas undangan berwarna biru dengan tinta berwarna perak itu.


Undangan dari Pak Haji Syamsul untuk Pak Haji Imron agar menghadiri acara lamaran putri bungsunya, Anisa Larasati dengan Wisnu Atmadja Bimantara, S,Ag, ME.


Ridwan terlihat terkesiap ketika membaca tulisan yang tertera di sana, meski itu hanya berlangsung sekejap saja, karena berikutnya Ridwan telah biasa lagi.


Meski hati tak bisa memungkiri bahwa masih ada sedih dan cemburu yang tersisa, namun Ridwan telah berusaha untuk ikhlas, legawa dan menyenangkan segalanya kepada Allah Ta'ala.


Sungguh jodoh, maut dan rezeki telah diatur sedemikian rupa oleh Allah, maka tak ada alasan bagi Ridwan pastinya, untuk merasa galau berkepanjangan.


Tentu saja, mungkin akan bisa Ridwan memaksakan memperjuangkan cinta dan mimpinya bersama Anisa.


Tapi, restu yang diraih karena terlalu dipaksakan takutnya akan menjadi masalah dikemudian hari.


Takutnya ada ujian besar di tengah jalan mereka berumahtangga, dan kemudian akan menjadi berimbas buruk untuk mereka semua.

__ADS_1


Dan yang pasti, tentu saja karena Ridwan merasa bahwa sakit dan luka hati keluarganya telah terlalu dalam, dan Ridwan tak mau mereka kelak akan terus mengingat luka itu ketika Ridwan tetap bersama Anisa.


**--------------**


__ADS_2